Selasa, 28 April 2026

Hari Pertama Masuk Sekolah

Siswa Penyintas Erupsi Lewotobi Berbagi Jam Sekolah di Pengungsian

Siswa penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memulai tahun ajaran baru dengan menempati enam ruang

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Paul Kabelen | Editor: Ricko Wawo
zoom-inlihat foto Siswa Penyintas Erupsi Lewotobi Berbagi Jam Sekolah di Pengungsian
TRIBUNFLORES.COM/PAUL KABELEN
MULAI-Sejumlah siswa/siswi penyintas korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki memulai tahun ajaran baru di lokasi pengungsian, Senin, 14 Juli 2025. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Paul Kabelen

TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA-Siswa penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memulai tahun ajaran baru dengan menempati enam ruangan kelas yang baru, Senin, 14 Juli 2025.

Enam ruangan kelas yang dibangun oleh pihak ketiga di Pos Lapangan (Poslap) Desa Konga, Kecamatan Titehena itu digunakan para siswa penyintas SDI Wolorona dan SDI Nobo. Mereka berbagi sift atau pembagian jam sekolah saat pagi dan siang hari.

Siswa/siswi penyintas sejak November 2024 hingga Juni 2025 melaksanakan proses KBM di camp-camp darurat hingga meminjam ruangan sekolah lain. Mereka merasa legah atas ruang kelas baru hasil bantuan beberapa NGO/LSM itu.

Baca juga: Libur Telah Selesai, Siswa di Sikka Flores Bahagia Kembali ke Sekolah

 

 

 

Kristomus Kelake Malun, orang tua siswa SDI Wolorona, menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang membangun sekolah itu. Para siswa akhirnya menerima pembelajaran dalam ruangan yang lebih layak.

"Selama ini siswa SDI Wolorona belajar di SDI Bokang, ada juga yang belajar di SDK Puka Unu di Desa Kobasoma. Kami berterima kasih atas bantuan pihak ketiga untuk anak-anak kami di pengungsian," katanya. 

"SDI Wolorona yang sekolah pagi, sementara siangnya SDI Nobo. Sekolah pakai shift karena kelasnya terbatas," sambungnya.

Anak-anak tampak ceria di hari pertama tahun ajaran baru 2025. Mereka merapikan meja dan kursi di dalam ruangan. Ruangan kelas terasa sejuk.

Meski demikian, Kristomus masih khawatir lantaran letak sekolah berada di pinggir Jalan Trans Flores. Aktivitas kendaraan besar ramai melintas di jalan itu. Orang tua siswa meminta pengawasan ketat bagi anak-anak saat jam istirahat, terkhusus yang gemar kejar-kejaran.

"Kami orang tua murid berinisiatif membangun pagar. Nanti koordinasi dengan pihak sekolah dlu. Kami juga pihak berwajib, dalam hal ini pak polisi bisa bantu mengawasi di sekitar jaalan," harapnya. (Cbl)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved