Erupsi Gunung Lewotobi
Jeritan Pengungsi Lewotobi: Tak Lagi Mampu Biayai Pendidikan Anak
Kepada wartawan, Mama Monika begitu ia biasa disapa menceritakan bagaimana abu vulkanik dari letusan Gunung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Monika-Liwu-Pengungsi-Lewotobi.jpg)
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Erupsi berulang Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur sejak beberapa bulan terakhir terus memberi dampak besar terhadap kehidupan masyarakat sekitar, khususnya mereka yang bergantung penuh pada hasil pertanian.
Tak hanya menghentikan aktivitas belajar di sekolah-sekolah, letusan ini juga merusak sumber mata pencaharian warga.
Salah satunya dirasakan oleh Monika Liwu, yang kini harus berjuang keras demi menyekolahkan anaknya di tengah situasi yang kian sulit.
Kepada wartawan, Mama Monika begitu ia biasa disapa menceritakan bagaimana abu vulkanik dari letusan Gunung Lewotobi Laki-laki telah melumpuhkan seluruh kebun miliknya. Tanaman jagung dan ubi yang menjadi tumpuan hidupnya tidak bisa dipanen karena tertutup debu dan mati. Dampaknya, pendapatan keluarga pun terjun bebas.
Baca juga: Pengamat: Gunung Lewotobi Laki-laki Masih Waspada Meski Aktivitas Meningkat
“Pendapatannya kurang, malahan tidak sampai Rp100.000. Setengah mati sekali, apalagi anak sudah jenjang wisuda begini. Mama setengah mati,” ujar Monika dengan suara lirih saat ditemui di rumahnya, Senin 22 September 2025.
Monika mengungkapkan bahwa anak satu-satunya kini sedang berada di ambang kelulusan dan tengah mempersiapkan wisuda.
Namun biaya pendaftaran dan administrasi sekolah menjadi beban yang berat untuk ditanggung, terlebih ketika tidak ada lagi pemasukan tetap dari hasil tani.
“Anak mama satu orang sekolah, ini mau wisuda sudah. Kalau mau bayar uang sekolah, regis-nya itu pun tidak ada. Bantuan dari pemerintah juga tidak ada. Terus terang bukan mama mau omong apa,” ungkapnya,
Ia pun menambahkan bahwa kesulitan ekonomi ini bukan hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh seluruh keluarga dan tetangganya.
Bahkan untuk sekadar meminta bantuan ke sanak saudara pun sudah tidak memungkinkan, karena hampir semua mengalami dampak serupa.
“Kalau memang gunungnya erupsi terus begini, menghambat juga untuk kami dalam mencari nafkah. Cuma mama itu hanya bertahan saja dengan apa yang ada sampai menyelesaikan anak punya sekolah. Tidak ada dari pihak manapun yang membantu mama. Kalau minta di keluarga pun, semuanya terdampak. Jadi tidak bisa. Mereka juga ada anak sekolah, terus kehidupan mereka juga seperti itu saja. Itu yang mama rasakan,” lanjut Monika dengan wajah lesu.
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News
| Pengamat: Gunung Lewotobi Laki-laki Masih Waspada Meski Aktivitas Meningkat |
|
|---|
| Curhat Siswa Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi, Kesulitas Belajar hingga Dihantui Rasa Takut |
|
|---|
| Status AWAS, Gunung Lewotobi 31 Kali Gempa Erupsi 1 Kali Gempa Guguran |
|
|---|
| Gunung Api Lewotobi Laki-laki Meletus Pagi Ini, Tinggi Kolom 1.500 Meter |
|
|---|
| Malaria Impor Mulai Serang Huntara Penyintas Lewotobi Laki-laki |
|
|---|