Jalan Salib Katolik

Sejarah Devosi Jalan Salib dalam Agama Katolik

Perkembangan devosi ini semakin kuat ketika Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen melalui Edik Milano

Penulis: Nofri Fuka | Editor: Nofri Fuka
TRIBUNFLORES.COM/ROBERT ROPO
JALAN SALIB DI LONGKO--Umat Stasi St Petrus dan Paulus Longko, Borong, Manggarai Timur sedang mengikuti ibadat jalan Salib. Gambar diambil, Jumat 7 April 2023. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Dalam agama Katolik terdapat salah satu ritus peribadatan yakni Devosi Jalan Salib.

Devosi memiliki sejaraha yang sarat akan nilai nilai hidup Kristiani.

Melansir berbagai sumber, sesungguhnya tradisi Jalan Salib berakar sejak awal Kekristenan, ketika para murid pertama dan umat Kristen di Yerusalem mengenang sengsara Yesus dengan menelusuri kembali jalan yang Ia lalui menuju Golgota.

Bagi para murid, Jalan Salib bukan sekadar mengenang peristiwa tragis, melainkan pengalaman iman yang menghidupkan kembali misteri keselamatan.

 

Baca juga: 14 Lukisan Jalan Salib Karya Previati Dipamerkan di Basilika Santo Petrus Selama Masa Prapaskah

 

 

Perkembangan devosi ini semakin kuat ketika Kaisar Konstantinus melegalkan agama Kristen melalui Edik Milano pada tahun 313. 

Ibunya, Santa Helena, yang sangat berdevosi kepada Kristus, melakukan ziarah ke Tanah Suci pada tahun 326 dan menemukan tempat-tempat suci terkait kehidupan Yesus, termasuk lokasi penyaliban dan makam-Nya.

Atas dorongan Santa Helena, Basilika Makam Kudus dibangun pada tahun 335, menjadikan ziarah ke Yerusalem semakin populer.

Namun, pada abad ke-7, ketika Kekhalifahan Islam menguasai Tanah Suci, ziarah ke Yerusalem menjadi semakin sulit bagi umat Kristen. Meski demikian, semangat untuk merenungkan sengsara Kristus tidak padam.

Muncullah praktik membangun perhentian Jalan Salib di berbagai tempat di Eropa, memungkinkan umat yang tidak bisa pergi ke Yerusalem tetap mengalami devosi ini di lingkungan mereka sendiri.

Penyebaran luas devosi ini tidak lepas dari peran Ordo Fransiskan. 

Diketahui, ada abad ke-13, Paus Klemens VI memberikan kepercayaan kepada para Fransiskan untuk menjaga dan merawat tempat-tempat suci di Yerusalem.

Para biarawan Fransiskan yang kembali ke Eropa membawa serta tradisi ini dengan mendirikan replika perhentian Jalan Salib di gereja-gereja, biara-biara, dan bahkan di ruang terbuka agar umat dapat mengenang penderitaan Kristus secara lebih mendalam.

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved