Berita Labuan Bajo
Menepi Sejenak di Taman Nasional Komodo
Kapal Pinisi milik Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) membelah ombak meninggalkan pelabuhan Marina Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur
Penulis: Berto Kalu | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/wisatawan-menikmati-keindahan-alam-di-puncak-pos-satu-Pulau-Gili-Lawa.jpg)
"Di sini pengunjungnya tidak selalu ada setiap hari. Yang ada di sini adalah tamu-tamu yang melakukan diving (menyelam), sore harinya mereka naik ke bukit untuk melihat sunset dari puncak," kata Maksi.
Untuk sampai ke puncak bukit Gili Lawa kami harus berjalan menanjak (treeking) kurang lebih 20-30 menit melewati tiga pos. Kontur perbukitan kering dan birunya laut jadi pemandangan sepanjang perjalanan. "Tenang saja di sini tidak ada komodo," kata salah satu ranger BTNK yang mendampingi kami.
Jalan bebatuan, berkelok menjadi tantangan yang harus ditempuh menuju puncak. "Perjalanan yang menantang itu justru dapat memacu adrenalin dan menjadi sensasi tersendiri," ucap Hamid Abdulah, jurnalis media online di Labuan Bajo, sembari berjalan melewati saya yang terengah-engah.
Kami tiba di puncak Gili Lawa setelah hampir 30 menit berjalan. Pemandangan matahari terbenam atau sunset dari puncak Gili Lawa menghipnotis kami untuk mengabadikan lansekap terbaik.
Butuh Perhatian Semua Pihak Menjaga Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 hektare meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, Gili Lawa, Nusa Kode, dan pulau-pulau kecil lainnya.
Taman Nasional Komodo menjadi daya tarik utama pariwisata Labuan Bajo yang ditetapkan pemerintah sebagai destinasi pariwisata superprioritas. Itu fakta yang tidak terbantahkan.
Periode Januari-Agustus 2024 saja, sebanyak 213 ribu wisatawan sudah berkunjung ke sana. Di tengah tingginya kunjungan pelancong, ada ketakutan aktivitas pariwisata yang masif dapat merusak ekosistem dalam Taman Nasional Komodo yang telah diakui sebagai Situs Warisan Alam Dunia (World Nature Heritage Site) oleh UNESCO sejak tahun 1991 itu.
Satu sisi anggaran yang digelontorkan pemerintah pusat ke BTNK untuk mengelola kawasan tersebut terbatas. Tahun ini anggaran untuk BTNK Rp24 miliar. Hendrikus berargumen, dana untuk BTNK tahun depan diprediksi turun menjadi Rp 12 miliar.
Karenanya harus ada siasat untuk mengatasi keterbatasan anggaran itu, sebab idealnya cuan untuk pengelolaan kawasan taman nasional berkisar di angka Rp35 miliar sampai Rp45 miliar. Untuk mengisi jarak itu BTNK butuh dukungan dari semua pihak lebih khusus pelaku pariwisata di Labuan Bajo, salah satunya melalui dana CSR, dan batuan sarana prasarana pendukung lainnya.
"Kalau polanya seperti ini terus (jumlah kunjungan terus meningkat) dan akan melebihi 300 ribu ini sebenarnya warning (peringatan), kawasan itu sudah over tourism. Sementara kita BTNK didukung dengan anggaran yang terbatas. Kondisinya cukup menantang," ungkap Hendrikus.
"Untuk itu kami mulai merubah strategi supaya yang menggunakan kawasan itu mereka juga bisa memberikan dukungan untuk pengelolaan kawasan taman nasional Komodo, tidak ada pilihan lain. Tapi untuk instansi negara harus ada dasar hukumnya, tidak bisa kita meminta dukungan dan lain sebagainya tanpa ada dasar hukum atau kajian dari Kementerian Keuangan," lanjutnya.
Hendrikus mengibaratkan Taman Nasional Komodo sebagai 'periuk nasi' bagi semua masyarakat yang berkecimpung di industri pariwisata Labuan Bajo.
"Semua kita harus punya kepedulian terhadap taman nasional. Kalau tidak tanpa mereka sadari taman nasional bisa tidak memberikan dampak seperti kondisi saat ini, sementara pembangunan wilayah (Labuan Bajo) sudah terlanjur masif. Taman Nasional Komodo ini penyangga utama pariwisata Labuan Bajo," tandasnya.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News