Opini Paskah 2025
Kamis Putih Buat Pemimpin Pemerintahan
Para pemimpin pemerintahan, baik daerah maupun nasional sedang dihadapkan berbagai perubahan kehidupan di dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Kamis-Putih-di-Rutan-Maumere.jpg)
Bernardus Tube Beding, Dosen PBSI Unika Santu Paulus Ruteng
TRIBUNFLORES.COM,RUTENG-Hari ini, Kamis 17 April 2025 Umat Kristiani kembali mengenang perjamuan Tuhan dengan merayakan Ekaristi Kamis Putih. Yesus merayakan perjamuan malam terakhir bersama para murid-Nya. Perayaan ini penuh makna, sebagai simbol penyerahan hidup-Nya secara total demi keselamatan umat manusia tanpa memandang latar apa pun.
Dalam perayaan ini, umat Kristiani diberi pesan untuk setia melakukan perjamuan sebagai wujud pemberian diri dan pembasuhan kaki sebagai wujud pelayanan. Namun, sesungguhnya mandat-mandat tersebut diperuntukan untuk semua umat manusia, tanpa kecuali, walaupun dengan keyakinan yang berbeda. Tak terkecuali juga untuk para pemimpin dalam pemerintahan.
Perubahan Kehidupan
Para pemimpin pemerintahan, baik daerah maupun nasional sedang dihadapkan berbagai perubahan kehidupan di dunia. Tradisi, kebiasaan, dan pola tingkah lalu yang diwariskan para pendahulu telah berubah. Muncul kebiasaan dan pola tingkah laku baru. Paham, keyakinan, dan nilai hidup mulai bergeser dan digeserkan. Orang mulai menganuti paham baru; orang mencita-citakan nilai yang tadinya tidak pernah dipikirkan. Peran individu, kelompok, golongan, dan lapisan dalam masyarakat pun mulai berubah. Yang tadi berkuasa, sekarang dikuasai, yang tadi dikuasai sekarang menguasai. Yang tadi ditentukan oleh orang lain, sekarang turut menentukan.
Perlahan tersebar tipe masyarakat industri yang membawa negara kepada perubahan keadaan masyarakat yang telah terbentuk di “zona nyaman”. Pengembangan kehidupan kota dan arus urbanisasi bertambah, baik karena pertumbuhan kota dan penduduknya, maupun gerak penyebaran kehidupan kota ke pedesaan.
Alat-alat teknologi, komunikasi, dan informasi sosial hadir dengan berbagai tawaran kecanggihan, membantu penyebaran peristiwa, cara berpikir, dan cita rasa secepat dan seluas mungkin, dengan menimbulkan banyak dampak.
Baca juga: Umat Katolik Labuan Bajo Khusyuk IkutiJumat Agung Meski Diguyur Hujan
Perubahan melanda pula mentalitas dan struktur kehidupan masyarakat yang sering menimbulkan pertentangan, seperti hal-hal tentang warisan, pasar dan pemberdayaan ekonomi, biaya penddikan, ekologi, politik, dan sebagainya. Pertentangan antarkelompok masyarakat yang kerap kali tidak sabar, malah berontak karena menuntut kebijaksanaan, keadilan, dan kemanusiaan.
Lembaga-lembaga perundangan dengan cara berpikir dan cita rasa yang diwariskan pendahulu tampaknya tidak selalu dapat diselaraskan dengan baik kepada keadaan dewasa ini; maka terjadi penjungkirbalikan besar dalam cara dan kaidah bertindak itu sendiri.
Malah, tidak dapat dimungkiri pulah bahwa perubahan juga terjadi dalam lingkup kehidupan agama yang terdampak pada kehidupan baru. Banyak pihak yang memiliki kemampuan menilai lebih tajam, membersihkan agama dari konsep magis tentang dunia dan dari takhyul yang masih beredar, serta masih menuntut penganutan iman yang lebih pribadi dan aktif. Di satu sisi, masa yang besar secara praktis meninggalkan agama karena penanutnya yang tidak mencerminkan keteladanan.
Penyangkalan Allah atau agama bukan lagi sesuatu yang asing. Justru hal itu tidak jarang dianggap sebagai tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan atau semacam humanisme baru. Di banyak wilayah, hal itu tidak saja dicetuskan dalam dalil-dalil para filsuf, tetapi memangaruhi secara luas sastra, seni, tafsiran ilmu-ilmu manusia, serta sejarah dan perundangan negara sendiri sedemikian rupa, sehingga banyak orang dikacaukan olehnya.
Baca juga: Umat Lintas Agama di Kota Ruteng Berkabung, Tablo Jalan Salib Terpusat di Natas Labar
Harapan dan Kecemasan
Berbagai perubahan yang tengah berlangsung bersifat mendua, memberi harapan, tetapi satu sisi mencemaskan. Boleh dikatakan, masyarakat Indonesia memiliki harapan, karena kemampuan mengatasi permasalahan hidupnya dengan nalar dan bakat pribadi yang cukup. Pengembangan nalar dan potensi lain memampukan masyarakat Indonesia menciptakan sarana dan pra sarana untuk menanggulangi masalah kehidupan dan penghidupan untuk meningkatkan taraf dan kesejahteraan hidupnya.
Timbul juga kesadaran bahwa masyarakat Indonesia, apa pun ras dan latar belakangnya di mana pun wilayah asal dan tempat kediamannya, pemerintah maupun rakyat sama-sama memiliki rumah bangsa Indonesia, memiliki ideologi yang sama, yakni pancasila. Karena itu, perlu keja sama untuk menemukan jalan membangun kehidupan berbangsa dan bernegara demi kepentingan dan kelayakan hidup seluruh rakyat Indonesia. Solidaritas antarkelompok, dialog dan kerja sama dalam iklim saling menghargai dicanangkan dan diyakini sebagai keharusan.
Namun, tanpa disadari bahwa perkembangan SDM tidak selalu dapat dikuasai dan diarahkan untuk kepentingan bersama. Ada saja pihak yang ingin memanfaatkan semua itu demi kepentingan diri dan keluarganya. Tanpa terkecuali para pemimpin pemerintahan maupun pemimpin lembaga-lembaga kehormatan terbius oleh tawaran rupaih dalam jumlah fantastik. Demikian pula, situasi ketidaksamaan, penindasan, perampasan, korupsi, kolusi, nepotisme, perbedaan ideologi, kelompok yang satu tidak selalu dapat hidup serasi dengan kelompok yang lain dalam satu wilayah tertentu.
Situasi dan kondisi kehidupan masyarakat kecil, keluarga-keluarga di pedasaan Indonesia belum mencapai taraf kemajuan dan kesejahteraan hidup, lantaran kelimpahan potensi alam yang mereka miliki diuasai oleh para cukong, orang-orang asing, dan para penguasa. Akibatnya, masih banyak yang disiksa kelaparan, dan kekurangan akibar kekuasaan dan kebijakan yang belum tepat sasar. Banyak kaum muda dan anak-anak yang memiliki kemampuan dan keterampilan, tetapi tidak diberi kebebasan berpendidikan secara gratis. Berbagai kebijakan pemerintah dipandang belum menjawab dan memenuhi harapan masyarakat yang sesungguhnya. Dunia Indonesia sepertinya sedang ditarik ke kutub-kutub yang bertentangan politik, sosial, ekonomi, ras, ideologi, dan adanya bahaya penindasan struktural pemerintahan dengan kekuatan-kekuatan kemanusiaan.
Baca juga: BREAKING NEWS : Ribuan Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng Asistensi Paskah 2025
Situasi mendua yang dirasakan masyarakat Indonesia menimbulkan “ketidakserasian” besar antarlapisan masyarakat, terlebih antara “omon-omon”, kebijakan, dan tindakan nyata. Ketidakserasian antara masyarakat yang kaya dan miskin, yang berpendidikan dan tidak berpendidikan, membawa dampak saling curiga dan permusuhan, konflik dan malapetaka, yang korbannya adalah “yang lemah dan tidak memiliki banyak”. Berbagai wujud patologi tercermin dalam sikap dan tindakan para pemimpin pemerintahan yang belum pro pada rakyatnya.
Semangat Perjamuan dan Pembasuhan Kaki
Dalam situasi yang serentak memberi harapan dan membawa kecemasan ini, pemerintah perlu menggalang satu semangat yang sama dengan harapan masyarakat. Tidak slaah juga kalau para pemimpin pemerintah bercermin dari makna dan pesan perayaan Kamis Putih umat Kristiani. Pertama, perjamuan malam terakhir menunjukkan pernyerahan diri Yesus secara total sebagai ungkapan kasih sehabis-habisnya untuk keselamatan umat manusia (Yoh. 13:2). Dengan mengidentifikasi roti dengan tubuh-Nya, Yesus menyerahkan seluruh diri-Nya. Dengan mengidentifikasikan anggur, Yesus menyerahkan seluruh hidup-Nya.
Model sikap penyerahan diri ini, baik tercermin juga dalam diri para pemimpin pemerintahan. Para pemimpin pemerintahan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan kota, provinsi, dan pemerintah pusat besrta jajaran masing-masing; para pemimpin lembaga-lembaga negara dan jajaran masing-masing perlu menyadari bahwa masyarakat adalah diri mereka sendiri. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan mereka juga. Artinya, suka-duka rakyat harus menjadi suka-duka pemimpinnya. Karena itu, penyerahan dan pemberian diri merupakan sikap tepat pemimpin pemerintah yang tercermin dalam program pembangunan yang merata, yang lebih memerioritaskan masyarakat kecil, miskin, dan tertindas. Sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab dalam tatanan pemerintahan, pemimpin perlu berusaha untuk selalu membangun kemajuan dan kesejahteraan, tanpa mnyampingkan aspek keadilan dan kemanusiaan.
Pemimpin yang memberi diri adalah pribadi yang berusaha supaya paham-paham dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, bukan saja dipelajari dan dipahami, tetapi terutama dilaksanakan dalam keteladanan hidup dan diamalkan dalam kehidupan setiap masyarakat dan kelompok masyarakat yang dipimpinnya.
Kedua, pembasuhan kaki sebagi wujud pelayanan dalam kerendahan hati. Pembasuhan kaki sebagai pelayanan adalah teladan yang diberikan oleh Yesus agar para murid-Nya melakukan hal yang sama, yaitu saling melayani. “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, sebab aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:14—15).
Baca juga: Cerita Lista, Peziarah Muslim yang Ikut Prosesi Semana Santa di Larantuka karena Nonton Video TikTok
Upacara pembasuhan kaki merupakan wujud pelayanan atau tindakan kasih yang dilakukan oleh Yesus terhadap para muridnya. Seorang guru membasuh kaki para muridnya, merupakan sebuah tindakan kontradiktif karena sesungguhnya tindakan ini biasa dilakukan oleh seorang budak atau hamba kepada tuannya. Justru Yesus mau melawan realitas dengan membalikkan logika realistis tersebut. Pembasuhan kaki menunjukkan sikap kerendahan hati dalam melayani. Kerendahan hati berarti ketaatan untuk mencabut keakuan dari dalam diri dan menumbuhkan sikap kesosialan. Yesus mau menegaskan bahwa menghormati dan melayani orang lain dengan penuh kasih dan kerendahan hati, terutama yang paling hinda dina, rendah, miskin, dan kecil, itu merupakan sebuah sikap dan perbuatan terhormat; sebuah tindakan perendahan diri yang didasari oleh kerendahan hati dan ketulusan memberi. Dengan makna lain, tindakan membasuh kaki menjadi contoh untuk keluar dari diri sendiri dan menjangkau sesama.
Konteks refleksi ini, pembasuhan kaki yang saya bersama umat Kristiani kenangkan tahun ini dapat menjadi refleksi bagi para pemimpin pemerintah agar melayani masyarakat dengan kerendahan hati tanpa pandang latar belakang, asal, dan ras; khusunya menjangkau mereka yang sedang menjadi korban. Semoga para pemimpin pemerintah membasuh dengan menjangkau masyarakat kecil di pedesaan dengan tangan terbuka dan membawa mereka dalam kehidupan yang layak dan sejahtera. Mudah-mudahan.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.