Breaking News
Rabu, 13 Mei 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Harian Katolik Senin 21 Oktober 2024, Waspada Terhadap Ketamakan

Mari simak renungan harian Katolik Senin 21 Oktober 2024.Tema renungan harian Katolik yaitu Waspada terhadap Ketamakan. 

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Harian Katolik Senin 21 Oktober 2024, Waspada Terhadap Ketamakan
TRIBUNFLORES.COM / GG
PATER JOHN LEWAR SVD - Sosok Pater John Lewar, SVD.Mari simak renungan harian Katolik Senin 21 Oktober 2024.Tema renungan harian Katolik yaitu Waspada terhadap Ketamakan.  

Beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi Allah bersabda kepadanya, Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu. Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu? Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Katolik

Meditatio:

Ada seorang siswa STM Nenuk Atambua Timor, terbilang anak yang 
hemat uang saku. Dia berasal dari seberang pulau. Selama mengenyam 
pendidikan di STM, dia bisa menghemat uang jajan. Dia tidak pernah 
pulang kampung lebih senang tinggal di asrama. Simpanan uang sakunya 
di pembina sebanyak Rp 500.000 tapi hampir tidak pernah digunakan 
bahkan kalau ada kiriman uang dari orangtuanya selalu disimpannya. 
Dan ketika menamatkan pendidikan di STM jumlah uang yang disimpan 
sebanyak dua juta. Uang itu dipakai untuk perjalanan pulang kampung. 
Hebat hemat sekali. Dia telah berlatih ugahari.

Lawan kata ugahari adalah ketamakan. Bicara soal ketamakan, tak jarang 
dijumpai bahwa hubungan kekeluargaan retak karena antar saudara 
saling berebut harta warisan orangtuanya. Yang satu merasa berhak 
memiliki sawah warisan orangtua yang lebih luas. Tetapi yang lain juga 
merasa lebih berhak. Bahkan ada adik tega membunuh kakaknya. Si adik 
merasa diperlakukan secara tidak adil karena hewan di kandang yang 
dipercayakan orangtua kepadanya untuk menjaga dan memelihara, 
diambil begitu saja oleh sang kakak untuk urusan adat dan terakhir adat 
perkawinan anaknya.

Daripada hanya menjadi hamba dalam keluarga, 
lebih baik masuk penjara dan makan enak. Sang kakak dibunuh dan si 
adik setelah kejadian itu menyerahkan diri di pihak keamanan setempat.
Ketamakan akan harta seringkali menjadi penyebab retak atau pecahnya 
sebuah keluarga besar. Betapa ironis ketika sebuah warisan yang 
ditinggalkan orangtua seharusnya disyukuri dan menjadi perekat 
keluarga, tetapi malah menjadi sumber pertikaian yang tidak jarang 
sampai berujung maut. Di sana ada ketamakan seseorang atas harta 
kekayaan.

Penginjil Lukas pada hari ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus tentang
kekayaan. Tuhan Yesus menasihati, “Berjaga-jagalah dan waspadalah 
terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah 
hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” 
Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta 
kekayaan. Harta kekayaan sebagai sarana untuk mengabdi Tuhan dan 
mencintai sesama/saudara. Orang harus bijak terhadap harta kekayaan. 
Jangan sampai orang menjadi tamak dan diperbudak oleh harta 
kekayaan. Orang harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena 
ketamakan adalah salah satu dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang 
bisa menyebabkan dosa-dosa yang lain.

Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas 
materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang 
tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah 
penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9). Santo Paulus mengatakan 
bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan 
seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 
Tim 6:10). Hal ini mau menegaskan betapa seriusnya dosa pokok 
ketamakan ini.

Kita seringkali tergiur akan harta dan mengira bahwa itu akan mampu 
membuat kita bahagia. Kita lupa bahwa pada hakekatnya apapun yang 
kita punya bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya 
Sang Pemilik segala sesuatu di muka bumi ini. Kita bisa belajar dari sikap 
Ayub atas harta kekayaan.

Sekaya apapun kita, apalah gunanya jika kita 
malah kehilangan kesempatan untuk memasuki kehidupan kekal bersama 
Bapa di Surga? Bisakah kita menyuap Tuhan dengan harta kekayaan kita 
di dunia ini, meski sebanyak apapun? Tidak. Justru kita akan kehilangan 
segala kesempatan untuk selamat jika kita terus menghamba kepada 
harta kekayaan. Harta yang ditimbun sendiri untuk kepentingan pribadi 
hanyalah akan sia-sia. Menolong sesama, memakai harta kita untuk 
memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kepada orang lain, itulah 
yang sebenarnya harus kita lakukan. Itulah yang bisa membuat jiwa kita 
damai dan bahagia. 

Missio:

Kita mengembangkan sikap rela berbagi rejeki dan memperlakukan sesama dengan adil.

Doa:

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved