Erupsi Gunung Lewotobi Laki laki
Penyintas Letusan Gunung Lewotobi Jual Sisa Harta di Tenda Pengungsian
Kehidupan di posko-posko pengungsian tidak bergantung seutuhnya dari bantuan kemanusiaan. Seiring waktu berjalan, para penyintas korban letusan Gunung
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Ricko Wawo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Algonda-Tukan.jpg)
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA-Kehidupan di posko-posko pengungsian tidak bergantung seutuhnya dari bantuan kemanusiaan. Seiring waktu berjalan, para penyintas korban letusan Gunung Lewotobi Laki-laki berusaha semampu mungkin demi menopang hidupnya sehari-hari.
Sejumlah pengungsi di Pos Lapangan (Poslap) Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, mengais sisa-sisa hartanya dari kebun yang berada di zona bahaya erupsi kemudian dijual di tenda darurat.
Salah satunya Algonda Tukan (60), penyintas yang saban hari menjual singkong, pisang, dan terong. Hasil bumi itu dipanen dari kebunnya di Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang, kampung yang terpaut 5 kilometer dari dua gunung api aktif.
Baca juga: Pemprov NTT Rapat Persiapan Sambut PON 2028, Wagub NTT: Siapkan Diri Sejak Sekarang
"Yang dijual ini sisa-sisa tanaman yang selamat dan layak dikonsumsi. Sehari dapat Rp 20.000 saja sudah senang sekali," katanya, ditemui belum lama ini.
Algonda dan suaminya belum berani ke kebun setelah erupsi besar Senin (07/07/25) kemarin. Ia trauma dengan keadaan, tak terkecuali penyintas lain yang dihadapkan dengan urusan angsuran dan biaya pendidikan.
Saat menuju Nawokote, penyintas merogoh kocek Rp.20.000 sampai Rp 30.000.000 untuk transportasi pulang-pergi. Pengeluaran yang kadang tak sesuai pemasukan.
"Yang orang tidak beli akan jadi makanan (alternatif) kami di sini," ujarnya.
Di depan posko, pinggir Jalan Trans Pulau Flores Larantuka-Maumere, terdapat beberapa penyintas penjual pisang dan singkong. Semua yang dijual datang dari jerih lelah yang mereka usahakan.
TRIBUNFLORES.COM kemudian mengunjungi Hunian Sementara (Huntara) di Desa Konga, sekitar 600 meter dari Posko Konga. Di sana ada ribuan penyintas asal Desa Dulipali, Desa Klatanlo, dan sebagiannya lagi dari Dusun Kampung Baru.
Aktivitas ekonomi mulai hidup, mulai dari usaha kios kecil hingga penjual kue. Ada juga petani yang mengolah komoditi kelapa menjadi kopra lalu dijual ke pengepul.
Meski status Gunung Lewotobi Laki-laki masih level IV (Awas) dengan rekomendasi aktivitas 7 kilometer, tak sedikit penyintas yang nekat ke zona bahaya. Mereka ke sana untuk memanen hasil bumi yang tersisa.
"Kami bukan keras kepala, atau tidak mau ikut Pemerintah. Kami ikut arahan, pulang kampung untuk cari satu dua rupiah (uang). Anak masih sekolah, kalau tidak kerja mau bayar sekolah pakai apa," kata salah satu penyintas, beberapa waktu lalu.
Bantuan untuk Penyintas Lewotobi
Korban Letusan Lewotobi
Akses ke Huntap Lewotobi
TribunFlores.com
| Pemprov NTT Rapat Persiapan Sambut PON 2028, Wagub NTT: Siapkan Diri Sejak Sekarang |
|
|---|
| Kasat Lantas Polres Ngada Sosialisasi Keselamatan Berlalu Lintas di SMAKS Regina Pacis Bajawa |
|
|---|
| 106 Pasutri di Sikka Terima Akta Nikah Saat Perayaan Tahun Yubelium di Gereja Katedral Maumere |
|
|---|
| Warga Korban Kebakaran di Pasar Oinlasi dapat Bantuan Duka dari Bupati dan Wabup TTS |
|
|---|