Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Harian Katolik Senin 21 Oktober 2024, Waspada Terhadap Ketamakan
Mari simak renungan harian Katolik Senin 21 Oktober 2024.Tema renungan harian Katolik yaitu Waspada terhadap Ketamakan.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-LEWAR-SVD-Sosok-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi Allah bersabda kepadanya, Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu? Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Katolik
Meditatio:
Ada seorang siswa STM Nenuk Atambua Timor, terbilang anak yang
hemat uang saku. Dia berasal dari seberang pulau. Selama mengenyam
pendidikan di STM, dia bisa menghemat uang jajan. Dia tidak pernah
pulang kampung lebih senang tinggal di asrama. Simpanan uang sakunya
di pembina sebanyak Rp 500.000 tapi hampir tidak pernah digunakan
bahkan kalau ada kiriman uang dari orangtuanya selalu disimpannya.
Dan ketika menamatkan pendidikan di STM jumlah uang yang disimpan
sebanyak dua juta. Uang itu dipakai untuk perjalanan pulang kampung.
Hebat hemat sekali. Dia telah berlatih ugahari.
Lawan kata ugahari adalah ketamakan. Bicara soal ketamakan, tak jarang
dijumpai bahwa hubungan kekeluargaan retak karena antar saudara
saling berebut harta warisan orangtuanya. Yang satu merasa berhak
memiliki sawah warisan orangtua yang lebih luas. Tetapi yang lain juga
merasa lebih berhak. Bahkan ada adik tega membunuh kakaknya. Si adik
merasa diperlakukan secara tidak adil karena hewan di kandang yang
dipercayakan orangtua kepadanya untuk menjaga dan memelihara,
diambil begitu saja oleh sang kakak untuk urusan adat dan terakhir adat
perkawinan anaknya.
Daripada hanya menjadi hamba dalam keluarga,
lebih baik masuk penjara dan makan enak. Sang kakak dibunuh dan si
adik setelah kejadian itu menyerahkan diri di pihak keamanan setempat.
Ketamakan akan harta seringkali menjadi penyebab retak atau pecahnya
sebuah keluarga besar. Betapa ironis ketika sebuah warisan yang
ditinggalkan orangtua seharusnya disyukuri dan menjadi perekat
keluarga, tetapi malah menjadi sumber pertikaian yang tidak jarang
sampai berujung maut. Di sana ada ketamakan seseorang atas harta
kekayaan.
Penginjil Lukas pada hari ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus tentang
kekayaan. Tuhan Yesus menasihati, “Berjaga-jagalah dan waspadalah
terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah
hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta
kekayaan. Harta kekayaan sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dan
mencintai sesama/saudara. Orang harus bijak terhadap harta kekayaan.
Jangan sampai orang menjadi tamak dan diperbudak oleh harta
kekayaan. Orang harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena
ketamakan adalah salah satu dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang
bisa menyebabkan dosa-dosa yang lain.
Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas
materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang
tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah
penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9). Santo Paulus mengatakan
bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan
seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1
Tim 6:10). Hal ini mau menegaskan betapa seriusnya dosa pokok
ketamakan ini.
Kita seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa itu akan mampu
membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakekatnya apapun yang
kita punya bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya
Sang Pemilik segala sesuatu di muka bumi ini. Kita bisa belajar dari sikap
Ayub atas harta kekayaan.
Sekaya apapun kita, apalah gunanya jika kita
malah kehilangan kesempatan untuk memasuki kehidupan kekal bersama
Bapa di Surga? Bisakah kita menyuap Tuhan dengan harta kekayaan kita
di dunia ini, meski sebanyak apapun? Tidak. Justru kita akan kehilangan
segala kesempatan untuk selamat jika kita terus menghamba kepada
harta kekayaan. Harta yang ditimbun sendiri untuk kepentingan pribadi
hanyalah akan sia-sia. Menolong sesama, memakai harta kita untuk
memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kepada orang lain, itulah
yang sebenarnya harus kita lakukan. Itulah yang bisa membuat jiwa kita
damai dan bahagia.
Missio:
Kita mengembangkan sikap rela berbagi rejeki dan memperlakukan sesama dengan adil.
Doa: