Renungan Harian Katolik Hari Ini
Renungan Harian Katolik Kamis 6 Juni 2024, Manakah yang Paling Utama?
Mari simak renungan harian Katolik Kamis 6 Juni 2024.Tema Renungan Harian Katolik yaitu Manakah yang Paling Utama?
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Br-Pio-Hayon-SVD.jpg)
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Katolik
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Salam damai sejahtera untuk kita semua. Hal yang utama dalam hidup bagi setiap orang pasti berbeda satu sama lainnya. Namun hal yang paling utama tentu cuma satu yaitu akhirnya bisa hidup bahagia di dalam surga. Maka prioritas hidup kita itulah yang menentukan kualitas hidup kita sekarang dan yang akan datang. Dan kualitas hidup itu hanya ditentukan oleh pola hidup yang kita tunjukkan dalam hidup kita setiap hari.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Hari ini kita kembali lagi dengan permenungan kita dari teks bacaan suci pada hari ini. Dari bacaan pertama, kita akan mendengar nasihan dan pengajaran dari St. Paulus dalam surat keduanya kepada Timotius. Paulus menasihati kita dalam sabdanya: “Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menangkal diriNya sendiri.” Maka Tuhan itu selalu menjadi yang utama dalam hidup kita dan berusaha selalu untuk hidup layak di hadapanNya agar pada akhirnya mendapat kebahagian kekal di surga. Untuk mencapai hidup yang layak di hadapanNya, Yesus mengajarkan kepada kita tentang perintah manakah yang paling utama dalam hidup kita yang percaya kepadaNya. Pertanyaan ini muncul dari seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus: “Perintah manakah yang paling utama?” dan Yesus menjawab: “Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, itu Tuhan yang esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah kedua, ialah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah yang lebih utama daripada kedua perintah ini.” Dua perintah ini menjadi perintah yang paling utama dalam hidup kita yang percaya kepada Tuhan.
Perintah yang pertama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap: hati, jiwa, akal budi, dan kekuatanmu. Ini artinya mencintai dengan seluruh hidup kita. Dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi itu punya hubungan dengan internal diri dalam relasi dengann Tuhan. Sedangkan dengan segenap kekuatanmu itu punya hubungan dengan fisik atau faktor eksternal dari diri kita. Maka mengasihi Tuhan itu tidak sekedar sebuah tindakan hati, atau pikiran, atau perasaan belaka tapi pada saat yang sama juga adalah sebuah tindakan nyata dari tingkah laku kita yang dilakukan dengan kekuatan fisik kita yaitu satu tindakan nyata yang terlihat dari pola tindakan kita setiap hari. Konteks pemikiran inilah yang harus kita jalankan. Mengasihi Tuhan itu, serentak doa (hati, pikiran, iman) juga sekaligus aksi nyata kita.
Sedangkan mengasihi sesama itu, seperti dirimu sendiri. Artinya, mengasihi orang lain itu sama dengan bagaimana kita sendiri mengasihi diri dan hidup kita. Itu sama halnya dengan mengasihi tanpa ada balasannya. Jika kedua perintah ini dilaksanakan dengan baik dan dalam pengertian yang benar ini maka kita menjadi orang yang layak di hadapan Tuhan. Kita pun akan mendapat kebahagiaan kekal di surga. Itulah jalan yang paling utama untuk mencapai keselamatan di dalam surga. Namun praktek hidup yang kita jalankan kadang atau bahkan seringkali di luar dari kedua perintah yang paling utama ini.
Kita mengasihi Tuhan hanya dengan hati, budi dan jiwa kita yang terlihat dari kegiatan kerohanian kita, namun kita juga masih lupa bahwa mengasihi Allah itu juga harus nampak dalam tindakan nyata kita kepada sesama kita. Kita masih juga fokus mengasihi diri sendiri dan masih begitu sulit mengasihi sesama seperti diri sendiri. Mengapa? Karena kita masih dikuasai oleh ego kita sendiri. Kita masih berkutat dengan pola, saya mengasihi sesama supaya saya pun dikasihi atau mendapat imbalan yang sama. Maka marilah kita belakar untuk selalu berusaha untuk selalu menjadi layak di hadapan Tuhan dengan mengasihi Tuhan dengan segehap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Pesan untuk kita, pertama: setiap kita yang percaya kepada Tuhan selalu taat pada kedua hukum cinta kasih yang menjadi perintah yang paling utama dalam hidup kita. Kedua, maka tak ada cara lain selain menjalankan kedua hukum cinta kasih itu dengan baik dan benar. Ketiga, menjalankan kedua hukum cinta kasih inilah yang menjadi rujukan utama kita untuk menjadi layak atau tidak di hadapan Allah.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News