Jalan Salib Tematis Katolik
Contoh Teks Lengkap Jalan Salib Tematis dalam Agama Katolik
Inilah contoh teks jalan salib tematis dalam Agama Katolik, dapat juga jadi pedoman saat melakukan jalan salib tematis.
Penulis: Nofri Fuka | Editor: Nofri Fuka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/UMAT-BTN-KOLHUA-Umat-BTN-Kolhua-saat-ikut-misa-dan-jalan-salib.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Berikut ini contoh teks jalan salib tematis dalam Agama Katolik.
Jalan Salib Tematis merupakan tradisi spiritual dalam agama Katolik yang dilakukan selama Masa Prapaskah, khususnya pada hari Jumat.
Tradisi ini melibatkan refleksi dan meditasi tentang peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Yesus Kristus selama perjalanan-Nya menuju Golgota, tempat Ia disalibkan.
Jalan salib dibuat agak lebih bervariatif. Hal inilah yang membedakan jalan salib tematis dan jalan salib yang biasa dilakukan pada hari Jumat Masa Prapaskah.
Baca juga: Daftar 14 Perhentian dalam Jalan Salib Katolik
Inilah contoh teks jalan salib tematis dalam Agama Katolik, dapat juga jadi pedoman saat melakukan jalan salib tematis.
LAGU PEMBUKAAN : Dalam Heningnya Bukit Zaitun
TANDA SALIB & SALAM
PENGANTAR & DOA PEMBUKAAN
Saudara dan Saudariku yang dikasihi Tuhan! Setiap tahun, pada hari Jumat dalam masa
Prapaskah, kita mengadakan devosi Jalan Salib. Hal ini telah menjadi sebuah rutinitas. Kita
diharapkan untuk memaknainya secara sungguh. Fatalnya, jika kegiaatan devosional ini kita
jalankan sebagai suatu kebiasaan BELAKA. Tidak punya makna! Sekedar datang dan ikut
membaca, berputar sesuai dengan arah gambar-gambar perhentian Jalan Salib Yesus, sambil
menanti stasi ke – 14 untuk segera kembali ke rumah masing-masing. Kita akan jadi bosan atau jenuh atas sesuatu yang rutin dan monoton.
Atas alasan di atas, mari kita menjadikan devosi Jalan Salib ini sebagai suatu peristiwa
IMAN yang MESTI KITA MAKNAI. Sambil tidak mengurangi makna dari setiap
PERHENTIAN, kita memilih untuk memberi waktu yang “lebih lama dan lebih intens” pada
LIMA PERHENTIAN. Saya yakin, kita bakal memetik makna yang lebih dalam dan lebih actual
bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama. Semoga!!!
P2. Saudara-saudariku, kita akan berlangkah bersama Yesus menuju Kalvari. Di atas puncak inilah kita dibawa kepada KESELAMATAN YANG PARIPURNA. Di atas puncak inilah, Allah
menunjukkan cinta-Nya secara total kepada manusia. Pada salib Tuhan, kita pandang dosa-dosa
kita yang terpatri di dalamnya.
Ya, dosa kesombongan, iri hati, cemburu, haus kuasa, haus harta kekayaan, haus popularitas, dan sebagainya. Marilah kita mengarahkan hati kita untuk memulai pendakian bersama Tuhan menuju Puncak Kalvari… Hening sejenak….
P1. Marilah kita berdoa:
U. Ya Allah yang Maha Rahim, Engkau telah mengumpulkan kami kembali kembali di tempat ini
untuk merenungkan Jalan Salib Putera-Mu. Kami mohon, curahkanlah rahmat Roh Kudus-Mu ke
dalam hati dan budi kami agar kami mampu memaknai Jalan Salib ini. Hindarilah kami dari
kecenderungan untuk menjalankan devosi ini hanya sebagai satu rutinitas belaka. Arahkanlah hati kami untuk menimbah makna terdalam dari peziarahan Salib bersama Putera-Mu.
Semoga, setelah sampai di puncak Kalvari, kami boleh turun kembali ke Yerusalem hidup kami dan menghidupi buah-buah permenungan atas Jalan Salib Suci ini. Buatlah kami mampu memikul salib kehidupan ini dengan penuh rasa tanggung jawab sambil tetap mencintai sesama dengan tulus tanpa ada persyaratan-persyaratan. Hindarilah kami dari persaan dendam, benci, cemburu dan iri hati. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan meraja, kini dan sepanjang segala masa. Amin!
PERHENTIAN PERTAMA: YESUS DIHUKUM MATI
P1. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukurk kepada-Mu.
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…
P1. Sebelum menjalani penderitaan. Yesus berdoa di Bukit Zaitun dengan peluh berlumur darah.
Di dalam doa, Dia bergumul, antara mempertahankan hidup atau pasrah dan rela mati untuk suatu KEBENARAN.
Bagi Yesus, KEHENDAK ALLAH BAPA-lah yang TERJADI atas-Nya!
P2. Yesus akhirnya ditangkap dan diadili. Pertama oleh Mahkama Agama atau Sanhedrin. (Luk
22: 66 – 71), yang terdiri dari tujuh puluh imam dan ahli-ahli Taurat serta seorang imam besar.
Kedua, oleh Pilatus. Pilatus, sesuai standart hukum waktu itu, tidak menemukan satu alasan pun
untuk menjatuhkn hukuman mati atas Yesus. Satu-satunya jalan adalah mencuci tangan untuk
tidak menaggung darah orang tak bersalah. Dan supaya tidak ada dalam tekanan rakyat dan para tua-tua dan ahli-ahli Taurat, Pilatus menjatuhkan hukuman mati atas Yesus. Hukuman ini diterima seorang diri, tanpa pembela, tanpa siapa pun. Semua pengikut-Nya berlari meninggalkan Dia seorang diri.
Apakah kita juga ikut menyangkal dan lari bersembunyi ketika Tuhan tengah diadili
oleh hakim dunia?
Mari kita hening sejenak….
P1. Di dalam hidup ini, sering ada banyak penghakiman dan penyangkalan yang kita lakukan. Kita sering menjadi hakim atas pasangan kita, atas anak-anak dan atas orang tua kita, tetangga-tetangga, anak buah/anak kerja atau bawahan, pimpinan agama atas umatnya, pimpinan sekolah atas dewan guru dan pegawai, dan rentetan litany penghakiman yang terjadi dalam Gereja dan masyarakat. Penghakiman itu dapat saja kita ekspresikan dalam kekerasan kata-kata makian, umpatan, kutukan, sumpah serapah, dll. Ya, kekerasan dalam rumah tangga menjadi warna khas model relasi keluarga jaman “now”.
P2. Dalam konstelasi politik dunia dan relasi antar bangsa, kita sering memberi kritik yang kurang berimbang bahkan terkesan primordial dan main hakim sendiri. Perang antara Israel dan Hamas dipolitisir dan dibawa ke ranah agama. Ada juga konflik yang terjadi sepanjang musim kampanye dan sepajang pelaksanaan Pesta Demokrasi di tanah air kita. Ya, mari kita hadapkan semua peristiwa di atas dengan peristiwa penangkapan, penghakiman, penderaan atau penyiksaan yang terjadi atas Tuhan kita Yesus Kristus. Kita pun bertanya, dimanakah posisi kita masing-masing?
Sebagai yang dihakimi? Atau yang turut menghakimi dan memberi kesaksian palsu? Mari kita
hening sejenak……
P1. Marilah kita berdoa…..
U. Ya Bapa yang Maha Rahim, lewat peristiwa penangkapan Yesus di taman Getzemani dan
peristiwa penghakiman atas Yesus di hadapan Mahkakah Agama dan Pontius Pilatus, kami
diajarkan untuk lebih rendah hati, kritis dan sabar dalam menanggung segala macam penghakiman yang dunia berikan atas diri kami masing-masing. Lewat peristiwa-peristiwa yang dialami Yesus di atas, kami juga belajar untuk lebih bijak dalam memberi cap atau penghakiman atas orang lain di sekitar kami, atas rekan kerja, atas bawahan, atas pimpinan atau gembala kami. Semoga Roh Kudus menerangi kami agar semakin hari kami semakin bijaksana di dalam menyikapi setiap model relasi di antara sesama manusia. Bantulah kami agar menjadi jujur dan lembut dalam bersikap dan memiliki hati yang senantiasa siap mengampuni sesama yang bersalah kepada kami.
Demi Tuhan kami Yesus Kristus, Dia yang lewat penderitaan-Nya hendak mengantar kami kepada kehidupan yang penuh kedamaian sebagai persiapan atas hidup yang kekal…Amin!!
P1. Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami…..
U. Allah, ampunilah kami orang berdosa ini.
PERHENTIAN KE – 4: YESUS BERJUMPA DENGAN IBU-NYA
P1. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukurk kepada-Mu….
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…
P1. Kisah perjumpaan Bunda Maria dengan anaknya Yesus dalam perjalanan salib menuju bukit
Kalvari, adalah kisah haru yang menggambarkan perjumpaan dua hati yang saling menyayangi
sebagai ibu dan anak. Apakah ini sesuatu yang pernah dibayangkan oleh Bunda Maria ketika dia
dengan tegar dan pasti menjawab : viat voluntas tua – terjadilah padaku seturut kehendakMu?
Apakah ini sudah merupakan sesuatu yang telah Maria lihat di dalam visi spiritualnya ketika
membawa anak itu untuk dipersembahkan di Bait Allah? Apakah ini merupakan perwujudan dari kata-kata profetis Simeon, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau
membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan
perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri-, supaya menjadi nyata pikiran
hati banyak orang.”? (Luk 2: 34 – 35).
Sebuah lagu Maria.....(dinyanyikan)
P2. Saudara/i-ku, setiap hari bahkan setiap saat, di antara sejuta wanita di atas muka bumi ini, tentu saja ada yang sedang gunda gulana, ada sedang menangis – meneteskan air mata duka cita, air mata karena dikhianati, air mata karena dipukul secara fisik, air mata karena ditelantarkan oleh anak kandungnya, dan lain-lain. Ya, kita ingat para wanita di jalur Gaza, di Ukraina dan di
beberapa negara di Afrika, terlebih para wanita yang sedang mengandung atau yang sedang
menyusui bayinya.
P1. Ya, kita ingat ibu kita masing-masing. Ibu yang tabah mengandung dan memelihara kita
selama sembilan bulan. Ibu menanggung segala macam perasaan pahit dan manis, yang akhirnya melahirkan kita dengan selamat. Kita beri hormat dan ucapan terima kasih yang tulus dan jujur kepada ibu kita masing-masing. Setiap kita mungkin memiliki pengalaman yang berbeda akan kasih ibu.
Namun satu yang pasti, ibu adalah sosok yang telah menciptakan surga bagi kita – dia
telah menunjukkan kita dimana surga itu – dia pula yang telah menunjukkan kepada kita
bagaimana mencapai surga itu. Hormat untukmu, ibu-ku….
P1. Marilah kita berdoa!
U. Ya Bunda Maria, engkau telah menunjukkan kepada kami hati seorang ibu yang sungguh setia
pada janji-janjinya. Engkau telah mengajarkan kami bagaimana menghadapi segala tantangan di
dalam hidup. Engkau selalu menyimpan segala perkara di dalam hati dan merenungkannya tanpa harus menggembar-gemborkan kepada dunia. Engkau senantiasa tabah menggendong si bayi mungil Betlehem, membesarkannya dengan setia dan bahkan tabah memangku jenazah Putera-Mu yang sudah tak bernyawa. Engkau adalah sosok wanita hebat yang patut kami teladani.
Bunda yang manis, doakanlah kami anak-anakmu di hadapan Puteramu yang setia memanggul salib. Doakanlah para wanita, para ibu teristimewa semua wanita dan ibu yang sedang dirundung dukacita dan kepedihan hidup. Daoakanlah kami umat manusia, semoga kami pun setia dan tabah memanggul salib hidup kami masing-masing.
Ya Bapa yang kudus, kami bersyukur ke hadiratMu karena Engkau telah menganugerahkan kami
sosok seorang ibu yang sejati – Bunda Maria. Semoga Engkau selalu mendengarkan doa-doa
pengaduannya tentang hidup kami umat manusia di dunia ini. Demi Kristus Tuhan dan pengantara
kami. Amin!
P1. Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami…..
U. Allah, ampunilah kami orang berdosa ini.
PERHENTIAN KE – 6: VERONIKA MENGUSAP WAJAH YESUS
P1. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukurk kepada-Mu….
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…
P1. Seorang wanita muda bernama Veronika sedang melangkah dan menuju ke kalayak yang
lagi berkerumun.
Veronika sangat terkejut ketika melihat wajah seorang pemuda babak belur
tak beraturan dengan darah mengucur deras keluar dari titik-titik tikaman mahkota berduri
yang dikenakan pada kepala Sang Pemuda itu.
Tergerak oleh perasaan iba berbalut belaskasih
yang mendalam, dia maju mendekat dan menatap dengan penuh haru wajah tampan berlumur
darah itu. Tiba-tiba tubuh Veronika terdorong oleh tangan kekar seorang algojo, namun dia –
wanita ayu ini, dengan sekuat tenaga melawan dorongan tersebut dan dengan nekat masuk ke
dalam lingkaran kerumunan para algojo. Veronika dengan sekejap dan spontan membentang
secarik kain di tangannya dan menyeka wajah.
P2. Ya, setiap tindakan cinta dan belaskasih yang dilakukan dengan berani dan sukarela tentu
saja diperhitungkan oleh Tuhan sendiri. Setiap tindakan cinta yang tulus tanpa pamrih
membuahkan kedamaian, kelegaan, kesembuhan dan penghiburan yang berarti bagi sesama.
Itulah yang dilakukan oleh Veronika.
Oleh karena tindakan cinta tak berpamrih itu, Tuhan Yesus mengganjari Veronika dengan lukisan wajahNya sendiri – wajah Allah yang menjadi manusia pada secarik kain yang telah menyeka darah dan keringat yang berlumuran di wajah Yesus.
P1. Ya, kita akan kehilangan orang-orang yang berhati Veronika – punhya hati yang peduli
pada nasib orang lain. Lebih bahaya lagi, kita akan terkotak-kotak sesuai dengan kepentingan
kepentingan golongan, kelompok etnik, agama, status sosial, pilihan politik atau tokoh-tokoh
idola kita masing-masing. Tidak ada lagi sikap saling mengampuni. Tidak ada lagi kesediaan
untuk menerima kekurangan dan kelebihan sesama yang lain.
Yang ada hanya keinginan untuk menang sendiri. Bahkan yang ada hanyalah harapan akan kejatuhan sesama yang lain yang berbeda pilihan dengan kita. Atas semua gejala kemerosotan nilai ini, marilah kita sandengkan dengan penderitaan Tuhan dan segala tindakan kasih yang Dia terima dari orang-orang tercinta dalam kisah Via dolorosa sambil berdoa agar kita kuat dalam menghadapi semua tantangan, rintangan dan godaan.
P1. Marilah kita berdoa!
U. Ya Tuhan – Bapa yang Maha Rahim, lewat tindakan Veronika, Engkau telah mengajarkan
kepada kami apa yang mesti kami lakukan terhadap sesama di sekitar kami, khususnya
terhadap semua yang sedang menderita. Kami bersyukur atas keteladanan Veronika dalam
cintanya yang tulus tanpa pamrih terhadap Putera-Mu yang sedang memanggul salib menuju
bukit Kalvari. Kami mohon, ajarilah kami untuk mencinta tanpa pamrih.
Mampukanlah kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami mampu membuka belenggu-belenggu yang mengikat kami dengan berbagai kepentingan dunia: kepentingan politik, fanatisme agama yang sempit, fanatisme suku atau etnik yang sempit, status sosil yang memisahkan satu dengan yang lain.
Berilah kami kelembutan hati dalam mendengarkan sesama di sekitar kami. Dan semoga
kehadiran dan tindakan kasih yang kami praktekkan di tengah dunia, senantiasa menjadi
tanda kehadiranMu sendiri bagi dunia. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami! Amin!
P1. Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami…..
U. Allah, ampunilah kami orang berdosa ini.
PERHENTIAN KE – 9: YESUS JATUH KETIGA KALINYA
P1. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukurk kepada-Mu….
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…
P1. Saudara dan saudariku, Via Dolorosa sedang menggelora. Panas Terik menyengat. Darah dan
keringat mengalir deras-mengucur di seluruh tubuh Putera Allah. Raga-Nya semkin lemah tak
berdaya. Syukur sudah, Golgota di sudah depan mata. Syukur karena kekuatan hampir habis,
kesanggupan berjalan semakin menipis.
Dia – Sang Mesias yang kemarin berkeliling sambil berbuat baik, membuat yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang bisu berbicara, yang kusta menjadi tahir… Dia akhirnya jatuh untuk ketiga kalinya. Ya, Matahari semakin tinggi, sinarnya menyengat terik membakar peluh. Raga nan lemah ini rubuh…rebah…. Rasanya tak dapat bangkit lagi.
Namun janji suci-Nya pada Bapa tak akan pernah dikhianati-Nya. Dengan tenaga yang
tersisa, diseret-Nya langkah kaki-Nya. Puncak penyaliban tinggal selangkah…..
P2. Yesus mengajarkan kepada kita hari ini bahwa kita semua kapan dan dimana saja bisa jatuh.
Yesus mengajarkan kepada kita untuk memahami kejatuhan pribadi kita masing-masing. Yesus
mengajarkan kepada kita untuk peduli dan membantu sesama yang jatuh. Bukan dengan
menceritakan, bukan dengan mencemooh, bukan dengan menggelengkan kepala dan memberi
senyuman sinis.
Bukan! Yesus mengajak kita untuk saling terbuka dalam cara yang santun.
Menghargai martabat orang lain. Membangkitkan sesama yang mungkin sudah putus asah dan tak mau lagi mengabdi pada Tuhan dan masyarakat. Yesus mengajak kita untuk saling memberi
kesempatan untuk BANGKIT BERSAMA dari kejatuhan kita…..
(lagu Yesus Tuhanku… Yesus Penebusku…)
P1. Marilah berdoa,
U. Ya Bapa, pengalaman jatuh sering membuat kami putus asah, malu, gengsi untuk bangkit lagi.
Kami mohon, berilahkan kami Roh Kudus-Mu agar kami senantiasa rendah hati dan siap sedia
untuk menerima kejatuhan kami dan rela bangkit untuk memulai sebuah perjalanan dengan
semangat yang baru sambil belajar dari pengalaman-pengalaman kejatuhan kami. Buatlah kami
rela menerima kejatuhan orang lain dan rela membantu mereka untuk bangkit lagi. Demi Kristus
Tuhan dan Pengantara kami. Amin
P1. Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami…..
U. Allah, ampunilah kami orang berdosa ini.
PERHENTIAN KE – 12: YESUS WAFAT DI KAYU SALIB
P1. Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukurk kepada-Mu….
U. Sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia…
P1. Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Gempa bumi terjadi di mana-mana, dan tabir bait suci terbelah dua. “Sesudah itu, Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci - ; “Aku haus!” Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam.
Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada
sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu , Kuserahkan nyawa-Ku” Lalu ia menundukkan
kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” (instrument IN SILENSIO….)
Puisi: Balada Penyaliban
P2. Yesus adalah anak Allah, Ia manusia tanpa dosa, Ia memegang teguh janji-Nya pada Bapa
meski sebagai manusia Ia sempat merasakan kegentaran saat mengetahui isi cawan yang
dihadirkan Bapa di hadapan-Nya. Ia taat sampai wafat, bahkan wafat di salib. Sekali lagi, dalam
wujud manusia, putera Bapa mengajarkan pada kita tentang ketaatan dan penerimaan demi
kemuliaan hidup yang kekal.
(lagu Eli Lamasabakhtani)
P2. Satu hal yang kita pelajari dari Tuhan kita adalah MENCINTAI SECARA TOTAL dan
TANPA SYARAT. Total artinya penuh, tidak setengah-setengah. Total artinya tidak putus di
tengah jalan oleh karena kekecewaan sesaat. Total artinya bertanggung jawab sampai tuntas apa
pun tantangan dan rintangan menghadang.
Dari sengsara dan wafat-Nya di kayu salib kita belajar untuk mencintai sedcara total dan tanpa syarat dalam dan sesuai dengan peran kita masing-masing: sebagai imam, biarawan/I, sebagai orang tua, anak, Orang Muda Katolik, Kaum Bapa, Kaum Ibu, WKRI, Legio Maria, Sekami, dan sebagainya. Mari kita belajar untuk mencintai secara total dan tanpa syarat.
Pada akhirnya masing-masing kita akan berseru kepada Bapa dan kepada Dunia:
SELESAILAH SUDAH!!
P1. Marilah berdoa….
U. Ya Bapa di dalam Surga, Putera-Mu telah menunjukkan kasih-Nya terhadap manusia secara
penuh. Dia bahkan mengalami kematian sebagai tebusan atas dosa-dosa kami. Buatlah kami rela
memberi diri kami lewat pelayanan yang sungguh dan tulus terhadap sesama, terhadap rukun, stasi, Gereja dan masyarakat.
Sadarkanlah kami agar melalui keikutsertaan kami dalam jalan salib Putera-Mu ini, kami mampu mematikan dan bahkan menguburkan dosa-dosa kami yang telah melukai Dikau, sesama di sekitar kami dan bahkan diri kami masing-masing. Demi Kristus, Dialah
Tuhan dan Pengantara kami kini dan sepanjang masa. Amin.
N1. Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami…..
U. Allah, ampunilah kami orang berdosa ini….
PENUTUP
P1. Ya, salib berbeban berat – bertumpu dosa-dosa kita umat manusia. Di atas palang yang sama,
kita menyalipkan Putera Allah dengan dosa-dosa kita pula. Betapa Tuhan menanggung segalanya.
Namun kematian di atas salib bukanlah akhir dari segalanya. Kematian di atas salib adalah
dentangan lonceng kemenangan yang sebentar lagi akan menggema di Lembah-lembah kekelaman
yang sedang putus asah oleh kekejaman dunia. Salib bukanlah simbol kehadiran seorang penjahat.
Salib adalah jalan menuju kemenangan. Salib tidak akan berujung pada maut. Salib mengantar
kepada kebangkitan kekal.
P2. Dan oleh karena itu, janganlah kita lari dari salib hidup kita. Janganlah kita jijik dengan
kejatuhan kita. Janganlah kita putus asah dengan keterbatasan dan kelemahan-kelemahan kita.
Jangalah kita meremehkan, mengejek dan bahkan menindih sesama yang sedang memanggul
salib.
Kita hendaknya saling membantu di dalam menanggung salib hidup ini. Kita hendaknya
saling menguatkan bahwa melalui salib kita sedang menuju sebuah lorong yang mungkin pada
awalnya gelap, namun berujung cahaya gemerlap yang tak akan pernah pudar. Yakinlah, seperti
Kristus, ketika kita dengan tabah memanggul salib, kita bakal memetik kemenangan yang jaya.
P1. Marilah kita berdoa!
U. Ya Bapa yang Maha Rahim, melalui PuteraMu, Engkau telah mengajarkan kepada kami makna
Salib di dalam kehidupan iman kami. Atas ajaran ini, kami menghaturkan syukur berlimpah ke
hadiratMu.
Kami mohon, semoga permenungan Jalan Salib Yesus Putera-Mu yang sebentar lagi
kami akhiri ini, bukan sekedar sebuah ritus belaka. Semoga narasi, refleksi, meditasi, puisi dan
lagu yang kami persembahkan ini sungguh membuat retreat agung kami di Masa Prapaskah yang kudus ini menjadi lebih bermakna dan berbuah banyak.
Semoga semua yang kami persembahkan ini bukanlah hal-hal ritual belaka melainkan cara atau jalan yang membuat kami semakin memaknai relasi kami dengan Dikau dan dengan sesama. Semoga persembahan kami ini merupakan sebuah jalan pendamaian antara kami dengan Dikan dan kami dengan sesama. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin!
Berkat Penutup oleh imam yang hadir
Lagu Penutup: lagu umat dari buku umat
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Sejarah Devosi Jalan Salib dalam Agama Katolik |
|
|---|
| 14 Lukisan Jalan Salib Karya Previati Dipamerkan di Basilika Santo Petrus Selama Masa Prapaskah |
|
|---|
| Daftar 14 Perhentian dalam Jalan Salib Katolik |
|
|---|
| Umat Katolik Kuasi Paroki Kristus Raja-Kisa, Ikut Jalan Salib Tematis Sejauh 3 Kilometer |
|
|---|
| Makna Simbolis dari Doa Jalan Salib Singkat dalam Agama Katolik |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.