Undana Kupang
Hamza H. Wulakada Siap Bertarung di Pemilihan Rektor Undana 2025-2029
Kontestasi Pemilihan Rektor Universitas Nusa Cendana (UNDANA) periode 2025-2029 mulai menghangat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Akademisi-Undana-Kupang-Dr-Hamzah.jpg)
Karier organisasinya cukup panjang. Ia adalah mantan Ketua Umum HMI Cabang Kupang (2005-2006), mantan Sekretaris Umum DPD KNPI NTT (2011), dan kini aktif sebagai Wakil Ketua PW NU NTT, Sekretaris Umum MW KAHMI NTT, Wakil Sekretaris MUI NTT, serta Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Lembata (IKL) Kupang.
Baca juga: Pengamat Hukum Undana: Aturan Batasi Pikap Perlu Direvisi
Pengalamannya di organisasi membuatnya terbiasa bekerja kolektif, telaten mengelola administrasi, dan memiliki kemampuan membangun jaringan luas lintas etnis dan profesi.
Sebagai akademisi, Dr. Hamza telah menghasilkan 9 buku, lebih dari 100 penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta publikasi ilmiah bereputasi nasional dan internasional.
Ia juga aktif menulis di media massa, membahas topik-topik pendidikan, geografi, lingkungan, dan kebijakan pembangunan.
Hamza kerap diundang menjadi narasumber seminar, diskusi publik, maupun forum ilmiah lainnya. Ia juga terlibat sebagai Dewan Pakar dan konsultan bagi berbagai instansi pemerintah dan swasta di NTT.
Menurut Hamza, UNDANA kini berada di masa transisi pembangunan yang penuh tantangan, baik dari faktor internal maupun eksternal.
Ia menilai, ke depan kampus ini membutuhkan pemimpin yang terbuka, visioner, dan berani menembus batas-batas kebiasaan lama.
"Rintisan yang telah dibangun para senior harus kita lanjutkan. Tapi ke depan tantangannya jauh lebih berat. UNDANA tidak boleh hanya jago di dalam pagar sendiri atau sekadar puas dengan publikasi ilmiah. Sumber daya UNDANA harus menjadi penentu arah pembangunan berbasis riset di NTT dan Indonesia Timur," tegasnya.
Ia juga menilai bahwa penataan sistem internal UNDANA sudah mengalami banyak perubahan, namun harus terus disesuaikan dengan tuntutan zaman.
"Tuntutan perubahan bergerak cepat. Pemimpin UNDANA harus adaptif, fleksibel, dan punya strategi matang untuk memitigasi risiko kegagalan," ujarnya.
Dengan latar belakang sebagai putra NTT yang lahir dan besar dari rahim almamater UNDANA, Dr. Hamza merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memastikan kampus ini terus berkontribusi nyata.
"Bagi saya, ini soal pengabdian. UNDANA harus dipimpin oleh orang yang mau mendengar, menerima perbedaan, tapi juga berani mengambil langkah berisiko demi kemajuan. Saya siap menjadi salah satu alternatif untuk memimpin UNDANA ke depan," tutupnya.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News