Sabtu, 11 April 2026

Festival Tedo Tembu Wesa Wela

Tarian Wanda Pa'u dan Gawi Perekat Warga Muslim dan Katolik di Pemo Kelimutu, Ende

Festival Tedo Tembu Wesa Wela digelar oleh Masyarakat Desa Pemo Kecamatan Kelimutu Ende Flores Nusa Tenggara Timur.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Tarian Wanda Pa'u dan Gawi Perekat Warga Muslim dan Katolik di Pemo Kelimutu, Ende
TRIBUNFLORES.COM / GG
TARIAN GAWI - Warga Kampung Pemo saat Menari Gawi di Desa Pemo, Kelimutu, Ende, NTT, Rabu 25 Oktober 2023. Tarian Wanda Pa'u dan Gawi Perekat Warga Muslim dan Katolik di Pemo Kelimutu, Ende 

TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Bunyi gong dan gendang menggema di Kampung Pemo, Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, NTT, Rabu 25 Oktober 2023.

Sejumlah warga mulai bergerak menuju tengah kampung. Tepat di depan rumah adat (Sa'o Pu'u) mereka berkumpul.

Beberapa laki-laki tua mulai maju di tengah membentuk sebuah lingkaran. Kaki-kaki mereka mulai dihentakan.

Pukulan gong dan gendang tambah meriah. Sementara para laki-laki dalam lingkaran mulai menari. Mereka menari Wanda Pa'u.

Baca juga: Menari Tanpa Alas Kaki, Keintiman Masyarakat Pemo dengan Alam saat Tarian Wanda Pau dan Gawi

 

Saat menari, mereka memegang selendang khas Lio. Selendang-selendang itu lalu diberikan kepada beberapa warga yang sedang menonton.

Warga yang mendapatkan selendangpun langsung maju dan menari. Tradisi itu sudah diwariskan sejak turun temurun saat menari di wilayah itu.

Saat itu mereka menari dalam rangka ritual adat menyambut musim tanam.

Rabu pagi merupakan hari kedua rangkaian festival bertajuk Tedo Tembu Wesa Wela.

Tarian Wanda Pa'u dan Gawi yang digelarpun meriah. Tak hanya orang beragama Katolik yang ikut, tapi juga umat beragama Muslim ikut menari.

Tarian itu merupakan simbol perekat persaudaraan disana. Hampir tak ada sekat mereka menjalin kekerabatan.

Apalagi Kampung Pemo hidup dengan multikurtural. Keyakinan berbeda namum budaya sama dan memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya.

Kehidupan masyarakat yang aman dan makmur membuat suasana disana selalu tanpa riak-riak karena perbedaan. Budaya menjadi akar hidup mereka sehingga selalu menyatu dan terus memupuk kebersamaan.

Tanpa Alas Kaki

Pagi itu mereka menari di atas tanah lapang yang berbatu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved