Berita Sikka
Wisata Hutan Mangrove di Watubaing,Kabupaten Sikka, Retribusi Diganti Tanam Mangrove
Kawasan hutan bakau atau mangrove di Desa Watubaing,Kecamatan Talibura, Pulau Flores kini dikembangkan menjadi tempat wisata edukatif.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kebelen
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE-Kawasan hutan bakau atau mangrove di Desa Watubaing, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, kini dikembangkan menjadi tempat wisata edukatif.
Konsep wisata edukatif ini diprakarsai Wawan Duran (32) menyediakan ruang baca di atas jembatan kayu dan dari mahoni dan tiang bambu dengan panjang hampir 100 meter ke arah pantai.
"Rencananya akan ada tempat khusus untuk membaca. Kita usahakan setelah pengerjaan rampung seratus persen. Untuk jembatan saat ini tinggal 30 meter," ujarnya sambil memandu wartawan berkeliling, Senin 31 Oktober 2022.
Selain membaca buku, jelas Wawan, pengunjung juga diwajibkan menanam anakan bakau. Syarat itu menjadi upah pengganti retribusi karcis masuk wisata hutan mangrove.
Baca juga: Begini Kronologi Penemuan Mayat Seorang Pelajar di Pantai Nemita Sikka
Setelah menanam, nama-nama pengunjung akan dicatat lalu ditempelkan pada papan informasi sebagai bentuk apresiasi. Cara itu dinilai ampuh menggalang partisipasi banyak orang untuk merawat lingkungan.
"Kita siapkan anakan bakau. Mereka hanya diarahkan untuk menanam sebelum berfoto atau menikmati wisata mangrove," ucapnya.
Sepanjang jembatan kayu, kata Wawan, disiapkan tempat sampah yang dilengkapi tulisan bernada ajakan kepada wisatawan agar tidak membuang sampah sembarangan.
Wisata hutan mangrove ini diberi nama Klakat. Pengerjaannya baru dimulai pada bulan Agustus 2022. Progresnya sudah mencapai 80 persen dan ditargetkan rampung akhir tahun ini.
Baca juga: Warga di Sikka Temukan Dua Mayat pada Hari yang Sama, Ini Kronologinya
Wawan tertarik mengelola hutan mangrove sejak duduk di bangku kuliah pada salah satu perguruan tinggi di Kota Surabaya. Motivasi itu semakin memuncak lantaran hutan bakau tumbuh subur di belakang rumahnya.
Menurut dia, kawasan hutan mangrove di Kabupaten Sikka belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sambungnya, hutan mangrove sangat berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat.
"Kalau kita punya tempat wisata yang bagus dan menarik, pasti banyak pengunjung yang datang. Produk lokal disini pasti laris dan perputaran uang akan lebih lancar," ucapnya.
Upaya merawat hutan mangrove melalui konsep wisata mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Sikka.
Baca juga: Mau Kabur ke Surabaya Residivis Pencurian Ternak Ditangkap Tim Buser Polres Sikka
"Pak Kepala Dinas Pariwisata berikan support. Tiap tahun saya dan teman-teman merawat kawasan ini dengan menanam anakan bakau," kata Wawan.
Keindahan wisata hutan magrove kian digandrungi pengunjung, khususnya kalangan muda. Mereka meminta ijin mengambil beberapa foto di atas jembatan berlatar pepohonan rindang nan instagramable itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/HUTAN-MANGROVE-WATUBAING.jpg)