Berita Manggarai Barat

Pengajar Sosiologi Fisip Undana,Kenaikan Tarif Masuk Taman Nasiional Komodo Terlampau Elitis

Keputusan pemerintah menaikkan tarif ke Taman Nasional Komodo diragukan apakah akan berdampak terhadap perkembangan populasi komodo dan konservasi.

Editor: Egy Moa
(SHUTTERSTOCK/Sergey Uryadnikov)
KOMODO - Komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT).(SHUTTERSTOCK/Sergey Uryadnikov) 

 Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Oby Lewanmeru

TRIBUNFLORES.COM,KUPANG-Kebijakan pemerintah menaikkan harga atau tarif tiket masuk ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) rP 3.750.000 pertahun dinilai terlampau elitis. Perubahan tarif masuk itu pun apakah bisa berdampak pada populasi dan konservasi atau tidak.

"Kebijakan menaikkan tarif itu terlampau elitis. Saya ragu, apakah hanya dengan menaikan tarif setahun, bisa menambah populasi komodo," kata pengajar Sosiologi FISIP Undana, Lasarus Jehamat, Minggu 31 Juli 2022.

Menurut Lasarus, pemerintah perlu belajar banyak dari masyarakat lokal di Pulau Komodo, Rinca dan juga  komunitas lain yang ada di dalam kawasan TNK.

" Jangan berdiri di balik konservasi lantas malu menarik dan membatalkan kebijakan yang tidak populis," katanya.
Dijelaskan, dirinya tidak terlampau mendapatkan pencerahan yang mumpuni dari Pemprov NTT terkait alasan menaikkan tarif masuk TNK.

Baca juga: Demo Tarif Taman Nasional Komodo Hadang Mobil Bupati Manggarai Barat dan Blokade Jalan

"Saya sih tidak terlampau mendapatkan pencerahan yang mumpuni dari Pemprov NTT terkait alasan menaikan tarif masuk TNK. Apa benar konservasi menjadi alasan utama? Deretan pertanyaan muncul di belakangnya," jelasnya.

Dia mempertanyakan, apakah solusi konservasi hanya dengan menaikkan tarif masuk dan menutup cara lain.
"Bagi saya, masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk tujuan  konservasi itu. Selain menggali model dan cara berdasarkan kearifan lokal masyarakat Komodo," katanya.

Dikatakan,ada langkah lain yang bisa ditempuh pemerintah,yakni bisa dengan cara membatasi jumlah pengunjung ke TNK

"Jadi ada langkah lainnya bisa ditempuh, yakni dengan cara membatasi jumlah pengunjung. Toh, pengelola yang tahu soal itu," katanya.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pergi Mancing, Remaja 13 Tahun di Manggarai Barat Tenggelam di Waduk Pantoara Lembor

Dikatakan, adanya aksi penolakan dari para pelaku pariwisata di Labuan Bajo itu bisa dipahami karena terkait dengan mata rantai produksi pariwisata.

"Saya kira bisa dipahami. Ini terkait mata rantai produksi pariwisata. Yang bisa ke sana kalau harganya naik itu kan hanya elite dan wisatawan mancanegara. Berapa sih jumlah dua elemen ini? Kalau jumlah wisatawan jelas berdampak pada hunian hotel, travel, transportasi dan lain-lain. Saya obyektif melihat hal  ini," ujarnya.

Dikatakan, kepentingannya ialah bahwa masyarakat NTT terutama di Manggarai Barat.

"Saya kira, yang dibutuhkan sekarang ialah kecekatan Pemprov NTT untuk mencari model lain konservasi," ujarnya.

Berita Manggarai Barat lainnya

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved