Berita Ende
Tak Ada Jembatan, Pelajar Fataatu Timur, Ende Naik Traktor ke Sekolah
Pelajar dari SMPN Detunggali, SDI Niosanggo, dan PAUD Detunggali menjadikan Kali Lowolaka sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Penulis: Albert Aquinaldo | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/NAIK-TRAKTOR-Pelajar-dari-SMPN-Detunggali-SDI-Niosanggo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Puluhan siswa SD, SMP, dan PAUD di Desa Fataatu Timur harus menyeberangi Kali Lowolaka tanpa jembatan, bahkan kerap bergantung pada traktor saat arus sungai deras.
- Tingginya debit air selama beberapa hari terakhir membuat traktor pun tak bisa digunakan, sehingga aktivitas sekolah terganggu dan anak-anak terpaksa menunggu air surut.
- Ketiadaan jembatan menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan di pedesaan dan mempertaruhkan masa depan pendidikan anak-anak setempat.
Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Arus Kali Lowolaka masih mengalir deras.
Air berwarna kecokelatan membelah akses utama warga Desa Fataatu Timur, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, termasuk jalur yang setiap hari harus dilewati puluhan pelajar untuk menuju sekolah.
Sabtu (24/1/2026) pagi, puluhan pelajar SD dan SMP di wilayah itu tampak rapi mengenakan seragam Pramuka.
Di antara derasnya arus sungai dan ancaman banjir, mereka tetap berdiri menunggu giliran menyeberang. Tidak ada jembatan. Tidak ada jalan alternatif.
Baca juga: Kades Fataatu Timur Ende Harap Pembangunan Jembatan Kali Lowolaka Segera Terealisasi
Manfaatkan Traktor
Pelajar dari SMPN Detunggali, SDI Niosanggo, dan PAUD Detunggali menjadikan Kali Lowolaka sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Sungai itu bukan sekadar aliran air, tetapi rintangan besar yang harus ditaklukkan demi mendapatkan pendidikan.
Dalam kondisi normal, warga biasanya memanfaatkan traktor sebagai alat bantu untuk menyeberang saat air sungai meningkat.
Namun, sudah empat hari terakhir, cara itu pun tak bisa digunakan. Tingginya debit air dan derasnya arus membuat traktor tidak mampu melintas dengan aman.
Meski demikian, semangat para pelajar tak surut.
Puluhan pelajar dari Kampung Nuandale dan Leleloo, Desa Fataatu Timur tetap berusaha datang ke sekolah, meski harus menunggu air sedikit surut atau mencari cara lain untuk menyeberang dengan penuh kehati-hatian.
Kondisi ini menjadi potret nyata keterbatasan infrastruktur pendidikan di wilayah pedesaan.
Ketiadaan jembatan di Kali Lowolaka bukan hanya menyulitkan aktivitas warga, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan anak-anak yang setiap hari berjuang demi masa depan mereka.
Di tengah derasnya arus sungai, semangat belajar para pelajar Fataatu Timur tetap mengalir kuat, menjadi harapan akan perhatian dan solusi nyata dari pihak terkait.
Derasnya arus Kali Lowolaka memaksa para pelajar di Desa Fataatu Timur, Kecamatan Detunggali, untuk menempuh cara ekstrem demi bisa berangkat ke sekolah.