Jumat, 15 Mei 2026

Berita Ende

Toleransi Katolik dan Muslim Ndona Ende Tergambar dari Motif Tenun Ikat

Kelompok Tenun Ikat Kapokale di Desa Manulando, salah satu yang terus merawat warisan itu. Tenun ikat itu sangat menarik dan indah dipandang mata.

Tayang:
Penulis: Egy Moa | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Toleransi Katolik dan Muslim Ndona Ende Tergambar dari Motif Tenun Ikat
TRIBUNFLORES.COM/EGINIUS MO’A
TENUN - Theresia Ngeni memperlihatkan kain tenun ikat Lawo Khabi yang diproduksi Kelompok Kapokale di Desa Manulando, Selasa 5 September 2023. 

TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Suasana keseharian yang damai, tenang dan kekeluargaan yang tinggi pemeluk Agama Katolik dan Islam pada masyarakat Desa Manulando di Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende, Pulau Flores bukan fenomena yang baru tercipta beberapa waktu belakangan ini.

Keseharian yang bersahaja itu telah terjalin ratusan tahun silam semenjak nenek moyang mereka ada.

Bahkan jauh sebelum masuknya agama-agama di Kabupaten Ende maupun Pulau Flores.
Kebersamaan itu tergambar dari Lawo Khabi, sarung tenun ikat kaum perempuan Ende Lio yang diwariskan sedari nenek moyang berlanjut sampai saat ini.

Adalah Kelompok Tenun Ikat Kapokale di Desa Manulando, salah satu yang terus merawat warisan itu.

Baca juga: OMK Paroki Misir Jemput Salib IYD Secara Adat, Ribuan Umat Ikut Prosesi Pakai Sarung Tenun

 

Motif Lawo Khabi tidak bisa memisahkan dengan adat dan budaya, kaum tua adat atau Mosalaki tidak bisa memisakan diri daripada warga setempat.

Kebersamaan itu terus dijaga dari nenek moyang sampai generasi saat ini.

"Lawo Khabi, turunan dari motif Ngajah, dalam gambar giwang dan daun. Dahulu Lawo Khabi hanya dipakai oleh para mosalaki atau keluarga bangsawan. Hanya saja saat ini telah bergeser, masyarakat yang lain yang punya ekonomi yang bagus bisa membeli dan memilikinya,” kisah Theresia Ngeni (74) pegiat tenun ikat Kelompok Kapokale, kepada wartawan Selasa siang di Ndona.

Kepala Desa Manulondo, Paternus Bagi mengakui motif Lawo Khabi menggambarkan keseharian hidup masyarakat setempat dalam persaudaraan dan kebersamaan.

Baca juga: Tenun Pantar Barat Diklaim Usia Satu Abad Dipamerkan dalam Festival Alor Dijual Rp 50 Juta

Hidup dalam satu atap rumah, ayah dan ibu berkeyakinan Katolik, kemudian ada anak yang menganut Katolik dan Islam atau sanak keluarga lain berkeyakinan Islam dan Katolik sudah berlangsung turun temurun.

“Itu memang sulit untuk dipisahkan, karena terikat kuat dengan hubungan darah. Di rumah ada peliharaan ternak babi dan anjing biasa saja. Dalam acara kebersamaan makan dan minum, semua duduk makan berkeliling. Hanya isi piring yang membedakannya. Itu tidak ada soal bagi kami di Manulondo,”ujarnya.

Kebersamaan dan toleransi itu, kata Paternus bukan hanya berlangsung semasa hidup, tapi terbawa sampai mati. Makam keluarga Katolik dan Islam berada berdampingan.

Desa Manulondo, letaknya tak jauh dari Istana Keuskupan Agung Ende dihuni oleh 1.312 jiwa dari 417 kepala keluarga. Mereka tersebar di empat dusun 10 RT. *

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved