Hari Arwah Sedunia
Sejarah Hari Arwah Sedunia 2 November dalam Tradisi Gereja Katolik
Sejak awal Kristianitas, praktik dan tradisi memperingati dan mendoakan arwah telah berkembang di dalam Gereja melalui teks-teks liturgi awal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Romo-John-Eo-Towa-sedang-memimpin-misa-harian.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ria Mangkung
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Setiap Tanggal 2 November setiap tahunnya, Gereja Katolik sejagat merayakan hari arwah seluruh orang beriman.
Tentu, sudah menjadi kebiasaan orang Katolik pada umumnya, mendoakan para arwah yang sudah meninggal dunia merupakan bagian dari tradisi Gereja Katolik yang diwarisi turun-temurun.
Gereja Katolik merayakan Hari Arwah untuk mengenang dan mempersembahkan doa bagi semua orang beriman yang telah meninggal, dengan tujuan agar arwah yang sudah meninggal bergabung bersama para kudus disurga.
Mengutip Katolisitas, Gereja memperingati Hari Arwah tepat sesudah Hari Raya Semua Orang Kudus yang jatuh pada 1 November setiap tahun.
Baca juga: Pastor Paroki St. Yohanes Maria Vianney Magepanda Resmikan Gua Maria, Tempat Ziarah Baru di Sikka
Sejak awal Kristianitas, praktik dan tradisi memperingati dan mendoakan arwah telah berkembang di dalam Gereja melalui teks-teks liturgi awal.
Praktik mendoakan arwah telah dilakukan sejak Perjanjian Lama, tepatnya ketika Yudas Makabe mendoakan arwah orang-orang yang gugur dalam pertempuran melawan Gorgias (2 Mak 12:38-45).
St. Paulus pun berdoa bagi Onesiforus, kawan yang mengunjunginya di Roma (2 Tim 1:18). Pada abad ke-4, St. Yohanes Krisostomus, Uskup Agung Konstantinopel, berpesan dalam homilinya, “Baiklah kita membantu dan mengenangkan mereka [yang telah meninggal].
Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Ayb 1:5). Bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka.”
Pada abad-abad awal Kristianitas, nama-nama umat beriman yang telah meninggal dicatat pada plakat yang disebut diptych. Praktik mendoakan orang-orang mati menjadi tradisi Biara Benediktin sejak abad ke-6 dan dirayakan pada hari Sabtu sebelum Pentakosta.
Praktik ini bermunculan pula di Spanyol maupun Jerman. Pada tahun 1030, St. Odilo, Abbas Biara Benediktin di Cluny, menetapkan agar diadakan peringatan arwah setiap tahunnya di biara-biara ordonya. Tradisi inilah yang di kemudian hari diikuti oleh keuskupan-keuskupan di Eropa sampai menjadi peringatan universal Gereja.
Baca juga: Dinas PPO Manggarai Timur Alokasikan Mebeler Tahun 2022 untuk SMPN Satap Nonggu di Kota Komba Utara
Dasar teologis dari perayaan Hari Arwah tidak dapat dilepaskan dari ajaran Gereja bahwa arwah semua orang beriman belum disucikan sepenuhnya dan masih harus menjalankan penyucian agar dapat masuk ke dalam kegembiraan surga (KGK 1030). Proses penyucian ini disebut Gereja sebagai purgatorium – api penyucian (KGK 1031). Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati (KGK 1032).
Kita pun dapat merefleksikan mengapa Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus pada 1 November dan mendoakan semua arwah pada 2 November. Kedua perayaan tersebut menunjukkan suatu refleksi iman bahwa selalu ada ikatan kasih yang kuat antara yang masih hidup, yang sudah meninggal, dan yang sudah bahagia di surga.
Fungsi dari Doa Idulgensi pada Hari Arwah Sedunia.