Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Katolik Kamis 13 Februari 2025, Menerobos Sekat
Mari simak renungan Katolik Kamis 13 Februari 2025.Tema renungan Katolik menerobos sekat . Renungan katolik disiapkan oleh Pastor John Lewar, SVD.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-LEWAR-SVD-Sosok-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Malah di situ ada seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat. Begitu mendengar tentang Yesus. Ibu itu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Ibu itu seorang Yunani berkebangsaan Siro-Fenisia.
Ia mohon kepada Yesus supaya mengusir setan dari anaknya. Yesus lalu berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu! Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Tetapi ibu itu menjawab, “Benar, Tuhan! Tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu Yesus berkata kepada ibu itu, “Karena kata-katamu itu, pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”
Ibu itu pulang ke rumah dan mendapati anaknya terbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Katolik
Meditatio:
Injil Markus (7: 24-30) hari ini bercerita tentang seorang perempuan dari
Siro-Fenisia yang datang kepada Yesus dan memohon agar Anaknya yang
sedang kerasukan dapat disembuhkan. Namun apa yang terjadi? Dia
tidak langsung memperoleh apa yang dimintanya. Mengapa begitu?
Karena dia berkebangsaan non Israel. Untuk diketahui, bangsa Siro
Fenisia dalam pandangan Yahudi adalah kafir, rendah dan najis.
Sebutan anjing adalah hal yang lazim dikenakan kepada orang-orang yang tidak
mengenal Tuhan. Mereka disamakan dengan anjing yang haram bagi
orang Yahudi. Apalagi dia adalah seorang perempuan. Perempuan tak
pantas menemui seorang rabi atau guru laki-laki Yahudi. Dia ditantang
oleh Yesus. Tapi lihatlah perempuan ini, apakah dia menyerah?
Tidak. Dia tidak putus asa. Dengan penuh kerendahan hati, dia terus meminta
sambil mengakui semua yang dikatakan Yesus kepadanya. Tanpa diduga,
semua perjuangannya, tidaklah sia-sia. Dengan perkataannya, dia
mampu meluluh-lantahkan hati Yesus. Akhirnya Yesus terkagum-kagum
dengan apa yang dikatakan perempuan itu.
Yesus menerima perempuan itu, walau diawali dengan ujian. Sikap Yesus
yang melampaui tradisi itu menunjukkan bahwa menolong manusia itu
lebih utama dari apa pun. Lebih utama dari tradisi, status sosial dan
aturan apa pun yang dibuat oleh manusia. Bahkan Yesus rela terusik
kenyamanan pribadiNya yang ingin bersembunyi dari kerumunan orang
banyak demi menolong perempuan “kafir” itu. Yesus menerobos sekat
duniawi, tembok pemisah demi menyembuhkan anak dari ibu yang teguh
imannya itu.
Terkadang dalam kehidupan kita sehari-hari, hidup tidak berjalan mulus.
Ada kalanya kita merasa gagal dalam hidup. Kita merasa gagal karena
segala perjuangan dan jeri payah seakan-akan terasa sia-sia dan tak
berguna. Kita berdoa kepada Tuhan, tapi sepertinya Tuhan tidak
mengabulkan permohonan kita.
Jika halnya demikian, kita dapat belajar dari Injil hari ini. Kita dapat belajar dari perempuan Siro-Fenisia. Kita dapat belajar bagaimana dia berjuang untuk memohon kesembuhan bagi
anaknya. Kita juga dapat belajar bagaimana bersikap rendah hati dan
percaya kepada Tuhan. Melalui kedua sikap inilah maka dia memperoleh
kesembuhan bagi anaknya.
Maka, dalam perjuangan hidup kita sehari-hari, hendaklah kita bersikap
demikian. Sikap yang senantiasa rendah hati dan tetap percaya akan
kuasa Tuhan. Tuhan pasti mendengar keluh kesah, permintaan,
permohonan kita. Yesus mengabulkannya.