Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Harian Katolik Jumat 28 Juni 2024, Hanya Sebuah Sentuhan
Mari simak Renungan Harian Katolik Jumat 28 Juni 2024.Tema renungan harian katolik Hanya Sebuah Sentuhan.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.
Setelah Yesus turun dari bukit, banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah kepada-Nya seorang yang sakit kusta. Ia sujud menyembah Yesus dan berkata,
“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir!”
Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa sebagai bukti bagi mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Katolik
Meditatio:
Pastor John tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi ke sebuah
Kapela guna merayakan Ekaristi di sana. Kebanyakan umat yang hadir
berbadan sehat dan ada sebagian lagi adalah orang sakit. Dia sempat
ragu karena menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai pengalaman
medis apapun berhadapan dengan para penderita itu. Namun dia
berkesempatan menolong dengan memberikan Komuni Kudus.
Di sana, dia bertemu dengan seorang perempuan yang menderita suatu
penyakit yang parah yakni penyakit kusta. Pastor John tidak merasa jijik
saat melihat luka di tangan dan kaki perempuan itu. Beberapa jari sudah
puntun termakan penyakit itu. Pastor membersihkan dan membalut luka
di kaki dan tangan penderita kusta itu. Perempuan itu mulai menangis.
Karena cemas, pastor bertanya apakah ia telah menyakiti perempuan itu.
“Tidak”, jawab perempuan itu. “Ini pertama kalinya ada orang
menyentuhku dalam sembilan tahun.
Yesus baru saja selesai berkhotbah di atas bukit (Matius 5 - 7). Orang
banyak takjub akan pengajaranNya. Walaupun sudah selesai mengajar,
orang banyak masih berbondong-bondong mengikuti Dia. Salah satu di
antaranya adalah orang sakit kusta.
Di zamannya Tuhan Yesus, kusta
dipandang sebagai kutukan Tuhan. Selain hampir mustahil disembuhkan,
juga daya penularannya cukup tinggi. Budaya Yahudi kuno memiliki
pedoman yang ketat untuk mencegah penyebaran penyakit kusta. Hukum
Taurat menyatakan, “Ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan” (Im.
13:46). Oleh karena itu, orang yang terkena kusta mesti disingkirkan dari
kerumunan masyarakat. Mereka dianggap najis dan harus terasing.
Mengapa Tuhan Yesus menyembuhkan si kusta itu? Orang kusta itu
berani datang meski ditolak. Kemunculan orang kusta di depan Yesus
sungguh-sungguh mengejutkan. Menurut hukum, mereka tidak boleh
mendekat kerumunan dan dari jarak jauh harus mengutuki diri dengan
berteriak, “Najis… najis….” (bdk. Im 13:45).
Namun, tiba-tiba ia berada di
depan Yesus. Ia sujud menyembah Yesus dan meminta-Nya untuk
disembuhkan. Ia sujud menyembah dan berkata:"Tuan, jika Tuan mau,
Tuan dapat mentahirkan saya". Permohonannya singkat disertai iman
yang luar biasa. Ia tahu bahwa Yesus dapat melakukan segala sesuatu.
Yesus punya kuasa sehingga tidak ada yang mustahil bagiNya, termasuk
mentahirkan penyakit kusta. Pengakuan ini membuatnya berani dan tidak
ragu datang memohon kesembuhan.
Yesus mengulurkan tangan dan menjamah orang kusta itu. Sebuah
tindakan yang sangat mengejutkan di luar kebiasaan. Terhadap yang
dinyatakan najis dan menularkan penyakit, Yesus malah tidak segan
melakukan sentuhan. Secara hukum, tindakan Yesus ini dianggap telah
menajiskan diri-Nya sendiri. Yesus secara sadar mengambil risiko
melanggar hukum dan bersedia untuk menyembuhkan si kusta. Belas
kasih Yesus mengatasi ketentuan hukum yang berlaku. Dalam kekuatan
Sabda yang terucap dari bibir-Nya, Yesus telah mengubah yang kusta
menjadi tahir. Pemulihan ini secara otomatis telah mengembalikan
martabat si kusta.
Dia bebas dari anggapan sebagai orang terkutuk. Dia
pun dapat kembali hidup secara normal di tengah masyarakat.
Penderitaan fisik dan batin telah diganti dengan sukacita.
Kusta bisa diibaratkan dengan dosa. Saat dosa menjangkiti hati dan
pikiran manusia, relasi dengan Tuhan terhenti. Hubungan dengan sesama
terhalang. Manusia hidup dalam kesendirian dipenuhi derita yang tak
berujung. Tanpa sentuhan Tuhan, manusia berdosa tak bisa berbuat apaapa. Dosa begitu erat dan kuat membelenggu manusia. Dalam realitas seperti ini, ternyata Tuhan mau menghapus dosa kita secara total.
Tangan Tuhan diulurkan dan bergerak untuk menjamah kita. hanya
dengan sebuah sentuhan.
| Injil Katolik Hari Ini Jumat 28 Juni 2024 Lengkap Mazmur Tanggapan |
|
|---|
| Peringatan Santu dan Santa Pelindung Hari Ini Jumat 28 Juni 2024 |
|
|---|
| Kalender Liturgi Katolik Hari Ini Jumat 28 Juni 2024, Pesta Wajib St. Ireneus |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Jumat 28 Juni 2024, Aku Mau Jadilah Engkau Tahir |
|
|---|
| Bacaan Injil Katolik Hari Ini Jumat 28 Juni 2024, Pekan Biasa XII |
|
|---|