Berita NTT
Guru di Perbatasan Indonesia-Timor Leste Tetap Semangat Meski Digaji 100 Ribu Perbulan
Yustus tidak menampik realita pahit mengenai penghasilan yang ia terima. Sebagai guru swasta, gaji yang diperolehnya hanya Rp 100 ribu rupiah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/CERITA-Yustus-Nai-Kau-SPd-Grsalah-satu-Guru-SMP-Swasta-di-Kabupaten-Belu.jpg)
Ringkasan Berita:
- Seorang guru swasta di Belu, Yustus Nai Kau, tetap mengajar meski hanya digaji Rp 300 ribu setiap tiga bulan.
- Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan guru swasta, terutama yang bertugas di wilayah perbatasan.
- Meski banyak keterbatasan, Yustus tetap mengabdi karena mengajar adalah panggilan jiwa demi masa depan anak-anak perbatasan.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus TANGGUR
TRIBUNFLORES.COM, ATAMBUA - Momen Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2025, salah guru swasta di Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL, tetap kuat dan bekerja sepenuh hati meski menghadapi keterbatasan.
Salah satu Guru SMP Swasta di Kabupaten Belu, Yustus Nai Kau, S.Pd, Gr., mengungkapkan di momentum Hari Guru ini ia berharap pemerintah semakin memperhatikan nasib para guru swasta, terutama mereka yang bertugas di perbatasan.
Menurutnya, guru adalah pilar penting bagi masa depan generasi bangsa, sehingga kesejahteraan mereka perlu diperkuat agar proses pendidikan berjalan optimal.
Baca juga: Kejari Kupang Tahan ASN PUPR sebagai Tersangka Keenam Kasus Sumur Bor Oenuntono
“Sesuai tema tahun 2025, Saya berharap guru-guru hebat yang ada di wilayah perbatasan tetap kuat demi Indonesia yang kuat. Dan kami berharap guru swasta juga diperhatikan lagi ke depannya,”ungkapnya saat dijumpai POS KUPANG.COM, Selasa (25/11/2025).
Yustus tidak menampik realita pahit mengenai penghasilan yang ia terima. Sebagai guru swasta, gaji yang diperolehnya hanya Rp 300.000 setiap tiga bulan.
Jumlah tersebut memang masih sangat jauh dari kata cukup, namun tidak pernah memadamkan semangatnya untuk terus mengajar.
“Kami bersyukur tahun 2025 ini mendapatkan insentif dari pusat. Tujuh bulan diterima satu kali, sekitar dua juta lebih. Itu sangat membantu. Ditambah lagi biasanya ada penambahan dari Yayasan,” tuturnya.
Meski demikian, ia berharap adanya regulasi yang lebih berpihak pada guru swasta agar pendapatan dapat lebih layak dan diterima secara berkala.
Yustus mulai mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak tahun 2017. Saat itu ia masih berstatus tenaga sukarela, tanpa pendapatan tetap. Dorongan untuk mendidik anak bangsa menjadi energi yang membuatnya bertahan hingga saat ini.
Selama mengabdi, Yustus baru satu kali mengikuti seleksi CPNS. Meskipun belum membuahkan hasil, ia tidak kehilangan harapan. Ia tetap berharap suatu saat dapat memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk berkarier sebagai guru.
Di sekolah tempatnya mengajar, terdapat delapan orang guru swasta yang kini bersyukur karena telah dinyatakan lolos Pendidikan Profesi Guru (PPG).
"Ini menjadi angin segar bagi kami untuk peningkatan kompetensi dan peluang karier. Semoga ke depan kami juga bisa diangkat menjadi PPPK. Itu harapan terbesar kami sebagai guru swasta,” ucap Yustus.
Meski tantangan tak henti datang, Yustus dan para guru lainnya tetap memilih bertahan.
"Bagi kami, mengajar bukan semata pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Anak-anak di perbatasan membutuhkan pendidik yang setia mendampingi mereka menuju masa depan yang lebih cerah," tutupnya. (gus)
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News