Berita Manggarai Barat
Kadin Indonesia Ungkap Penyebab Kemiskinan di NTT
Oleh karena itu, Kadin mendorong agar NTT menjadi tujuan investasi, sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Penulis: Berto Kalu | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/POSE-BERSAMA-Pose-Bersama-usai-kegiatan-Impact-Investment-Day.jpg)
Laporan Reporter TRIBUN-FLORES.COM, Berto Kalu
TRIBUN-FLORES.COM, LABUAN BAJO - Ketua Komite Tetap Energi Terbarukan Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Indonesia, Jaya Wahono, menyebut terbatasnya lapangan kerja menjadi penyebab utama kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Perlu diketahui masalah kemiskinan terutama di daerah-daerah tertinggal seperti di NTT ini akar utamanya adalah lapangan kerja (sulit),"ungkapnya usai kegiatan Impact Investment Day (IID) yang diselenggarakan Kadin dan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) di Labuan Bajo, pada 7-8 September 2024.
Karena terbatasnya lapangan pekerjaan, lanjut Jaya, banyak warga NTT yang memilih bekerja di luar daerah bahkan luar negeri. Oleh karena itu, Kadin mendorong agar NTT menjadi tujuan investasi, sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Baca juga: Barnabas Optimis BUMDes Sinar Maurole Mandiri Makin Maju Usai Ikut ToT
"Kami ingin mendorong NTT ini menjadi tujuan investasi dan masyarakat yang sudah melakukan bisnis di lingkungannya atau usaha di lingkungannya mau tinggal di NTT dan mempekerjakan saudara-saudaranya dan tetangganya dan juga masyarakat lokal sehingga tidak perlu lagi masyarakat NTT mencari pekerjaan di Jawa," jelasnya.
Ia meminta pemerintah daerah setempat untuk bekerjasama dengan Kadin membuka peluang investasi di NTT. Kadin, kata dia, siap mempromosikan peluang usaha dan bisnis di daerah tersebut untuk menarik investor.
"Kami imbau agar pemda juga berinteraksi dengan Kadin daerah secara intensif, tidak berhenti di acara-acara besar tapi juga selalu melakukan komunikasi yang aktif baik itu peluang investasi, peluang perdagangan maupun hal-hal lain," imbuhnya.
Monica Tanuhandaru, Ketua YBLL mengungkapkan pengalaman YBLL dengan bambu telah mempengaruhi pendekatan IID dengan memprioritaskan proyek-proyek yang memanfaatkan potensi alam lokal NTT, menekankan rantai nilai terintegrasi, pembangunan kapasitas masyarakat serta penciptaan pasar untuk produk berkelanjutan.
Baca juga: HMI Cabang Maumere Gelar Dialog Metal, Rektor Unipa Ajak Mahasiswa Rajin Membaca dan Menulis
"Pendekatan holistik ini menjadi blueprint bagi IID dalam memberdayakan impact driver dan menghubungkan mereka dengan pasar yang lebih luas melalui impact enabler," ujarnya.
Adapun IID yang diselenggarakan Kadin dan YBLL bertujuan untuk mendorong inisiatif restoratif dan berkelanjutan dengan menghubungkan para inisiator dengan investor maupun pemangku kepentingan lainnya.
Acara tersebut dihadiri ratusan orang dari dalam dan luar negeri itu dirancang sebagai wadah untuk menghubungkan penggerak dampak (impact drivers) seperti perusahaan sosial, organisasi komunitas, dan LSM, dengan pendukung dampak (impact enablers), termasuk investor, donor, dan organisasi filantropi.
IID ini bagian dari rangkaian kegiatan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024, dengan mengusung tema 'Championing Sustainable and Restorative Initiatives in Indonesia'.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News