El Tari Memorial Cup Rote Ndao 2023
Kisah Pasutri Mengais Rejeki di El Tari Memorial Cup Rote Ndao
Perhelatan El Tari Memorial Cup Rote Ndao menjadi berkah bagi sejumlah warga di Kabupaten Rote Ndao. Mereka meraup ratusan ribu perhari di Rote Ndao.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Pasangan-Putri-Bengu-dan-Kresna-Lete-di-El-Tari-Memorial-Cup-Rote-Ndao.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ROTE NDAO - Perhelatan El Tari Memorial Cup Rote Ndao menjadi berkah bagi sejumlah warga di Kabupaten Rote Ndao.
Para penjual makanan ringan menjajakan dagangannya di sepanjang jalan menuju lapangan, baik di lapangan sepak bola Christian Nehemia Dillak maupun di lapangan sepak bola Paulina Haning Bullu Holoama.
Jika sebelumnya penghasilan mereka bisa dibilang pas-pasan, namun berbeda dengan selama El Tari Memorial Cup Rote Ndao digelar hampir sebulan ini.
Pasangan suami istri, Putri Bengu dan suaminya Kresna Lete juga ikut kecipratan berkah El Tari Memorial Cup Rote Ndao.
Baca juga: El Tari Memorial Cup Sukses, Bupati Rote Ndao Bersyukur Masyarakat NTT Sudah Mendukung
Mereka berjualan minuman sejak pembukaan El Tari Memorial Cup Rote Ndao hingga menjelang penutupan di dua lapangan setiap hari jika ada pertandingan.
"Kami jualan sejak pembukaan," ujar Putri saat ditemui di lapangan sepakbola Paulina Haning Bullu Holoama saat pertandingan antara Bintang Timur FC Atambua vs Biru Muda Perkasa (BMP) FC Flores Timur, Rabu, 30 Agustus 2023.
Penghasilan yang mereka peroleh dari berjualan minuman dingin dan kopi setiap kali ada pertandingan berkisar Rp 50 ribu-100 ribu.
Namun, apabila laga tim tuan rumah Perserond Rote Ndao, maka penghasilan mereka bisa mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.
Baca juga: Bintang Timur Atambua ke Final El Tari Memorial Cup Rote Ndao, Alberto Soares Top Skor Sementara
"Modal awal Rp 1 juta, kalau tim lain main, tidak bisa kembali modal tapi kalau Perserond main, itu baru bisa kembali modal dan sejauh ini sudah bisa kembali modal," ucap ibu dua anak ini.
Setiap kali pertandingan, sang suami setia menemani sang istri berjualan. Jika berjualan di lapangan sepak bola Paulina Haning Bullu Holoama, pasutri ini hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit untuk datang ke lapangan.
Namun apabila berjualan di lapangan sepak bola Christian Nehemia Dillak, maka keduanya harus menempuh jarak kurang lebih 3 kilometer dengan menggunakan kendaraan roda dua.
"Kami bisa dapat rejeki dari sini, harapannya Rote bisa menang dan juara 3," harap Putri.
Dari hasil berjualan minuman dingin dan kopi, Putri bersyukur bisa membantu orang tuanya dan bisa menambah penghasilan untuk digunakan keperluan sehari-hari mereka.
"Suami temani saya jualan setiap hari, ketong sonde malu, namanya juga cari nafkah jadi ketong sonde malu-malu," ujar Putri.
Justru sang suami senang jualan sang istri bisa ramai dan membantu menambah penghasilan.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News