Kamis, 7 Mei 2026

Unika Santu Paulus Ruteng

Rektor Unika Santu Paulus Ruteng: KKN Wadah Kolaboratif Pembangunan Berbasis Masyarakat

KKN Tematik 2025 bukan hanya sekadar program akademik tetapi suatu bentuk keterlibatan nyata mahasiswa dalam denyut nadi kehidupan masyarakat. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Hilarius Ninu | Editor: Cristin Adal
zoom-inlihat foto Rektor Unika Santu Paulus Ruteng: KKN Wadah Kolaboratif Pembangunan Berbasis Masyarakat
TRIBUNFLORES.COM/HO-HUMAS UNIKA RUTENG
PEMBEKALAN MAHASISWA KKN- Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Theol saat memberikan pembekalan KKN Tematik 2025, Jumat (8/8/2025) di kampus Unika Santu Paulus Ruteng. 

TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE- Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic. Theol mengungkapkan, KKN Tematik 2025 bukan hanya sekadar program akademik tetapi suatu bentuk keterlibatan nyata mahasiswa dalam denyut nadi kehidupan masyarakat. 

Untuk membedah tema di atas, lanjutnya, ada beberapa hal perlu yang perlu dikaji yakni universitas sebagai mitra transformasi sosial.

"KKN sebagai wadah Kolaboratif antara universitas dan pemerintah daerah. Di mana pembangunan berbasis masyarakat jalan menuju keadilan sosial. Mahasiswa jadi pembelajar, pelayan dan penggerak," ujar Rektor Manfred dalam rilis kepada TRIBUNFLORES.COM di Maumere, Jumat, 8 Agustus 2025 pagi.

Universitas sebagai mitra transformasi sosial

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Unika Santu Paulus hadir bukan semata sebagai institusi akademik tetapi sebagai komunitas ilmiah dan spiritual yang diutus untuk melayani kehidupan. 

Dalam konteks ini, universitas dipanggil untuk berperan sebagai mitra transformasi sosial bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi tempat menumbuhkan kepekaan sosial, solidaritas dan daya ubah.

 

Baca juga: Mahasiswa Unika St Paulus Ruteng Ikut KKN Tematik "Gentaskin" di NTT

 

 

 

 

Transformasi sosial bukanlah proses sesaat, tetapi sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari perjumpaan konkret dengan realitas masyarakat khususnya di wilayah-wilayah yang termarjinalkan secara ekonomi, ekologi, maupun sosial-budaya. 

"Maka KKN Tematik bukan sekadar program wajib, tetapi ruang belajar kontekstual di mana ilmu, nilai, dan aksi berbaur dalam dialog dengan kehidupan riil masyarakat," kata Rektor Manfred.

Ia mengungkapkan, seperti disoroti oleh Purwanto dan Sumarsono (2022), KKN yang berbasis community service learning telah terbukti memperkuat kompetensi sosial mahasiswa sekaligus mendorong warga desa menjadi subjek pembangunan yang aktif. 

Pendekatan ini sejalan dengan visi UNESCO (2021) tentang kontrak sosial baru untuk pendidikan, di mana perguruan tinggi tak lagi cukup menjadi pusat produksi pengetahuan, melainkan agen perubahan sosial dalam komunitas.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved