Musim Kemarau di Manggarai
Petani di Manggarai Pasrah dengan Ancaman Gagal Panen
Kekeringan berkepanjangan berdampak ancaman gagal panen bagi warga Lingko Molo, Gendang Cara, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng
Penulis: Charles Abar | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/SAWAH-DI-MANGGARAI-1.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM,Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Kekeringan berkepanjangan berdampak ancaman gagal panen bagi warga Lingko Molo, Gendang Cara, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, kabupaten Manggarai.
Lahan persawahan dengan luas puluhan hektar di wilayah itu, tidak dialiri air sejak bulan Agustus 2023.
Ancaman itu sangat di rasakan oleh Basilius Banggut (63) warga Cara, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng.
Basilius mengatakan, kecil kemungkinan sawah miliknya di atas lahan kurang lebih satu hektar itu bisa bertumbuh dengan baik. Hal itu disebabkan karena satu-satunya sumber air dari tada hujan.
Baca juga: Kebakaran Hutan Lindung Egon Ilin Medo Sikka Terus Meluas, Petugas Buat Sekat Api
Lanjut Lius, kompleks kelurahan Lingko Molo memang hingga saat ini belum ada saluran pengairan yang permanen. Hal itu disebabkan tidak ada sumber air yang terdekat bisa menjangkau.
"Kami hanya mengharapakan air tadah hujan, karena hujan terlambat tahun ini, padi kami tidak bisa diharapkan lagi, karena sudah terlambat, sudah lewat masa pertumbuhan," ujar Lius saat temu di sawah miliknya, Senin 15 Oktober 2023.
Kondisi ini kata Lius, sangat mempengaruhi ekonomi keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya Ia harus bekerja serabutan dalam pemenuhan kebutuhan beras keluarga.
Keadaan seperti semakin memburuk, dengan harga beras yang kian melambung tinggi. Saat ini harga beras di pasar Inpres Ruteng menyentuh angka Rp.15.000. per kg.
Baca juga: Bupati Hery Bacakan Surat Cinta Umat kepada Gembala Saat Pentahbisan 8 Diakon Jadi Imam
"Ini situasi yang sangat buruk bagi kami petani dengan kondisi seperti ini ancaman kelaparan bisa sampai awal tahun 2024.Pemerintah harus buta mata untuk mengatasi kekeringan," lanjut Lius
Sementara Kepala Stasiun Meteorologi Frans Sales Lega, Manggarai, Decky Irmawan kepada, TRIBUNFLORES.COM, beberapa waktu lalu menyampaikan, kondisi saat ini memasuki masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan.
Kata Decky, puncak musim hujan diprediksi akan berlangsung pada bulan Desember hingga awal tahun baru.
"Saat ini masuk masa transisi sepanjang Oktober. Kemungkinan puncak musim hujan akan berlangsung Desember hingga Ferbruari tahun depan," kata Dicky
Lambatnya musim hujan tahun ini disebabkan dampak El Nino. Walaupun memasuki November curah hujan sedang akan terjadi di Manggarai bagian tengah dan Manggarai Selatan. Sementara untuk Manggarai bagian utara agak lambat.
"Untuk wilayah Manggarai bagian tengah kecamatan Langke Rembong, Wae Ri'i hingga Ruteng Lelak dan Rahong utara , sudah mulai turun hujan. Sama dengan wilayah selatan, Satar Mese. Sementara untuk wilayah Utara agak lambat," lanjut Dicky
Pemerintah kabupaten Manggarai menyadari betul ancaman serius akibat kekeringan, akan berdampak pada melonjaknya harga beras.
Selain melonjaknya harga beras, kemarau berkepanjangan juga berdampak pada ancaman gagal panen pada lokasi lumbung beras di Manggarai.
Pemerintah hingga saat ini, terus melakukan operasi pasar murah namun belum menyasar pada tingkat desa hanya berkutat di seputaran Kota Ruteng.(Cr2).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News