Berita NTT
Dinas Pertanian Lembata Masuk Top 10 Penghargaan dari LAN
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata masuk dalam top 10 atau 10 besar penghargaan dari Lembaga Administrasi Negara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Pertanian-dan-Ketahanan-Pangan-Kabupaten-Lembata.jpg)
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata masuk dalam top 10 atau 10 besar penghargaan dari Lembaga Administrasi Negara atau LAN.
Adapun penghargaan itu diterima Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata, Kanis Tuaq di Kupang, Rabu 8 Mei 2024. Asisten Pemerintahan Setda NTT Erni Usboko menyerahkan penghargaan itu di hotel Sotis Kupang.
Kanis Tuaq mengatakan, penghargaan itu merupakan kompetisi inovasi pelayanan publik antar instansi yang digelar sejak tahun 2023 lalu. Dia mengatakan, penghargaan itu merupakan perjalanan panjang hingga mendapat ganjaran demikian.
Sebelumnya, lomba inovasi dengan nama MADER APUNG atau Mandiri Ayam Petelur dan Ayam Pedaging berbasis ayam lokal itu, dilombakan di tingkat Kabupaten Lembata. Kanis Tuaq mengirim dua layanan inovasi yakni MADER APUNG dan Melati Mekar (membangun lahan tidur menuju kesejahteraan rakyat).
Baca juga: Maju Pilkada, Mantan Bupati Djafar Achmad Lirik Yoran dan Yustinus Sani Jadi Wakil
"Dari dua inovasi itu dilakukan perlombaan dengan beberapa syarat, kriteria yang kita penuhi semua. Sampai dengan terakhir kita dapat penghargaan hanya Mader Apung," kata dia di Kupang.
Putra Uyelewun itu menjelaskan, Mader Apung muncul karena ada persoalan di lapangan. Menurut dia, sebagian besar pasokan telur di Lembata justru didatangkan dari luar daerah. Setidaknya bisa mencapai 10 juta butir dalam setahun atau sama dengan 20-30 miliar uang yang keluar dari Lembata hanya untuk membeli telur ayam.
Padahal, kata Kanis Tuaq, Lembata punya potensi yang bisa mengembangkan ayam lokal untuk menghasilkan telur memenuhi kebutuhan masyarakat. Adanya inovasi itu paling tidak bisa menjadi rujukan siapapun bisa menggalakkan usaha produksi telur ayam di Kabupaten Lembata.
Hal yang sama juga di dorong pada ayam pedaging. Ia menyebut suatu saat Lembata harus mandiri untuk telur dan daging ayam. Jika itu terwujud maka Lembata juga mungkin dikenal dengan ciri khas baru yakni produksi ayam kampung.
Baca juga: Jadwal Kapal Ferry Yang Beroperasi di NTT Kamis 9 Mei 2024
"Kita harap MADER Apung direplikasi oleh masyarakat. Dan memang selama ini juga sudah berjalan. Ada kelompok ternak yang sudah melakukan pemeliharaan ayam petelur dan ayam pedaging kampung. Kita harap kita punya uang yang banyak keluar daerah itu tetap ada dan menjadi penggerak dan penumbuh ekonomi lokal," ujarnya.
Kilas Balik
Kanis Tuaq mengulas lagi ketika pertama kali menggerakkan inovasi itu. Sejak tahun 2018 ketika memimpin dinas itu, ia melihat ada peluang usaha untuk ayam petelur. Kanis Tuaq kemudian mencoba usaha kecil itu dari kantornya.
Dari 100 ekor yang diujicobakan, Kanis Tuaq melakukan ekspansi ke beberapa tempat lainnya di Kabupaten Lembata. Hasilnya, proyek contoh itu ditiru beberapa instansi dan desa untuk pengembangan.
"Sampai saat ini populasi ayam petelur kita sudah 18.000 sampai 25.000. Kita butuhkan 35.000-40.000 supaya kita bisa mandiri. Ini butuh perjuangan bersama," kata dia.
Baca juga: Tutup Pendaftaran, 4 Bacabup dan 7 Bacawabup Terjaring di NasDem Lembata
Selama ini seringkali terjadi dan menjadi kendala dalam memelihara ayam petelur adalah ketersediaan pakan. Kadangkala saat musim hujan, pasokan pakan terganggu. Akibatnya peternak mengalami kesulitan bahkan gulung tikar.
Ke depan, ujar dia, pemerintah harus melakukan intervensi terhadap ketersediaan pakan ternak. Tujuannya memberi kemudahan bagi pelaku usaha. Menyediakan pakan itu bisa menggunakan skema pemberdayaan ataupun alternatif lainnya.
Kanis Tuaq menerangkan, kualitas telur produksi dalam daerah dan luar daerah memiliki perbedaan yang mencolok. Telur ayam lokal punya rasa berbeda dan lebih segar serta potensi rusak lebih kecil. Berbeda ketika telur ayam didatangkan dari luar yang mempunyai rasa berbeda, disamping peluang telur rusak yang cukup banyak.
Dengan produksi telur ayam skala lokal maka paling tidak ada penyerapan tenaga kerja maupun intervensi sektor lain seperti kesehatan juga akan berjalan lebih mudah.
"Inovasi MADER Apung ini akan dilombakan ditingkat pusat. Karena dia masuk top 10 besar untuk provinsi. Nanti dilombakan tingkat pusat," kata Kanis Tuaq menambahkan. (fan)
Berita TRIBUNFLORES.COM lainnya di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.