Minggu, 3 Mei 2026

Homili Hari Minggu

Homili Minggu 18 Mei 2025, Perintah untuk Saling Mengasihi

Mari simak homili Minggu 18 Mei 2025. Homili disiapkan untuk hari Minggu Paskah V. Tema homili yaitu perintah untuk saling mengasihi.

Tayang:
Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Homili Minggu 18 Mei 2025, Perintah untuk Saling Mengasihi
TRIBUNFLORES.COM/GG
UMAT IKUT MISA -Mari simak homili Minggu 18 Mei 2025. Homili disiapkan untuk hari Minggu Paskah V. Tema homili yaitu perintah untuk saling mengasihi. 

Oleh: RD. Giovanni A.L. Arum

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak homili Minggu 18 Mei 2025.

Homili disiapkan untuk hari Minggu Paskah V.

Tema homili yaitu perintah untuk saling mengasihi.

Bacaan I : Kis. 14: 21b-27, Bacaan II : Why. 21: 1-5a, Bacaan Injil : Yoh. 13: 31-33a. 34-35.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 19 Mei 2025, Mari Menaati Perintah


Jika kita petakan secara sederhana, hidup manusia itu ada dalam tegangan dua kutub yang berlawanan, yakni: cinta dan benci, baik dan buruk, mulia dan keji. Di antara dua kutub berlawanan ini, manusia berjuang untuk hidup.

Karena ia memiliki kehendak bebas, ia bisa memilih cinta, bisa juga benci. Ia bisa memilih melakukan hal-hal baik, atau malah jatuh pada hal-hal buruk. Karena kenyataan ini pula, maka respon orang satu terhadap yang lain juga terukur dari tegangan kontradiktif tadi: ada orang yang bisa mencintai dan mendukung kita, ada juga orang yang tidak suka dan membenci kita. 

Kenyataan ini dialami sendiri oleh Tuhan Yesus dalam kisah Injil. Dan untuk itulah Yesus mewariskan kepada kita suatu perintah baru, hukum baru, yakni: hukum kasih.

Mari kita renungkan bersama 3 poin kunci untuk memaknai perintah mengasihi berdasarkan Bacaan-Bacaan suci hari ini:

Pertama, Kasih itu setia dalam penderitaan dan sengsara. Dalam Bacaan I, Paulus dan Barnabas menunjukkan dimensi kasih dari komunitas Kristiani yang terbuka bagi semua bangsa. Kasih yang universal. Untuk sampai pada upaya pewartaan Injil kepada segala bangsa ini, Paulus dan Barbanas menasihatkan para jemaat Kristen awal untuk setia kepada Tuhan meskipun mengalami banyak sengsara. Apa yang membuat orang bertahan dalam kesengsaraan? Jawabannya adalah kasih yang murni.

Orang yang benar-benar mencintai tidak hanya menerima wangi kuntum mawar dan rona warna indahnya, tetapi juga bersedia menerima duri-durinya. Kasih yang sejati rela berkorban. Love is sacrificing. Jika kita benar-benar mengasihi keluarga, apa yang sudah Anda korbankan untuk keluarga? Jika Anda mengasihi pasangan Anda, apa yang sudah Anda korbankan untuk pasangan Anda. Jika Anda mengasihi Tuhan, apa yang sudah Anda korbankan untuk Tuhan dalam hidupmu?

Kedua, Kasih akan Mengantar Kita ke Yerusalem yang Baru. Dalam Bacaan II, Kitab Wahyu memberikan gambaran apokaliptik tentang langit baru, bumi baru dan Yerusalem baru. Sebuah dimensi kebaruan dalam Tuhan. Secara eklesiologis, gambaran Yerusalem baru adalah gambaran Gereja yang dimurnikan. Kita semua dipanggil untuk mengalami “pembaruan” dalam Tuhan. Tuhan Yesus yag berdiri di atas tahta dan bersabda: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Untuk masuk dalam kebaruan hidup ini, kita juga harus menaati perintah baru yang Tuhan beri, yakni: perintah untuk saling mengasihi. 

Ketiga, Perintah Baru untuk Saling Mengasihi. Bacaan Injil mengangkat wejangan Tuhan Yesus tentang perintah baru (novus ordo) yakni untuk saling mengasihi. Ingat, dalam bahasa aslinya, Yunani, kata “mengasihi” itu ada tingkatannya, yakni: eros, filia dan agape. Kasih yang sejati, bentuk cinta sempurna yang tanpa pamrih adalah agape. Dan persis, Tuhan Yesus menggunakan kata perintah “agapate allelous” (kamu harus mengasihi sesamamu) yang kata dasarnya adalah “agape”. Itu berarti Tuhan mau supaya ukuran kita dalam mengasihi bukan ukuran biasa-biasa, apalagi ukuran dunia yang seringkali sarat dengan kalkulasi untung-rugi. Orang yang benar-benar mengasihi tidak tawar-menawar. Ia hanya memberi kasih yang keluar dari hatinya yang murni. Hatinya seperti air yag terus mengalir. Meski ada yang menghalangi, ia tidak akan pernah berhenti mengalir. Ia akan membersihkan jalan-jalan yang ia lalui. Menyentuh dan membawa kesegaran bagi semua yang ia temui. Ia tidak bisa dihancurkan, dibelah atau dibendung lama. 

Saudara-saudari terkasih. Dunia kita sekarang ini darurat cinta. Jika pada zaman Tuhan Yesus saja, ada murid yang setia ada yang tidak setia, apalagi zaman kita sekarang ini. Mari kita periksa hati kita dan hati orang-orang terdekat dengan kita. Cara pertama untuk bisa melaksanakan hukum kasih adalah menyembuhkan dulu luka diri. Berdamai dengan diri dan mengampuni. Tidak akan ada kasih yang sejati jika tidak ada kerelaan untuk mengampuni dan mengobati diri sendiri. Tuhan memberkati kita sekalian! Amin!.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved