Rabu, 29 April 2026

Perbatasan Indonesia dan Timor Leste

Kronologi Bentrok Dan Penembakan Polisi Timor Leste Terhadap WNI di Perbatasan 

Seorang saksi penembakan warga sipil Indonesia bernama Paulus Taek Oki oleh UPF Negara Timor Leste bernama Balthasar

Tayang:
Editor: Ricko Wawo
zoom-inlihat foto Kronologi Bentrok Dan Penembakan Polisi Timor Leste Terhadap WNI di Perbatasan 
POSKUPANG.COM/DIONISIUS REBON
BERTEMU-Warga Desa Inbate saat ditemui Dansatgas Pamtas, Kapolres TTU dan Dandim 1618/TTU dan jajaran, Senin, 25 Agustus 2025. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Seorang saksi penembakan warga sipil Indonesia bernama Paulus Taek Oki oleh UPF Negara Timor Leste bernama Balthasar Tpoi membeberkan kronologi lengkap insiden penembakan di Perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse.

Menurutnya, pada Hari Minggu, 24 Agustus 2025, sejumlah petani Desa Inbate yang mengolah lahan di wilayah perbatasan RI-RDTL menyaksikan aktivitas Unidade Patrullamentu Fronteira (UPF) atau polisi perbatasan Timor Leste dan Warga Negara Timor Leste di sekitar perbatasan.

Masyarakat menyaksikan mereka hendak membuka jalan menuju ke lahan milik warga untuk pembangunan patok perbatasan.

"Bapak Antonius Kaet (warga yang menyaksikan aktivitas UPF Timor Leste) tanya mereka kamu buat apa. Mereka bilang, kami mau buat PAL (patok perbatasan). Saat itu, dari pihak UPF Timor Leste bilang nanti kami laporkan ke Danpos Nino (Desa Inbate dan Buk)," ujarnya.

 

Baca juga: DPRD NTT: Tidak Boleh Ada Korban Lagi di Perbatasan RI-Timor Leste

 

 

Saat itu, kata Balthasar, Antonius meminta UPF Timor Leste untuk melaporkan hal itu kepada Danpos Nino. Meskipun demikian, lokasi pembangunan patok tersebut berada di atas lahan milik warga Desa Inbate, atas nama Antonius tersebut.

Pada Hari Minggu 24 Agustus 2025 malam, sejumlah warga Desa Inbate kemudian berkumpul dan berunding mengenai pembangunan patok perbatasan oleh UPF Negara Timor Leste tersebut. Sementara jarak antara patok perbatasan lama dan patok perbatasan yang hendak dibangun tersebut sekitar 300 meter.

Masyarakat menolak pembangunan patok perbatasan di titik yang tersebut karena sudah ada patok perbatasan lama yang selama ini menjadi patokan warga.

Pada Senin, 25 Agustus 2025, sebanyak 24 orang warga Desa Inbate berencana menuju ke lokasi tersebut berniat memotong alang-alang untuk pembangunan rumah adat. Ketika tiba di lokasi, sejumlah warga Negara Timor Leste berada di lokasi dengan peralatan hendak membangun patok perbatasan.

 

Baca juga: Bentrok di Perbatasan Indonesia-Timor Leste, Wagub NTT Minta Masyarakat Tahan Diri 

 

Ketika melihat warga Desa Inbate di lokasi itu, mereka kemudian kembali ke wilayah Negara Timor Leste. Tidak lama berselang, warga Negara Timor Leste tersebut kembali lagi ke lokasi tersebut bersama dengan sejumlah anggota UPF Timor Leste.

"Adan 7 orang (UPF Timor Leste) mereka bawa senjata semua. Ketika mereka kembali ke sini, mereka panggil kami untuk ketemu. Kami tidak mau. Kami suruh mereka pulang tapi mereka tidak mau. Mereka bersikeras untuk kami ketemu," ujarnya.

Masyarakat enggan menemui UPF dan Warga Timor Leste tersebut. Pasalnya, mereka tidak menyetujui pembangunan patok perbatasan di lokasi baru. Masyarakat juga telah membuat pernyataan sikap dan mengirimkannya ke Bupati TTU mengenai penolakan ini beberapa waktu lalu.

Karena tidak mau menuruti permintaan UPF Timor Leste untuk bertemu, kata Balthasar, UPF Timor Leste kemudian mengeluarkan tembakan. Sebanyak 7 kali bunyi tembakan terdengar di TKP. Sedangkan 1 kali tembakan terdengar agak jauh dari TKP.

Diduga, tembakan yang terdengar cukup jauh dari TKP tersebut yang mengenai bahu seorang warga bernama Paulus Taek Oki.

"Setelah mereka pulang baru Paulus Oki ini raba di bahu baru bilang saya sudah luka. Coba kalau dia (mengetahui ada) luka itu mereka masih ada di sini, pasti mereka salah satu juga harus mati juga," bebernya.

Insiden penembakan dan bentrok ini, baru pertama kali terjadi di lokasi itu. Masyarakat juga kesal lantaran pembangunan jalan menuju ke lokasi pembangunan patok perbatasan yang baru ini tidak pernah disampaikan dan diketahui oleh Pemerintah Desa Inbate.

Jika ada rencana pembangunan patok perbatasan di lokasi yang baru, semestinya dilakukan perundingan dan diskusi dengan masyarakat atau pemerintah setempat. 

Kepala Desa Inbate, Matias Eko mengatakan, lokasi di mana sempat bentrok antara warga Indonesia dan Warga Timor Leste serta UPF Timor Leste tersebut, merupakan lokasi kebun milik Warga Desa Inbate

Selama ini masyarakat Desa Inbate mengolah lahan tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Secara turun temurun lahan tersebut menjadi sumber hasil pertanian Warga Desa Inbate. Selama ini, kata Matias, tidak pernah terjadi bentrok berdarah di lokasi tersebut.

Masyarakat Desa Inbate (sekaligus pemilik lahan pertanian), meminta agar tidak boleh ada pembangunan patok perbatasan di lokasi itu. Pasalnya, titik tersebut selama ini menjadi titik sengketa antara warga Indonesia dan Timor Leste.

"Kalau mereka tidak bangun (patok perbatasan), pasti tidak ada kejadian seperti itu," ucapnya.

Semestinya, tidak boleh dilakukan aktivitas pembangunan patok perbatasan. Mereka menyarankan agar dilakukan ke depan tidak dilaksanakan aktivitas

Ia berharap, insiden tersebut tidak terjadi lagi di kemudian hari. Sementara masyarakat juga diminta untuk menjaga keamanan. (bbr)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved