Berita Lembata
Warga Lembata Keliling Cari Minyak Tanah, Ada yang Pulang Bawa Jeriken Kosong
Warga terpaksa berkeliling mencari ke semua pangkalan bahkan mengantre berjam-jam. Beberapa diantara mereka harus pulang dengan jeriken kosong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Antrean-warga-Kota-Kupang-NTT-yang-ingin-membeli-minyak-tanah.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ricko Wawo
TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA - Selain antrian panjang Bahan Bakar Minyak atau BBM bersubsidi di SPBU, masyarakat Kabupaten Lembata juga mengalami kelangkaan minyak tanah.
Kelangkaan minyak tanah ini sudah terjadi kurang lebih dua minggu belakangan.
Warga terpaksa berkeliling mencari ke semua pangkalan bahkan mengantre berjam-jam. Bahkan dari pengakuan warga, beberapa diantara mereka harus pulang membawa jeriken kosong.
Anastasi Perada (52), warga Kelurahan Selandoro mengaku kecewa karena stok minyak tanah di beberapa pangkalan tempat dia tinggal selalu kosong.
Baca juga: Cerita Nenek Benedikta, Penenun di Flores Timur Binaan Pertamina Raup Omzet Jutaan Rupiah
"Kemari suruh anak-anak sampai ke batas kota juga tidak ada, jo barusan mereka Kota Baru juga sama," kata Anastasia, Selasa (29/11) sore.
Hal yang sama dirasakan Len Paokuma, warga desa Waimatan di Tanah Merah. Dia mengeluh karena akhir-akhir ini ia sulit mendapat minyak tanah.
"Ada pangkalan tapi minyak terbatas jadi beli pun terbatas, harap pemerintah atur bagaimana supaya stoknya banyak," ujarnya.
Onesimus Sili, salah satu pengecer di Tanah Merah mengatakan, masalah kelangkaan sudah mulai dirasakan sejak pekan ketiga bulan November 2022.
Meski begitu, dia tidak pernah memanfaatkan kesempatan menaikan harga atau menjualnya dengan harga miring.
"Ikut het, 5.000 per liter pak, ini sesuai aturan dari sana," ucapnya kepada media, Selasa (29/11).
Dia menyebutkan, sejak alami kelangkaan, ia hanya bisa melayani 5-10 liter per orang setiap hari. Tidak bisa lebih.
Selaku pengecer, dirinya juga tidak tahu sampai kapan masalah ini bisa kembali normal sebab setiap hari kebutuhan masyarakat akan minyak tanah sangat tinggi.
Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah atau Setda Kabupaten Lembata, El Mandiri, ketika dikonfirmasi media, Selasa, 29 November 2022 menuturkan bahwa masala kelangkaan minyak tanah ini disebabkan karena adanya penurunan kuota secara nasional.
"Ada penurunan kuota secara nasional," ungkap El Mandiri singkat.
Tambah Kuota
Sebelumnya, Sales Area Manager Pertamina Nusa Tenggara Timur (NTT) Ahmad Tohir, mengatakan, pihaknya telah menemukan solusi untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya.
Pihaknya akan menambah kuota minyak tanah sesuai dengan persetujuan BPH Migas.
"BPH Migas telah menyetujui penambahan kuota minyak tanah pada 25 November 2022," kata Ahmad dalam jumpa pers di Markas Kepolisian Daerah NTT, Selasa (29/11/2022) petang.
Penambahan kuota itu, lanjut dia, disetujui setelah adanya komunikasi dan koordinasi antara pemerintah daerah dan BPH Migas.
Menurut Ahmad, kelangkaan minyak tanah di Kota Kupang terjadi sejak awal bulan November 2022.
Hal ini disebabkan oleh adanya pengurangan kuota dari BPH Migas sebesar 3,84 persen.
Akibatnya, warga pun kesulitan memperoleh minyak tanah.
Puncaknya, terjadi antrean panjang di sejumlah lokasi pendistribusian minyak tanah.
Setelah adanya kebijakan penambahan kuota, maka pihaknya berupaya menormalkan kembali pendistribusian minyak tanah kepada masyarakat.
"Selama ini distribusi minyak tanah di NTT per hari sebesar 200 kilo liter. Maka distribusinya digandakan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat saat ini," kata dia.
Ia pun menjamin kondisi segera normal karena Pertamina akan bekerja all out.
Ahmad meminta masyarakat tidak perlu panik karena Pertamina menjamin tidak akan ada kelangkaan minyak tanah menjelang Natal dan Tahun Baru.
Sebelumnya diberitakan, warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah.
Warga terpaksa mengantre di sejumlah pangkalan untuk mendapatkan minyak tanah. Sebagian warga kecewa karena tak kebagian meski telah lama mengantre.
"Sudah satu pekan lebih, kami susah mendapatkan minyak tanah," ungkap Yanti Mada, warga Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, di Kupang, Rabu (23/11/2022).
Yanti mengaku telah mencari minyak tanah di beberapa pangkalan di kelurahan lain. Yanti pun sudah mengantre di pangkalan depan sebuah ruko di Kecamatan Oebobo sejak pagi.