Unika Santu Paulus Ruteng
Kesenjangan Digital Masih Jadi Hambatan Utama Pendidikan
Teknologi yang seharusnya menjadi alat dalam menyukseskan proses Pendidikan justru belum dapat dimanfaatkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Empat-Mahasiswa-Unika-Ruteng-5.jpg)
Ringkasan Berita:
- Banyak sekolah di Indonesia, terutama di daerah terpencil, belum memiliki akses internet dan listrik, sehingga teknologi belum optimal untuk pendidikan.
- Siswa dan guru harus berjuang ekstra, seperti berjalan kaki jauh atau menggantung ponsel di pohon, demi mendapat sinyal internet untuk pembelajaran daring dan tes akademik.
- Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur internet dan telekomunikasi agar proses pembelajaran merata dan akses digital tidak menjadi hambatan pendidikan.
Oleh Mahasiswa Unika Ruteng, Alberta Resatrin Sianti, Lasarus Hendro Mansi, Kresensiana Pahut dan Yetricaneri Santika
TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Di era digital saat ini yang berkembang sangat pesat, kesenjangan digital masih menjadi salah satu hambatan utama dalam Pendidikan.
Teknologi yang seharusnya menjadi alat dalam menyukseskan proses Pendidikan justru belum dapat dimanfaatkan dengan baik di beberapa daerah, terlebih di wilayah terpencil yang mengalami keterbatasan akses infrastruktur seperti jaringan internet yang kurang memadai dan akses jalan yang terbatas.
Berdasarkan laporan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen, 2025), menunjukkan bahwa “Hingga saat ini terdapat 27.650 satuan Pendidikan di seluruh jenjang PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah terdata belum memiliki akses internet dan 3.323 satuan Pendidikan yang belum memiliki akses Listrik.”
Data ini menunjukan bahwa kesenjangan digital masih menjadi masalah yang signifikan di Indonesia.
Baca juga: Inovasi Pembelajaran, Mahasiswa PBSI Unika Ruteng Latih Siswa SMK Widya Bakti Musikalisasi Puisi
Siswa Terpaksa Berjuang Demi Sinyal
Hal ini dapat dibuktikan dalam contoh kasus yang dilaporkan di https://www.kompas.com/(2025) yang diunggah oleh Tri Purna Jaya dan Reni Susanti, tentang Siswa SDN 104 Krui di Lampung sulit akses internet.
Dalam kasus ini, para siswa terpaksa berjalan kaki menapaki jalan kebun hingga naik bukit di dekat sekolah untuk mendapat sinyal yang bagus.
Selain itu, para guru harus menggantungkan ponsel yang dijadikan hotspot di dahan pohon untuk menghubungkan ke laptop saat pembelajaran daring.
Tidak hanya itu juga, terdapat kasus yang sama dilaporkan di https://indonesiasurya.com/(2026), tentang Siswa SD Inpres Atalojo, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT.
Dalam kasus ini, siswa dan tiga guru pendamping rela berjalan kaki dengan seragam merah putih, sejauh kaki 3 km untuk mencari sinyal internet di bibir tebing, demi mengikuti tes kemampuan Akademik.
Faktor Penyebab Kesenjangan Digital
Berdasarkan kedua kasus yang terjadi di Lampung dan Lembata, NTT ini dapat kita lihat bahwa pada kejadian-kejadian tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Pertama, kondisi geografis yang sulit. Kedua, sekolah tersebut terletak di daerah perbukitan dan dekat tebing sehingga sangat sulit untuk membangun infrastruktur jaringan.
| Opini: Memaknai Sabotase Diri Dalam Budaya Literasi |
|
|---|
| Opini: Jika Demokrasi Hanya Soal Mencoblos, Kita Kehilangan Banyak Hal |
|
|---|
| Opini :PENYATUAN IMAN, ILMU DAN PENGABDIAN MASYARAKAT MENJADI KESAKSIAN YANG HIDUP |
|
|---|
| Kaban Keuangan Flotim Mohon Nakes Tak Bangun Opini Liar di Medsos Soal TPP |
|
|---|
| Pemkab Sabu Raijua NTT Kembali Raih Opini WTP dari BPK RI |
|
|---|