Berita Nagekeo

Komunitas Bidara Kenalkan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim bagi Warga di Nagekeo, NTT

Komunitas Bidara di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT melakukan kegiatan sosialisasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim bagi para pemuda pelajar

Editor: Gordy Donovan
TRIBUNFLORES.COM/HO-IK
POSE BERSAMA - Anggota Komunitas Bidara Nagekeo pose Bersama peserta kegiatan di Aula Perpustakaan Nagekeo, Kota Mbay, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu 12 Juli 2025. 

TRIBUNFLORES.COM, MBAY - Komunitas Bidara di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT melakukan kegiatan sosialisasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim bagi para pemuda pelajar, nelayan, petani, mahasiswa, serta pelaku usaha kecil menengah.

Kegiatan  tersebut dilaksanakan di Aula Perpustakaan Nagekeo, Kota  Mbay, Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 12 Juli 2025.

Dalam sosialisasi tersebut Komunitas Bidara menghadirkan para narasumber dari para pegiat lingkungan, mama-mama bambu serta pemerintah setempat. 

Selain memberikan ilmu soal perubahan iklim para peserta juga dikenalkan dengan situasi kebencanaan di Nagekeo dan pentingnya cara memitigasi setiap kebencanaan yang ada.

Baca juga: Kepala BPDAS Benain Noelmina Salurkan 3000 Anakan Pohon kepada Masyarakat Desa Ponu TTU NTT

 

Para peserta juga melakukan diskusi dan sharing serta permainan untuk memperkuat jejaring dalam tujuan memitigasi bencana di Nagekeo. 

Ketua Komunitas Bidara, Rosadalima Panda mengatakan perubahan iklim memberikan dampak langsung yang semakin dirasakan ditingkat lokal, terutama oleh kelompok masyarakat yang bergantung pada alam seperti petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil. 

Menurut Rosa di Kabupaten Nagekeo,fenomena seperti musim tanam yang tidak menentu, penurunan hasil panen, serta gangguan ekosistem laut menjadi realitas yangdihadapi sehari-hari.

Dalam konteks ini, adaptasiterhadap perubahan iklim menjadi sangat penting.  Adaptasi mencakup segala upaya penyesuaian sistem sosial, ekonomi, dan lingkungan agar mampu menghadapi dampak perubahan iklim serta mengurangi kerentanan masyarakat.

" Sebagai bentuk kepedulian generasi muda terhadap tantangan ini, Komunitas Bidara menginisiasi kegiatan sosialisasi adaptasi perubahan iklim,"jelas Rosa.

Rosa mengatakan dalam diskusi ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai dampak perubahan iklim di tingkat lokal serta mendorong peserta mengenali bentuk-bentuk adaptasi yang relevan dengan konteks kehidupan mereka.
 
Sementara itu, perwakilan dari BPBD Nagekeo,  Marianus Dhaki Dae mengatakan tanggung jawab bencana bukan hanya Badan Penanggulangan Bencana Daerah namun merupakan peran semua elemen masyarakat, pemerintah dunia usaha atau peduli bencana. 

Situasi kebencanaan di Nagekeo dominan perbukitan sedang sampai curam serta berada di jalur cincin api serta patahan atau sesar naik busur belakang Flores. 

Menurut Dhaki Dae, ada 10 ancaman bencana yang di Nagekeo, banjir, cuaca ekstrim, gempa bumi, kekeringan, longsor, tsunami, eruspsi gunung api, wabah penyakit serta kebakaran hutan dan lahan. Dari sekian bencana tersebut 80 persen dipicu oleh perubahan iklim. 

"Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem sehingga menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti tsunami dan dari bencana ini bisa menimbulkan konflik dan teror. Masing-masing negara melindungi dirinya masing, mesin penghancur paling ekstrim di dunia ini adalah bencana, siapa yang bisa kuat kecuali doa, " kata Dhaki Dae. 

Selain kegiatan sosialisasi ini Komunitas Bidara juga terlibat dalam Koalisi Orang Muda untuk aksi Iklim di Mbay, mendorong UMKM seperti pembuatan minyak kelapa murni. 

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved