Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Harian Katolik Kamis 20 Maret 2025, Jembatan Cinta dan Belarasa
Mari simak renungan harian Katolik Kamis 20 Maret 2025. Tema renungan harian Katolik jembatan cinta dan belarasa.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/RENUNGAN-HARIAN-KATOLIK-PATER-JOHN-LEWAR.jpg)
Lalu ia berseru, ‘Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini!’ Tetapi Abraham berkata, ‘Anakku, ingatlah! Engkau telah menerima segala yang baik semasa hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk.
Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, sehingga mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberangi!’
Kata orang itu, ‘Kalau demikian, aku minta kepadamu Bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan itu’.
Tetapi kata Abraham, ‘Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu, ‘Tidak, Bapa Abraham! Tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.’
Kata Abraham kepadanya, ‘Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati’.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Katolik
Meditatio:
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.
Ada seorang kaya raya. Punya rumah mewah, memiliki beberapa
kendaran, punya anjing penjaga bersama security, rumahnya dikelilingi
pagar tembok. Orang kaya itu mengajak anaknya ke daerah pedalaman.
Dari atas mobil mewah, mereka melihat alam dan pedesaan, sederhana
dan kurang makmur. Sesampai di rumah, sang ayah berkata:”
Bersyukurlah nak, kita ini orang kaya. Anaknya menjawab:” Bapa, yang
lebih kaya adalah petani di desa tadi. Rumahnya riuh ramai didatangi
tetangga, mereka berbagi buah mangga segar dan enak. Mereka hidup
aman dan damai, tak perlu pagar dan penjaga. Mereka bernyanyi dan
berpantun. Mereka sama-sama kenyang, sama-sama berkecukupan.
Rumah kita sepi; tidak ada tetangga, tidak ada tawaria, kita tidak berbagi
buah dan makanan. Mereka lebih kaya dari kita, bapa”.
Injil hari ini melukiskan bagaimana si kaya yang semasa hidupnya sudah
mengisolasi diri dengan segala kemewahannya bahkan tidak mampu
melihat Lazarus orang miskin. Pada gilirannya di dunia kematian, ia juga
terisolasi , tidak mendapat banyak sahabat, Malaikat atau Abraham. Tidak
ada seorang pun yang dapat menolong dan membebaskan, di antara
mereka ada jurang pemisah, jurang yang tak terseberangi.
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.
Sebuah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Jurang tetap ada antara
orang kaya dan orang miskin. Jurang itu tetap ada sampai kapanpun.
Tetapi yang menjadi lebih penting bagi kita adalah membangun jembatan
yang bisa menghubungkan kedua belah pihak. Jembatan penghubung
adalah cinta dan bela rasa. Kita yang diberkati kekayaan, diingatkan oleh
Yesus perlunya untuk berbelarasa dan berbagi kepada sesama yang
berkekurangan dan yang miskin.
Bagi kita yang mungkin belum beruntung, karena kemiskinan, kita perlu belajar untuk berjuang dan bekerja keras untuk membebaskan diri dari kemiskinan dan keterbatasan.
Cinta dan berbagi dalam belarasa akan memampukan kita untuk
membangun jembatan yang mengisolasi satu dari yang lain. Jembatan
cinta, kepedulian, belarasa, dan kerelaan untuk berbagi akan membantu
kita untuk menyambung atau setidak-tidaknya mendekatkan jurang
keterpisahan yang sering terjadi dalam kehidupan kita masing-masing.