Rabu, 22 April 2026

Seksualitas Menurut Gereja Katolik

Pandangan Gereja Katolik: Seksualitas Itu Rahmat

Pornoaksi ini dapat dilihat di berbagai-bagai tempat seks komersial yang terjadi seperti hotel-hotel, kos-kosan, tempat-tempat sepi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Pandangan Gereja Katolik: Seksualitas Itu Rahmat
TRIBUNFLORES.COM/HO-IST
Yohanes Mario Viany Tmaneak, Mahasiswa Semester III Universitas Katolik Widya Mandira-Kupang. 

Gereja Katolik tentu memiliki kajian dan pandangan tersendiri mengenai seksualitas.

Seksualitas adalah Rahmat

Dalam kalangan Gereja Katolik Roma, seksualitas dilihat sebagai Rahmat yang diberi dan dicurahkan oleh Sang Pencipta. Pencurahan Rahmat itu dengan maksud dan tujuan agar manusia menjalin perkawinan antara laki-laki dan perempuan untuk melanjutkan keturunan (Beranak cucu dan berkembang biak), sebagaimana dilihat dalam Kitab Suci Kristiani Perjanjian Lama (Kejadian, 1:28).

Ini sekaligus mengandung perintah dari Tuhan bahwa seksualitas itu harusnya difungsikan seturut tujuannya yaitu mengambil bagian dalam penciptaan manusia dari Tuhan (Beranak cucu). Sehingga bagaimana mungkin pengeksploitasian seks itu jahat sekaligus dosa karena itu tidak sejalan atau berlawanan dengan maksud Tuhan sendiri.

Menurut Paus Paulus VI dalam ensiklik Humanae Vitae menuliskan bahwa “Aktivitas seksual, yang di dalamnya suami dan istri saling bersatu secara intim dan murni, yang melaluinya kehidupan manusia diteruskan, adalah ‘luhur dan berharga’ sebagaimana diingatkan oleh Konsili baru-baru ini.”

Sangatlah mungkin perkawinan (seks) itu suci dan luhur. Tetapi sangatlah mungkin perkawinan dan seks itu dosa bila pornoaksi itu dikedepankan demi pemuasan hasrat seks dan juga untuk memperoleh hasrat-hasrat lain (komersial, pameran).

Sangatlah mungkin bila dikatakan “seksualitas tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan manusia, melainkan untuk memenuhi keinginan semata.” Kebutuhan yang dimaksud adalah melanjutkan keturunan dan keinginan itu adalah pemuasan nafsu dan juga sarana pemenuhan finansia.

Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa hubungan seks memiliki suatu maksud (Kebaikan); dan melakukannya di luar pernikahan adalah bertentangan dengan maksud tersebut. sebagaimana dalam Katekismus Gereja Katolik, “Hawa nafsu adalah hasrat yang tidak teratur ataupun kenikmatan yang berlebihan atas kesenangan seksual. Kesenangan seksual itu secara moril tidak teratur ketika dicari untuk dirinya sendiri, dipisahkan dari tujuan prokreatif dan unitifnya.”

Dalam artian bahwa pernyataan ini mau mengetengahkan bahwa seksualitas manusia itu selain baik, namun juga buruk.

Buruknya dikarenakan tidak untuk mengambil bagian dalam prokreasi Tuhan (Seksualitas yang tidak sehat). Tidak sehatnya seksualitas itu seperti masturbasi, onani, komersial dan masih banyak lagi. Disini juga mau ditegaskan bahwa seksualitas itu juga berarti untuk menyatukan hati dan jiwa Perempuan dan Laki-laki sebagaimana Allah selalu bersatu dengan manusia
dan mencintai manusia.

Tubuh manusia itu merupakan representasi citra Allah sebagai Pencipta, sehingga tugas kita sebagai makhluk yang rapuh adalah menjaga citra itu sebagaimana tanda kehadiran Allah yang paling nyata. Tubuh bukan objek fantasi untuk melampiaskan penyeruakan daya seks yang tidak terkontrol.

Dari pemahaman-pemahaman seputar seksualitas ini, dapat ditarik benang merahnya bahwa Kalangan Katolik mengakui hakikat seksualitas adalah Rahmat dan Anugerah Allah yang sungguh luhur. Tetapi seksualitas itu juga jahat dikarenakan seksualitas itu dieksploitasi sehingga tidak searah maksud Allah yaitu bukan untuk beranak cucu, melainkan semata untuk pelampiasan
hasrat seks.

Yang mana, tindakan seks itu seharusnya diarahkan pada tujuan otentiknya yaitu untuk melanjutkan keturunan (Prokreasi), juga untuk menyatukan hati dan jiwa seorang perempuan dan laki-laki, tetapi malahan dibalikarahkan menjadi semacam sebuah permainan atau rekreasi saja. Apalah arti sucinya seksualitas itu bila perlakuan terhadap seksualitas itu semata-mata untuk memenuhi tuntutan hasrat.

Sekali lagi, seksualitas itu Rahmat Allah dan Suci!

Maka, hendaklah dan baiklah kita sebagai warga manusia yang beriman terutama sebagai remaja di era modern kembali melihat hakikat makna seksualitas yang dasarnya adalah suci. Terutama kita sebagai remaja katolik yang sedang berlabuh di dunia modern, harusnya kita mengangkat kembali kesungguhan makna dan tujuan seksualitas itu.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved