Gempa Lembata NTT
Belasan Rumah Warga Desa Babokerong di Lembata Rusak Akibat Gempa
Pasca kejadian, ia dan aparat desa juga melakukan patroli untuk memastikan semua warga tetap aman dan tidak terjadi sesuatu hal buruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/RUMAH-RUSAK-Tampak-kerusakan-rumah-warga-Desa-Babokerong.jpg)
Ringkasan Berita:
- Gempa berulang merusak belasan rumah di Desa Babokerong, 2 di antaranya rusak berat
- Gelombang tinggi ikut memperparah kerusakan, termasuk talud yang rusak hingga 90 persen
- Warga masih bertahan di rumah, belum ada posko dan bantuan pemerintah belum tiba
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG – Belasan rumah di Desa Babokerong Kecamatan Nagawutun Kabupaten Lembata rusak akibat gempa bumi, Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 23.00 wita hingga gempa bumi yang melanda Flores Timur pada Kamis, (9/4/2026) pagi.
Kepala Desa Babokerong Mohamad Ismail mengatakan, kerusakan rumah itu setelah mendapat laporan dari warga, Kamis siang. Ia bersama aparat desa Babokerong telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi kejadian.
"Ada yang berat dan ringan. Dua rumah alami kerusakan berat," katanya, Jumat (10/4/2026) dihubungi dari Kupang.
Ismail mengatakan, kerusakan berat itu dialami pada rumah yang letaknya dekat dengan pantai. Guncangan gempa menyebabkan adanya patahan dan sewaktu-waktu bisa rubuh. Rumah lainnya, mengalami patahan dan kemiringan dan dinding rumah terdapat banyak retakan.
Baca juga: BPBD Flores Timur NTT Mulai Salurkan Bantuan Untuk Warga Terdampak Gempa
Bertahan di Rumah Masing-masing
Sementara itu, 14 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Ismail berkata, belum semua rumah warga dilakukan pendataan. Kemungkinan jumlah kerusakan akibat gempa bumi terus bertambah.
Ia mengatakan, gempa bumi sangat terasa. Jumlahnya lebih dari lima kali. Ismail menyebut, Pemerintah Desa Babokerong menyampaikan informasi untuk warga agar berada diluar rumah ketika gempa terjadi, dan memastikan bangunan tetap aman sebelum kembali.
"Saat ini sebagian besar warga masih bertahan di rumah masing-masing," katanya.
Pasca kejadian, ia dan aparat desa juga melakukan patroli untuk memastikan semua warga tetap aman dan tidak terjadi sesuatu hal buruk.
Ismail menjelaskan, letak Desa Babokerong yang berbatasan langsung dengan pantai membuat Desa ini rawan bencana, terlebih gelombang tinggi hingga rob. Jika dimusim hujan, desa ini sering mengalami banjir bandang.
"Biasanya saat terjadi gempa, biasanya diiringi gelombang tinggi yang masuk sampai ke pemukiman," katanya.
Akibat gelombang tinggi, kata dia, sejumlah rumah dan fasilitas umum seperti masjid hingga usaha desa sarang burung walet, gedung perpustakaan dan gedung perlombaan, mengalami kerusakan.
Ismail menuturkan, talud laut yang dibangun sebagai penahan gelombang pun kini telah rusak. Kerusakan itu juga disebabkan gempa bumi. Terbaru, akibat gempa bumi talud pada bagian area pekuburan umum rusak.
"Talud kurang lebih setengah kilo. Kerusakan sudah 90 persen. Akibat gempa kemarin, talud rusak. Kalau air pasang 3-5 meter, bisa masuk ke pekuburan umum," ujarnya.
Pihaknya hanya membuat talud darurat menggunakan kayu dan bebatuan agar gelombang tidak masuk hingga ke area pemukiman warga.
Dia menyebut belum ada pembentukan posko pengungsian. Demikian juga dengan tim dari Pemerintah Kabupaten Lembata belum turun ke lokasi kejadian. Ismail mengaku terus memberikan laporan ke Pemerintah Kecamatan dan Kabupaten tentang kondisi lapangan. (fan)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News