Misa Hari Rabu Abu
Mengenal Sejarah Hari Rabu Abu, Ritus Perayaan dalam Agama Katolik
Perlu diketahui bahwa hari Rabu Abu sangat melekat erat dalam Agama Katolik. Ritus perayaan ini wajib dilangsungkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Hari-Rabu-Abu-gambar.jpg)
TRIBUNFLORES,COM, MAUMERE - Banyak orang bertanya-tanya tentang apa itu hari rabu abu? atau Hari Rabu Abu muncul sejak kapan?.
Pertanyaan mengenai asal usul hari Rabu Abu ini tentunya sangat menarik untuk dibahas dan didalami sehingga tak menimbulkan persepsi yang salah.
Perlu diketahui bahwa hari Rabu Abu sangat melekat erat dalam Agama Katolik. Ritus perayaan ini wajib dilangsungkan tiap tahun.
Untuk itu dalam kaitan dengan posisinya yang sangat penting dalam Agama Katolik, simaklah Sejarah hari Rabu Abu di bawah ini;
Baca juga: Ibadah Sabda Hari Rabu Abu 22 Februari 2023, Urutan, Tata Cara dan Teks Lengkap
Sejarah Hari Rabu Abu
Diceritakan, Frater Aldo Sila SVD, kepada TribunFlores.com pada 19 Februari 2023, saat memimpin katekese atau pengajaran kepada anak-anak, Sejarah Hari Rabu abu sebenarnya dikembangkan hanya di Gereja Barat. Sedangkan, untuk Gereja Timur itu tidak, Rabu Abu bukanlah hari libur.
Dalam Tradisi Gereja barat hari Rabu Abu dikenal sebagai hari pertama Prapaskah. Berbanding terbalik dengan Gereja-Gereja Ortodoks (timur), Gereja Ortodoks memulai hari prapaskah di hari senin.
Hari Rabu Abu mulai ditetapkan sebagai hari puasa yang resmi pada abad ke 8. Hal ini dikarenakan pada waktu itu muncul dalam Sanctuarium Gregorian.
Pada awalnya, perayaan Prapaskah dimulai pada hari minggu. namun untuk menggenapi jumlah hari masa prapaskah menjadi 40 hari maka dipindahkanlah perayaan Prapaskah ke Hari Rabu.
Soal penggunaan abu pada perayaan tersebut, diadopsi dari perjanjian lama dimana abu melambangkan perkabungan, ketidakadilan, dan sesal atau pertobatan (baca Ester 4:1).
Dasar Biblis
Dalam kitab Ayub, kata Frater Aldo, di situ disebutkan "menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu" (Ayub 42:6). "Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.” (Dan 9:3).
Selain itu, dalam abad kelima sebelum masehi, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.
Yesus Sendiri juga menyinggung penggunaan abu: kepada kota-kota yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira, Kristus berkata, “Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu.” (Mat 11:21)," ucapnya.