Rabu, 6 Mei 2026

Berita Lembata

Abrasi Pantai SGB Bungsu Lewoleba Makin Parah, Warga Mengeluh

Menurut warga, jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju rumah warga sehingga mau atau tidak, warga akan berupaya memperbaikinya.

Tayang:
Penulis: Ricko Wawo | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Abrasi Pantai SGB Bungsu Lewoleba Makin Parah, Warga Mengeluh
TRIBUNFLORES.COM/RICKO WAWO
Peneliti Lingkungan Piter Pulang menjelaskan dampak perubahan iklim di Sekretariat LSM Barakat, Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Ricko Wawo

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA - Warga Kelurahan Lewoleba Utara mulai menimbun wilayah bibir pantai SBG Bungsu yang terkikis oleh air pasang.

Skop, cangkul, ember dan lainnya menjadi peralatan yang digunakan untuk menimbun bagian bibir pantai yang terkikis oleh air laut.

Bagian bibir pantai itu pula selama ini gunakan sebagai jalan untuk menuju belasan rumah warga yang ada diseberang.

Menurut warga, jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju rumah warga sehingga mau atau tidak, warga akan berupaya memperbaikinya.

Baca juga: Kapolres Lembata Ajak Masyarakat Kawal Pemilu Jujur dan Adil

 

Areal yang terdampak abrasi lumayan luas sehingga membutuhkan material yang banyak. Warga hanya mampu mendatangkan 5 truk pasir dan 1 truk batu.

Material tidak cukup, warga kemudian menambahkan limbah kayu untuk menggantikan batu.

Pada areal yang terdampak abrasi, warga menimbun batu sebagai penyangga lalu memasukan pasir. Pekerjaan ini dilakukan secara manual.

Salah satu warga Kelurahan Lewoleba Utara, Afilina Lasi Hibu mengatakan, sejak awalnya tinggal di lokasi ini, semuanya berjalan baik.

Namun pada Desember 2022, sedikit demi sedikit bibir pantai itu mulai terkikis sehingga jalan yang menjadi akses ke rumahnya terputus.

Jalan ini kemudian sulit untuk dilalui. Satu-satunya kendaraan bermotor yang bisa melewati jalan ini adalah sepeda motor. Tetapi berlumpur dan cukup berbahaya.

"Selama ini motor lewat juga jalannya sedikit saja. Sudah dua tahun truk tidak bisa lewat. Kalau pake motor salah sedikit maka masuk dalam laut," ungkap Afilina.

Kadang Afilina harus memutar melewati kebun miliki orang. Tetapi jalur alternatif itu sudah ditutup oleh pemilik kebun sehingga harus tetap melewati jalur bibir pantai yang terdampak abrasi.

"Paling susah itu kalau musim hujan lalu anak-anak harus pergi sekolah. Kita antar itu kadang sampai jatuh di dalam lumpur," jelas Afilina.

Warga kemudian mengadukan kepada Pemerintah Kelurahan Lewoleba Utara untuk segera memperbaiki jalur yang terletak di pantai SGB Bungsu, Kelurahan Lewoleba Utara, Kabupaten Lembata.

Sayangnya, sejak disampaikan pada bulan Januari 2023, pemerintah Kelurahan Lewoleba Utara hanya datang untuk mengambil gambar. Abrasi terus berlangsung dan warga terus merasakan dampaknya.

Warga Kelurahan Lewoleba Utara lainnya, Yuvensius Hautimu mengatakan, putusnya jalan ini sudah berlangsung dari bulan Januari 2023.

"Sehingga akses ke rumah kami tidak bisa kalau bawa material kasi turun di jalan baru pikul," ungkap Yuvensius.

Lanjut Yuvensius, ia tidak dapat membuka jalan baru karena lokasinya berbatasan langsung dengan tanah orang yang sudah ditanami pilar.

Menurutnya, wilayah sempadan harusnya 100 meter dari pasang tertinggi air laut. Namun hanya disisakan 8 meter dan 8 meter itu sudah kena dampak abrasi.

Pada Selasa, 04 Juli 2023, Yuvensius bersama puluhan warga mulai menimbun di jalan yang putus akibat abrasi pantai.

"Kerja ini inisiatif dari masyarakat, kami minta bantuan orang urugan. Cari kayu yang orang bekas sensor itu baru kami timbun. Abrasinya sekitar belasan meter tapi dengan kekuatan kami sendiri jadi kami belum tau bisa (selesai) atau tidak," jelasnya.

Yuvensius pun berharap pemerintah tidak menutup mata atas persoalan ini. Saat ini ia masih memikirkan bagaimana caranya mendapatkan material untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai oleh warga ini.

"Kami harap pemerintah bantu kami semen sedikit dengan batu dua tiga reit untuk tahan. Kalau kita pake kayu ini tidak sampai beberapa bulan" tutupnya.

Abrasi di pantai SGB Bungsu bukan merupakan hal yang baru. Sejak awal tahun 2000an, pantai ini biasa digunakan untuk bermain bola kaki, bola volly dan berbagai permainan lainnya.

Namun hari ini, hal semacam itu tidak dapat dilakukan lagi. Pohon-pohon yang dulu jauh dari bibir pantai satu per satu masuk dalam wilayah laut dan mulai tumbang.

Peneliti Lingkungan, Piter Pulang mengatakan, penyebab abrasi pantai SGB Bungsu harus dilihat dalam konteks Oseanografi lokal yang mana pantai itu berada pada simpangan arus yang cukup dekat dengan arus Watuwoko.

Arus Watuwoko memiliki tekanan arus bawah dan arus permukaan sangat tinggi sehingga mempengaruhi tekanan gelombang.

"Gelombang itu sangat berpengaruh dengan perubahan bentang alamnya. Hanya karena prosesnya berjalan lambat jadi kita pikir tidak tidak ada apa-apa. Nanti sudah besar baru kita lihat sebagai masalah. Padahal setiap harinya masalah," urai Piter.

Selain itu, di sekitar pantai itu tidak ada tanaman sejenis mangrove minor seperti waru yang dapat menahan laju abrasi.

"Meskipun pasir hitam di situ tapi minimal mangrove minor seperti waru harus ada. Misalnya di Mingar itu," jelas Piter.

Secara makro, perubahan iklim hari ini tidak dapat dihitung karena panas yang menyebabkan es di kutub mencair lebih tinggi suhunya dari pada panas yang membuat air menguap.

"Maka praktis air menumpuk dilaut. Es mencair terus tapi air (tanpa zat garam) dilaut tidak meguap. Nah hal ini juga yang perlu kita waspadai, apa lagi kita ini pulau kecil," jelasnya.

Piter pun berharap hal-hal yang kerusakannya nampak tidak masif ini perlu diwaspadai. Jangan menunggu kerusakannya sudah besar baru melihat hal ini sebagai masalah.

Piter pun mengingatkan, semua variabel di bawah kolong langit ini saling terhubung sehingga pemerintah atau masyarakat tidak melakukan hal-hal yang dapat mengundang bencana yang lebih besar lagi.

"Jika ingin melakukan sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan, pikirkan dampaknya baik-baik. Konten yang slow (perubahan perlahan-red) itu kadang kita tidak rasa tapi kita akan kaget kalau sudah jadi besar," tutupnya.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved