Rabu, 8 April 2026

Berita Sikka

Jual Ubi dan Kalapa,Warga Nelle Wutung Beli Air Bersih

Masalah klasik air minum bersih senantiasa mendera setiap musim kemarau bagi warga Desa Nelle Wutung, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, Pulau Flores.

Tayang:
Editor: Egy Moa
zoom-inlihat foto Jual Ubi dan Kalapa,Warga Nelle Wutung Beli Air Bersih
TRIBUN FLORES.COM/PAULUS KEBELEN
Warag Desa Nelle Wutung, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, berada di kebunnya, Selasa 30 Agustus 2022. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paulus Kebelen

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Masalah klasik air minum bersih senantiasa mendera setiap musim kemarau bagi warga Desa Nelle Wutung, Kecamatan Nelle, Kabupaten Sikka, Pulau Flores..

Penderitaan itu telah lintas generasi, namun tak ada tanda-tanda perubahan. Ketika musim kemarau datang, hadir juga kesulitan air minum bersih. Warga menjual berbagai komoditas mengumpulkan uang untuk  membeli air.

Theresia Da Costa (43), warga setempat menuturkan anggaran membeli air  lumayan besar mencapai ratusan ribu rupiah perminggu. Ia juga kesal lantaran pasokan air dari jaringan pipa PDAM tidak lancar.

"Ada bak besar di ujung kampung, keluar tiga kali seminggu. Tapi hampir satu bulan ini tidak lancar, padahal kita bayar air setiap bulan. Kami terpaksa beli air dari mobil tangki," ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi perkebunan warga, Selasa 30 Agustus 2022.

Baca juga: Wisata Flores, Menikmati Sensasi Air Panas Tanah Merah di Maumere Sikka NTT

Theresia tinggal bersama suami, anak dan mertuanya. Penghuni rumah dengan jumlah sembilan orang membutuhkan pasokan air yang cukup banyak.

"Suami saya petani. Dia biasa jual bambu, tembaku dan kelapa untuk belanja kebutuhan rumah, anak sekolah, termasuk beli air," jelasnya.

Dalam sebulan, Theresia harus mengeluarkan biaya Rp 300 ribu membeli dua bahkan tiga kali tangki air. Harga setiap satu tangki air itu Rp 120.000 sampai 150.000.

"Kami berharap air dari bak penampung lebih lancar. Biar dua kali seminggu juga tidak masalah," harapnya.

Baca juga: Harga Kuda di Maumere SIkka, Ada yang Harga Rp 12.500.000 Per Ekor

Selama ini, kata dia, mereka selalu tertib membayar tagihan iuran PDAM Rp 49.000 per bulan. Meski begitu, debit air semakin kecil membuat warga tidak bisa memenuhi kebutuhan masak, mandi dan mencuci.

"Kami pernah sampaikan ke PDAM karena sering kali biayanya lebih besar. Mereka bilang kalau harga tagihan sesuai dengan nominal di meteran. Padahal kran air keluarnya keci," katanya.

Wilfridus Yulianto (52), warga lain menyebutkan rumahnya hanya berjarak 20 meter dari bak penampung namun tak kebagian air.

"Letaknya di sebelah atas, tidak jauh. Tapi rumah saya tidak dapat, justru mereka lain yang dapat," ceritanya.

Baca juga: Melihat Kehidupan Para Frater SVD Unit Fransiskus di Maumere Sikka

Wilfridus menuturkan, sebagaian besar warga memiliki bak penampung. Bak itu digunakan untuk menampung air hujan. Namun saat musim kemarau,  warga hanya mengandalkan air tangki dengan harga yang mahal. Ia berharap ada solusi dari persoalan ini agar menghindari konflik antarwarga.

"Semua harus merata, jangan hanya sebagian yang dapat. Saya kasih lahan untuk mereka bangun bak tapi malah saya tidak kebagian air. Lama-lama bak ini saya tutup,"  ancam Wilfridus.

Berita Sikka lainnya

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved