Senin, 13 April 2026

Berita Lembata

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid Hadiri Gelar Pangan Lokal di Lembata

Hal ini disampaikan langsung oleh penggiat budaya Lembata Abdul Gafur Sarabiti saat ditemui di Lewoleba, Senin, 21 Agustus 2023.

Tayang:
Penulis: Ricko Wawo | Editor: Hilarius Ninu
zoom-inlihat foto Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid Hadiri Gelar Pangan Lokal di Lembata
TRIBUNFLORES.COM/RICKO WAWO
Mama Anastasia Ina dari desa Hoelea menunjukkan olahan pangan berbahan dasar leye di salah satu lapak pameran kuliner, Selasa, 15 Agustus 2023.  

LAPORAN Reporter Tribun Flores.Com, Ricko Wawo

TRIBUNFLORES.COM, LEWOLEBA-Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Hilmar Farid dijadwalkan akan hadir dalam Gelar Budaya Pangan Lokal Masyarakat Adat (Gelekat) Lembata yang akan diselenggarakan pada 29-31 Agustus 2023.

Hal ini disampaikan langsung oleh penggiat budaya Lembata Abdul Gafur Sarabiti saat ditemui di Lewoleba, Senin, 21 Agustus 2023.

Festival pangan lokal yang pertama kali digelar di Lembata ini akan dilangsungkan di Taman Kota Swaolsa Titen, Kota Lewoleba. 

Gafur menerangkan festival yang diselenggarakan nanti akan mengusung tema ‘Kedaulatan Pangan Masyarakat Adat’ dan melibatkan para pandu budaya yang selama ini sudah bekerja keras menemukan dan melakukan kurasi objek pemajuan kebudayaan (OPK) di wilayah Kabupaten Lembata. 

 

Baca juga: Menjaga Leye dii Meja Makan, Seumur Hidup Perempuan Hoelea Lembata Tak Boleh Makan Nasi dan Jagung

 

 

 

Selain presentasi dan pameran ragam pangan lokal di Lembata, panitia juga menyelenggarakan dialog kebudayaan, pemutaran film dokumenter, dan lomba cerita rakyat usia sekolah dasar. 

Dia berujar Lembata memiliki kebudayaan yang sangat kaya yang diwariskan oleh leluhurnya.

"Soal pangan, soal ritual, soal tradisi bagaimana menghargai alam, bagaimana menghargai manusia, itu juga nilai-nilai yang ditinggalkan oleh leluhur untuk teman-teman menjaganya," ungkapnya. 

Menurutnya, budaya tidak saja berkutat pada ruang romantisme namun budaya pun dapat menjawab kebutuhan masa kini. Ia memberi contoh, stunting merupakan problem di Lembata saat ini. Namun sebenarnya, kekayaan alam baik di darat maupun laut Lembata dapat menjadi jawaban atas persoalan ini.

"Sebelum beras masuk, nenek-moyang kita kan makan makanan lokal. Beras kan sudah jadi makanan pokok tapi kita nggak punya, bagaimana memproduksi beras karena alamnya ngak mendukung. Sekarang kita lebih cenderung makan itu dan semua bergantung dari luar," kataya. 

Pangan dari luar akan sangat bergantung dengan daerah hasil. Jika terjadi gagal panen atau kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk mendistribusikan pangan maka masyarakat Lembata akan merasakan dampaknya.

"Kalaupun ada, jumlah hanya sedikit, supply and demand tidak seimbang maka ada kenaikan harga," tegasnya.

Dia harap potensi lokal seperti pangan ini bisa dioptimalkan sehingga bisa menggantikan, bersanding atau mendominasi produk dari luar. 

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved