Berita Sikka
Romanus Reklamasi Pantai Wuring Pasca Bencana 1992 Menghimpun Bekal Kelak DipanggiNya
Bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami 1992 masih kuat dalam benak Romanus Koda (72), warga pesisir Pantai Wuring, Kelurahan Wolomarang, Alok Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/TIMBUN-MATERIAL.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kebelen
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami 1992 masih kuat dalam benak Romanus Koda (72), warga pesisir Pantai Wuring, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka.
Tragedi bulan Desember itu menjadi catatan kelam lantaran banyak menelan korban jiwa. Warga juga kehilangan tempat tinggal setelah rumahnya rata dengan tanah. Duka itu masih melekat dalam benak.
Tiga tahun pasca tsunami, pemukiman warga pesisir serasa semakin menyentuh bibir pantai. Air laut sampai masuk rumah warga saat tiba musim gelombang.
"Sebelum bencana air lautnya agak jauh, tapi setelah bencana malah semakin dekat. Sekarang ini malah lebih dekat lagi," kata Romanus yang menceritakan pengamatannya, Senin 10 Oktober 2022.
Baca juga: Satlantas Polres Sikka Ungkap Sebab Lakalantas di Hoder
Menyaksikan kondisi demikian, terutama rumahnya hanya berjarak belasan meter dari bibir pantai, Romanus akhirnya membuat reklamasi daratan menggunakan material di sekitar lokasi.
Usaha menyelamatkan pemukiman dari terjangan ombak tak dibantu satu orang pun. Romanus bekerja sendirian sejak tahun 1995 sampai sekarang.
"Sekarang saya masih timbun pelan-pelan. Ada juga yang pakai sampah plastik dan batu-batu, baru timbun dengan tanah sampai rata," ceritanya.
Romanus menimbun material menggunakan gerobak kecil. Tak terhitung berapa banyak material yang berhasil diangkut setiap hari.
Baca juga: Korban Lakalantas di Hoder Sikka Bertambah, Keluarga Menangis Histeris
Romanus tak keberatan meski bekerja tanpa digaji dan hanya seorang diri. Dia termotivasi karena semuanya bagian dari amal dan ibadah ketika suatu saat dipanggil Yang Maha Kuasa.
"Saya sudah semakin tua, jadi mau cari apa lagi? Selain untuk anak dan cucu, ini juga bagian dari amal semasa saya hidup," katanya sambil tersenyum.
Dedikasi pria kelahiran 25 Agustus 1950 diparesiasi Pemerintah Kabupaten Sikka dan Pemerintah Provinsi NTT. Berulang kali Romanus menerima piagam penghargaan sebagai tokoh panutan yang peka terhadap lingkungan.
Sedikitnya sepuluh penghargaan dia simpan dalam map batik dengan kondisi sudah kusam dan sedikit sobek. Salah satu penghargaan itu dibubuhi tanda tangani Piet Alexander Tallo, Gubernur NTT dua periode (1998-2008).
Baca juga: BREAKING NEWS : Lakalantas di Hoder Sikka, Dua Orang Meninggal Dunia
Selain reklamasi daratan, ayah lima anak ini telah menanam puluhan ribu anakan bakau. Kini lokasi yang ia tanam sudah jadi hutan bakau yang rindang dan mampu menahan hantaman gelombang laut.
Berkat dedikasi tersebut, Romanus Koda layak dinobatkan menjadi pahlawan bagi banyak orang. Aksi konservasi lingkungan selama puluhan tahun belum membuatnya puas karena masih banyak orang yang belum mencintai alam.
"Banyak yang tebang pohon bakau secara sembarangan. Padahal itu membantu mebgurangi bahaya bencana," katanya.