Kasus HIV di Sikka
Kasus HIV dan AIDS di Sikka Tiga Besar Terbanyak di NTT
Kasus HIV dan AIDS di Sikka masuk kategori tigas besar terbanyak di Nusa Tenggara Timur. Kasus HIV dan AIDS harus diberantas secara bersama.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Pertemuan-kemitraan-lintas-sektor-Aids-Tuberkulosis-Malaria-ATM-dan-penyakit-menular-di-Sikka.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Penanganan Aids-Tuberkulosis-Malaria (ATM) dan penyakit menular lainnya di Kabupaten Sikka perlu melibatkan lintas sektor yang luas.
Hal itu perlu dilakukan karena ancaman bagi generasi sudah sangat jelas dan ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar. Oleh sebab itu, tidak bisa membiarkan sektor kesehatan sendiri melakukan penanganan dan pencegahan.
Hal itu disampaikan Program Coordinator SR Adinkes Provinsi NTT, Dr.dr. Hyronimus A. Fernandez, M.Kes di sela-sela kegiatan pertemuan kemitraan lintas sektor Aids-Tuberkulosis-Malaria (ATM) dan penyakit menular lainnya tingkat Kabupaten Sikka di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Sikka, Selasa, 26 September 2023.
"Jika sektor kesehatan sendiri, dia hanya bisa menyelesaikan 25-30 persen masalah, karena penyakit-penyakit itu sangat berhubungan dengan determinan lingkungan, determinan perilaku. Nah determinan lingkungan ini perubahannya tergantung pada intervensi sektor-sektor non-kesehatan jadi selama kita tidak menggerakan sektor-sektor non-kesehatan maka kita hanya berharap pada 25-30 persen hasil maksimal dari sektor kesehatan," ujar Dr.dr. Hyronimus A. Fernandez.
Baca juga: Kasus HIV dan AIDS di Sikka hingga 2023, HIV 22 Orang, Aids 32 dan 8 Meninggal Dunia
Dari data ATM dan penyakit menular lainnya yang dipaparkan Dinas Kesehatan, Hyronimus mengatakan, jika dilihat dari jumlah kasus HIV/Aids, Kabupaten Sikka masuk diurutan dua atau tiga terbanyak di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Kalau dari HIV/Aids, masih di urutan dua atau tiga provinsi, kalau malaria juga masih, walaupun sudah ke arah kuning tapi ada kecamatan yang masih merah, kalau TBC, seluruh NTT temuan kasusnya rendah, jauh dibawah target, kalau temuan kasusnya rendah, ya, kita obati, succsses rate tinggi, percuma karena cuma sedikit tapi kalau temuan kasusnya tinggi dan itu yang kita harapkan karena menurut teori, satu orang yang kena TBC, kalau tidak diobati, dia akan tularkan ke 1000 orang," jelas dr. Hyronimus.
Untuk DBD, berdasarkan data yang dipaparkan Dinas Kesehatan, lanjut dr. Hyronimus, secara epidemologi tahun ini seharusnya DBD jadi wabah tetapi kondisi itu sudah diantisipasi lebih dini dengan menggerakkan lintas sektor melalui para camat di Kabupaten Sikka.
"Jadi sektor-sektor non-kesehatan tidak usah urus pengobatan, urus saja kebersihan lingkungan, urus saja perilaku," tandas dia.
Dia juga mengatakan, melihat dan mendengar penjelasan tentang metode penanganan dan pencegahan ATM dan penyakit menular lainnya di Kabupaten Sikka dengan masih rendahnya kerja sama lintas sektor, dr.Hyronimus mengatakan tata kelola pemerintahan di Kabupaten Sikka belum berjalan dengan baik.
Baca juga: Kejari Sikka Segera Limpahkan 2 Tersangka Kasus Korupsi Dana TPG ke Pengadilan Tipikor Kupang
"Kita harus sama-sama bekerja mengatasi persoalan ini terkoordinasi melalui tim atau satgas atau apapun namanya dan diatur oleh Peraturan Bupati (Perbup)," tutup dia.
Sementara itu, Kepala Bapelitbang Kabupaten Sikka melalui Kepala Bidang PPM, Hironimus Laja mengatakan, trend terhadap Aids-Tuberkulosis-Malaria (ATM) di Kabupaten Sikka sejak tahun 2018 sampai dengan Agustus 2023, mengalami fluktuasi.
"Tetapi trend penurunannya itu tidak terlalu signifikan jadi besarannya masih sekitar 0,2 sampai 0,20 persen tetapi kemudian kadang dia naik sampai dengan 25 persen, itu terhadap kasus yang ditemui misalnya Aids, Tuberkulosis, Malaria, kenapa saya bilang kasus yang ditemui karena didalamnya harus discreening atau tes," jelas Hironimus.
Lanjut dia, dengan kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sikka menargetkan penurunan angka kasus ATM dan penyakit menular lainnya sesuai dengan Rencana Pembangunan Daerah (RPD) tahun 2024 sebesar 0,5 persen dari target 1,58 persen.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sikka juga menargetkan peningkatan angka temuan kasus TBC dan penurunan jumlah kasus HIV/Aids.
Untuk itu, kata Hironimus, lintas program dan lintas sektor harus sama-sama mempunyai komitmen dalam pengeliminasian ATM dan penyakit menular lainnya menuju Sikka 3 Zero tahun 2030.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News