Minggu, 10 Mei 2026

Berita Manggarai

Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth

orasi ilmiah ini dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Tayang:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng, saat membawakan Orasi Ilmiah pada momen wisuda tahun 2023 di Kampus UNIKA St. Paulus Ruteng beberapa hari yang lalu. Orasi ilmiah berjudul: Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Simaklah orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng.

Orasi Ilmiah ini dibawakan pada momen wisuda tahun 2023 di Kampus UNIKA St. Paulus Ruteng beberapa hari yang lalu.

Orasi Ilmiah ini bertajuk; Habitus Wisudawan: The Stars Down to Earth.

Simak selengkapnya, orasi ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Maksimilianus Jemali, S.Fil.,M.Th, Dosen UNIKA Santu Paulus Ruteng di bawah ini;

Baca juga: Unika Ruteng Gelar Aneka Kegiatan Menyambut Dies Natalis dan Wisuda

 

***

‘The stars down to earth’ merupakan gagasan kritis-konfrontatif tentang identitas dan entitas manusia modern yang dipopulerkan oleh Theodor W. Adorno, seorang filsuf dan sosiolog paradigmatis asal Jerman.

Identitas sebagai “the stars” adalah proyeksi popularitas yang tidak hanya menjadikan seseorang selalu merasa sentral dari antara orang-orang lain tetapi juga mengharuskan orang-orang lain untuk tertuju pada sentralitas dirinya.

The stars dilihat sebagai kesepakatan yang dianggap sempurna tentang cara-cara hidup yang mapan dengan fenomena kultus pada popularitas semu.

Adorno mengkritisi identitas the stars yang dianggap sebagai representasi kehidupan ideal dan menutupi kesadaran kritis. Oleh karena itu, Adorno melihat kehidupan tidak hanya berkutat pada kemapanan tetapi mesti keluar dari kemapanan dan menemukan pemahaman yang mendalam tentang realitas yang sebenarnya.

The stars down to earth adalah ungkapan stimulatif-provokatif sekaligus ajakan transformatif untuk terus bergerak kepada kenyataan-kenyataan periferik yang barangkali sering diabaikan dan bahkan dipolitisasi. Hal itu sejalan dengan gagasan Pierre Bourdieu yang menekankan transformasi habitus seseorang dari sentral menuju periferi atau atau dari hal-hal yang dianggap besar kepada sisi-sisi terkecil.

Seremoni wisuda merupakan rute transformatif yang tidak hanya menempatkan para sarjana dan ahli madya sebagai sentral tetapi juga merupakan aktor-aktor baru yang siap menciptakan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Esensi tradisi wisuda adalah memperingati pencapaian akademik wisudawan dan memberikan penghargaan atas usaha keras mereka dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Melalui penghargaan ini, status kesarjanaan dan ahli madya menjadi habitus modern yang senantiasa melekat dalam berbagai posisi dan eksistensi mereka.

Kesarjanaan adalah rumah keberadaan (the house of being) mereka. Melalui habitusnya, wisudawan menginternalisasi nilai-nilai dan praktik-praktik baik yang diklaim sebagai keyakinan akan kebenaran. Nilai-nilai tersebut diyakini sebagai referensi primer yang terus dilakukan terus-menerus dalam membangun kehidupan bersama.

Dengan kata lain, praksis kehidupan wisudawan tidak bisa dilepaspisahkan dari habitus yang membentuk identitasnya. Habitus menggambarkan secara tendensius tindakan dan reaksi mereka dengan orang-orang yang mengitari mereka.

Seremoni wisuda selalu menghadirkan apresiasi, motivasi, dan progresi. Universitas dan masyarakat mengapresiasi kerja keras wisudawan yang sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih gelar kesarjanaan dan ahli madya.

Ada yang memperoleh nilai “cum laude”, sangat memuaskan, dan memuaskan. Namun di sisi lain, kampus dan masyarakat juga menyematkan sejumlah motivasi di pundak para wisudawan.

Para wisudawan mesti mampu menjadi tulang punggung kemajuan dan peradaban, kesejahteraan, dan kebaikan bersama. Mereka mesti merealisasikan prestasi akademiknya.

Mereka adalah “the stars” yang berani keluar dari menara gading kemapanan intelektual dan sekaligus berani membumi, “down to earth”. “Down to earth” menjadi rapresentasi lain dari keberanian untuk melepas segala arogansi intelektual dan serentak bersikap inklusif pada potensi yang berbeda.

Inklusivitas tidak hanya menyangkut keterbukaan tetapi lebih dari itu; kesediaan membiarkan orang lain masuk ke dalam ranah kita dan memungkinkan kita untuk masuk ke dalam ranah orang lain.

Wisudawan adalah progresor-progresor baru; agen-agen perubahan dan kemajuan nyata yang membuat masyarakat Manggarai Raya menjadi lebih baik.

Di dalam benak masing-masing mereka terpampang sebuah progresi, ideal kemajuan nyata: bagaimana cara mereka untuk menjadikan Manggarai sebagai “the great Manggarai, for a better Manggarai”; Manggarai yang cerdas sumber daya manusianya melalui praksis pendidikan bermutu.

Manggarai yang manusia cerdasnya sangat mencintai kebudayaan dan warisan leluhur serentak terbuka terhadap kebhinekaan nasional dan global. Manggarai yang manusia cerdasnya terus menukik dalam berbagai perubahan positif seperti angin yang terus bergerak atau ombak yang selalu bergelora.

Mereka tidak cepat untuk berhenti atau lambat untuk bergerak. Mereka adalah generasi optimis yang menjadikan Manggarai Raya ini “bolek loke, tampang ranga” bukan “boke loke, rango ranga”.

Meraih prestasi “cum laude” dari masyarakat merupakan ukuran prestasi nyata. Wisudawan tidak bisa dilepaspisahkan dari eksistensi masyarakat yang terikat dengan aktivitas yang dilakukan secara spontan dan berulang-ulang, dan juga yang menginternalisasi nilai-nilai tertentu sebagai bagian dari kebenaran partikular.

Wisudawan dianggap terbaik kalau betul-betul mewujudkan keilmuannya dalam masyarakat dengan berpegang pada nilai-nilai transformatif, kolaboratif, dan berkarakter. Ketiga pilar ini akan berjumpa dengan konteks kehidupan masyarakat yang kompleks dan plural.

Kompleksitas dan pluralitas berangkat dari kondisi masyarakat yang sudah hidup dalam dinamisitas dan fleksibilitas. Apa yang terjadi akan selalu tidak sama pada waktu yang berbeda.

Oleh karena itu, habitus wisudawan adalah bagian dari transformasi yang dinamis. Hal itu relevan dengan konsep habitus. Meskipun habitus bertahan lama namun tidak berarti bersifat eternal atau tidak berarti tidak bisa berubah (unchangeable). Habitus bukanlah konsep yang statis karena ada dialektika relasi antara wisudawan dan realitas aktual yang terbuka terhadap perubahan-perubahan.

Perubahan tidak hanya berpijak pada situasi sekarang. Perubahan selalu berhubungan dengan masa lalu dan masa depan. Durabilitas dan transposibilitas memiliki tendensi kepada proyek masa lalu menuju masa sekarang dan memaknai masa kini menuju masa depan.

Para wisudawan adalah ada yang sadar, yang eksis dalam waktu, dan selalu memiliki pertanyaan akan kesadaran tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di sini, Bourdieu melihat habitus sebagai sejarah yang terikat karena disposisi yang terjadi pada saat sekarang memiliki basisnya pada pengalaman masa lalu.

Dunia sekarang diperhadapkan dengan berbagai fenomena yang bisa saling berkaitan atau bisa juga saling bertentangan. Oleh karena itu, dunia membutuhkan wisudawan (sarjana dan ahli madya) abad 21 yang memiliki pemahaman yang kuat tentang teknologi modern, pemanfaatan media-media digital, dan kemampuan berpikir kreatif dan menciptakan solusi inovatif.

Selama proses perkuliahan, wisudawan telah dibekali oleh UNIKA Santu Paulus Ruteng dengan modal IPTEK (hard skills) dan juga etos kerja (soft skills). Etos kerja yang tinggi memastikan bahwa wisudawan dipercaya dan dihormati dalam lingkungan personal dan sosial.

Kemampuan ini memungkinkan wisudawan untuk berkontribusi secara signifikan dalam memecahkan masalah global. Salah satu influencer kenamaan menulis di akun Instagramnya, “Banyak orang kaget ketika ada temannya yang biasa-biasa saja secara akademik sukses kariernya, kenapa? Karena ternyata ada kecerdasan yang tidak ada nilainya di raport, tidak ada nilainya di ujian nasional, dan tidak ada nilainya di ijazah.

Yaitu apa? Kecerdasan softskill. Apa itu? Berani, percaya diri, pantang menyerah, daya juang yang tinggi, motivasi tinggi, pandai bergaul, komunikatif, adaptif, dan yang terpenting adalah mereka memiliki akhlak dan sikap yang baik. Untuk itu bagi hari ini teman-teman yang ingin sukses milikilah kecerdasan soft skills ini karena dengan kecerdasan ini, anda akan mudah diterima orang lain, anda akan punya banyak teman, anda akan mudah bergaul dan bisa bekerjasama dengan orang lain.

Untuk itu jangan hanya fokus pada kecerdasan di raport (ijazah) tetapi juga fokus pada kemampuan softskills kita. Berlatih terus dan terus berlajar di manapun kita berada.”

Habitus wisudawan adalah keterampilan untuk bekerja dalam tim dan kemampuan berkolaborasi dengan beragam individu dari beragam latar belakang.

Mereka tidak hanya terkonsentrasi pada karakterisasi relasi terhadap yang lain tetapi juga komitmen yang konsisten melalui tindakan yang dinamis. Mereka tidak hanya sampai kepada konsensus; menyepakati hal yang sama tetapi juga dinsensus; menghargai perspektif berbeda dalam pendekatan beragam.

Kapasitas atau kemampuan ini memungkinkan wisudawan untuk memanfaatkan kekuatan kolektif dalam mencapai tujuan bersama. Mereka mendorong kolaborasi yang seimbang dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan seluruh teamwork.

Wisudawan dapat memainkan peran kunci sebagai pemimpin masa depan berkarakter dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, politik, bisnis, budaya, dan masyarakat. Mereka dapat mempengaruhi kebijakan publik serta mempromosikan perkembangan berkelanjutan di berbagai sektor.

Apa yang terjadi pada hari ini adalah salah satu pencapaian luar biasa di atas puncak akademik. Namun, seorang akademisi harus kembali turun ke dasar untuk meraih puncak-puncak prestasi berikutnya.

Seremoni hari ini adalah meterai publik yang menyematkan pada Anda sekalian “bukan” hanya status kesarjanaan atau ahli madya “tetapi” seorang sarjana dan ahli madya yang betul-betul “ahli” di bidang masing-masing. Anda sekalian adalah bintang-bintang yang hari ini membumi. Anda tidak sendirian karena Tuhan akan selalu menyertai perjalanan intelektual Anda selanjutnya, Happy graduation! Your dreams come true. Believe in yourself and your abilities, and You will create a future that is beyond your wildest dreams.

“karenanya marilah kita bergembira (Gaudeamus Igitur)”: (wisudawan, senat dosen, dosen, tendik, dan undangan dipersilahkan berdiri lalu menyahut yel-yel berikut dengan suara gemuruh)

Vivat academia,
Vivant Professores,
Vivat membrum quodlibet,
Vivant membra quaelibet,
Semper sint in flore!

Hidup UNIKA Santu Paulus Ruteng!
Hidup para dosen!
Hidup setiap wisudawan!
Hidup seluruh wisudawan!
Semoga kita selalu berkembang!

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved