Pengungsi Gunung Lewotobi
Siswa dan Guru Penyintas Lewotobi Rayakan Hardiknas di Pengungsian
Mereka merayakan di lima titik, diantaranya, dua titik di sekitar Poslap Desa Konga dan satu di lapangan Desa Konga, satu di Poslap Desa Kobasoma, ser
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Siswa-dan-siswi-SMA-PGRI-Boru.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA-Siswa dan guru TKK, SD, SMP, dan SMA merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2025 di tempat pengungsian Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, Jumat, 2 Mei 2025 pagi.
Mereka merayakan di lima titik, diantaranya, dua titik di sekitar Poslap Desa Konga dan satu di lapangan Desa Konga, satu di Poslap Desa Kobasoma, serta satu di Poslap Desa Bokang Wolomatang.
Para guru maupun siswa penyintas merayakan Hardiknas 2025 dengan beragam makna. Pada momentum bersejarah itu, mereka mengenang sang pelopor Hardiknas, Ki Hajar Dewantara.
Hardiknas dalam suasana kebatinan bencana erupsi Lewotobi Laki-laki menjadi berkesan, tak hanya angka yang tersemat di papan kalender.
Baca juga: Malam Literasi di Simpang Lima Lewoleba: Kopi, Buku, dan Semangat Berbagi di Tengah Kota
"Di manapun kalian berada, kalian adalah orang-orang kuat yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, sekalipun bencana,"ujar Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kurikulum SMA PGRI Gelekat Lewo Boru, Yosef Jati, saat amanat pembina upacara di camp darurat Pos Lapangan (Poslap) Konga.
Bangunan SMA PGRI Gelekat Lewo terpaut jarak kurang dari 5 kilometer dengan Gunung Lewotobi Laki-laki itu sudah porak-poranda.
Mereka kini melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah darurat di Desa Konga, Kecamatan Titehena.
Meski demikian, semangat guru dan siswa penyintas tetap membara. Mereka menggelar apel di tengah ribuan pengungsi yang tinggal di camp-camp darurat.
Sementara itu, di Poslap Kobasoma, sejumlah anak Taman Kanak-kanak (TKK) tampak sibuk mewarnai. Mereka duduk lesehan pada terpal biru usang. Didampingi sejumlah guru, bocah di bawah enam tahun itu membubuhkan warna di atas gambar bertema pendidikan, seperti ruang kelas, bangunan sekolah, dan lingkungan.
Salah seorang guru, Eril Ladjar, mengatakan anak-anak tetap ceria selama berada di camp pengungsian. Hardiknas, ungkapnya, sebagai ruang refleksi tentang sejauh mana pendidikan membawa perubahan di tengah bencana.
"Kami tetap semangat sekalipun menjadi korban bencana. Anak-anak dididik dan dilatih menjadi pribadi yang tangguh," ujarnya.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Malam Literasi di Simpang Lima Lewoleba: Kopi, Buku, dan Semangat Berbagi di Tengah Kota |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Sabtu 3 Mei 2025, Percaya Bantuan Doa |
|
|---|
| Forum Perempuan Diaspora NTT Konsolidasi Kawal Kasus Kekerasan Seksual Eks Kapolres Ngada |
|
|---|
| Teks Misa Minggu 4 Mei 2025 Lengkap Renungan Harian Katolik |
|
|---|
| Momen Hardiknas, Pemda Sikka Diharapkan Perhatikan Nasib Para Guru Honor |
|
|---|