Berita Lembata

Stigma Masyarakat Berkurang, Penderita Kusta Berobat di RS Damian Lewoleba

Sosialisasi,edukasi dan penyebarluasan informasi yang benar tentang penyakit kusta menjadi kunci menghilangkan stigma terhadap penderita kusta.

Editor: Egy Moa
TRIBUN FLORES.COM/RICKO WAWO
Kegiatan bakti sosial pengobatan gratis kelompok KATAMATAKU Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di RSU Damian Lewoleba,Jumat, 29 Juli 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ricko Wawo

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA-Butuh waktu lama untuk menghilangkan stigma negatif masyarakat terhadap penderita kusta.

Sosialisasi, edukasi dan penyebarluasan informasi yang benar tentang kusta jadi kunci menghilangkan stigma terhadap penderita kusta. Setidaknya inilah yang dilakukan oleh para tenaga medis yang mengabdi di Rumah Sakit Umum (RSU) Damian Lewoleba beberapa tahun terakhir. 

Sebelum beralih menjadi rumah sakit umum, RS Damian sudah lama terkenal di NTT sebagai rumah sakit khusus orang kusta. Peralihan status menjadi rumah sakit umum juga jadi salah satu upaya manajemen untuk mengubah paradigma masyarakat tentang penyakit kusta.

Direktur RSU Damian Lewoleba, Sr dr. Felicitas Budiyawati, CIJ mengatakan stigmatisasi masyarakat terhadap penderita kusta kian berkurang. Ini tentu informasi menggembirakan menurutnya. Sebab dengan demikian, para penderita kusta tidak lagi malu untuk datang berobat ke RSU Damian. Hal ini terlihat juga dari ditemukannya kasus-kasus baru warga yang sakit kusta.

Baca juga: Diberhentikan Sepihak Yayasan,18 Guru Honor Lembata Minta Dukungan DPRD

Menurut dia, sejak Presiden Joko Widodo mencanangkan program eliminasi kusta, dinas kesehatan mulai rutin pergi ke desa-desa untuk melacak adanya warga yang terindikasi menderita kusta.

“Maka ditemukanlah pasien-pasien yang sudah lama menderita kusta maka seolah-olah kasusnya meningkat. Sebenarnya kasusnya tidak meningkat, tapi baru ditemukan,” ujar dr Felicitas di sela-sela kegiatan bakti sosial pengobatan gratis kelompok KATAMATAKU Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di RSU Damian Lewoleba, Jumat, 29 Juli 2022.

Dia menilai, keluarga dan penderita kusta juga sudah punya kesadaran untuk berobat. Stigma negatif masyarakat terhadap penderita kusta memang belum hilang sama sekali. Akan tetapi kondisinya sudah berbeda sekarang. Bahkan jauh lebih inklusif.

Jika dulu, penderita kusta akan dikucilkan dari masyarakat, ditempatkan di tempat khusus dan diawasi, maka sekarang para penderita kusta hidup di tengah masyarakat dan keluarga. Menurut Sr Felicitas, situasi ini akan sangat membantu proses kesembuhan pasien.

Baca juga: BREAKING NEWS: Seorang Ayah di Lembata NTT Diduga Garap Paksa Anak Kandung

Berdasarkan pengalaman, penderita kusta yang beraktivitas seperti biasa di tengah masyarakat dan hidup berdampingan baik dengan keluarga punya harapan hidup yang lebih lama. Sebaliknya, pasien yang dikucilkan dari keluarga dan masyarakat akan putus asa sehingga harapan hidupnya lebih pendek.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Gabriel Bala Warat menyebutkan pihaknya mencatat ada 202 kasus kusta yang pasiennya berobat di Lembata dari tahun 2018-2022.

Dari jumlah ini, ada 80 kasus warga yang tinggal di Lembata dan 122 kasus warga yang tinggal di luar Lembata dan tersebar di kabupaten lain di NTT. Sementara itu, Januari-Juli 2022, ditemukan sebanyak 20 kasus baru di Lembata.

Menurut Gabriel, ada tiga tantangan yang dihadapi tim medis Dinas Kesehatan di lapangan yakni pertama, stigma masyarakat terhadap penderita kusta yang belum hilang, kedua, masih ada penderita kusta yang menutup diri dan ketiga, kapasitas sumber daya manusia yang masih terbatas.

Berita Lembata lainnya

 

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved