Berita Flores Timur
Harga Cabai Makin Pedas, Warga Flores Timur Diimbau Tanam Sebanyaknya
Harga cabai di beberapa pasar besar dalam wilayah Kabupaten Flores Timur, beberapa bulan ini mengalami kenaikan cukup signifikan.
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Hilarius Ninu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Cabai.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA-Harga cabai di beberapa pasar besar dalam wilayah Kabupaten Flores Timur, beberapa bulan ini mengalami kenaikan cukup signifikan.
Di Pasar Boru, Kecamatan Wulanggitang, harga bumbu pedas dari beragam jenisnya itu makin mahal dan stoknya disinyalir berkurang. Misal cabai keriting yang sebelumnya Rp 65 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 80 ribu per kilogram.
Seorang pedagang, Ama Nurdin, mengaku khawatir lantaran stoknya mulai terbatas. Pria 51 tahun itu mendapat cabai sedang dari BPP Konga, Kecamatan Titehena.
"Iya, cabai keriting sudah Rp 80 ribu. Pedagang di sini kadang beli ke Sikka," katanya.
Baca juga: Info Pasar, Harga Cabai di Pasar Alok Turun, Warga dan Pedagang Maumere Senang
Lonjakan harga cabai juga terpantau di Pasar Larantuka. Harga cabai di pusat transaksi ekonomi di jantung Kota Reinha Rosari saat ini Rp 70 ribu per kilogram.
Jejeran pedagang kecil di sisi timur pasar lebih banyak menjual cabe kecil dengan harga Rp 5 ribu per gelas. Jumlahnya pun sedikit, ibarat bisa dihitung dengan jari.
"Harganya naik. Beli dari orang pertama saja Rp 50 ribu per kilo. Saya jual eceran," kata Maria Ema, pedagang sayur Pasar Larantuka.
Menurut Ema, stok cabai dari pengepul masih stabil. Namun, ia khawatir akan kesulitan lantaran jumlah permintaan pasti semakin tinggi jelang Natal 2023 dan Tahun Baru 2024.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Flores Timur, Siprianus Ritan, mengatakan harga cabai merangkak naik karena jumlah produksi menurun, sementara permintaannya naik drastis.