Uskup Larantuka
Mgr Yohanes Hans Monteiro dan Pesan No Bale Nagi : Pulang Memeluk Dunia yang Terluka
Mgr. Yohanes Hans Monteiro resmi menjadi Uskup Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung setelah 22 tahun pelayanan.
Penulis: Cristin Adal | Editor: Gordy Donovan
Ringkasan Berita:
- Mgr. Yohanes Hans Monteiro resmi menjadi Uskup Larantuka, menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung setelah 22 tahun pelayanan.
- Moto Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes menekankan kesatuan tubuh, roh, dan harapan serta perhatian pada ketimpangan sosial dan eksploitasi ekonomi.
- Kembalinya Mgr. Hans ke kampung halaman adalah misi pastoral untuk membawa kasih Tuhan dan harapan bagi umat di wilayah rawan bencana dan dunia yang terluka.
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Takhta episkopal di kaki Gunung Ile Mandiri resmi memulai babak baru.
Mgr. Yohanes Hans Monteiro resmi ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (11/2/2026).
Misa tahbisan ini menjadi momen krusial bagi Gereja Katolik setempat, menandai estafet kepemimpinan dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah mendedikasikan 22 tahun pelayanannya di wilayah kepulauan tersebut.
Keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik dibacakan oleh Monsinyur Michael Pawlowicz, Pelaksana Tugas Kedutaan Vatikan untuk Indonesia.
Di hadapan ribuan umat, Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden menyampaikan homili yang memotret tajam realitas sosial yang menghimpit rakyat kecil.
Baca juga: Gemuruh Tepuk Tangan Umat Saat Pembacaan Mandat Paus Penahbisan Uskup Larantuka
Estafet di Tanah Bencana
Misa tahbisan ini menutup sebuah era panjang kepemimpinan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang dimulai sejak 2004.
Mgr. Kleden mengenang kembali momen 22 tahun silam ketika Mgr. Frans memulai pelayanan sebagai Uskup Koajutor. Menariknya, komentator liturgi saat itu adalah Mgr. Hans Monteiro yang kala itu masih muda.
"Tidak tahu apa yang bakal terjadi dengan kita hari ini yang juga masih muda dan tampil meyakinkan," ujar Mgr. Kleden.
Ia menggarisbawahi bahwa kepemimpinan di Larantuka adalah misi di wilayah yang menantang secara geografis dan rawan bencana.
"Untuk menjadi gembala di wilayah yang demikian sering mengalami bencana; banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi. Dan untuk menjadi pemimpin bagi umat yang tinggal terpisah di pulau-pulau dan dibatasi gunung dan lembah, diperlukan batin yang terbuka pada kehendak Allah seperti Bunda Maria dan kesungguhan menghayati doa Yesus untuk merawat kesatuan," ungkapnya.
”Satu” yang Menyentuh Akar Rumput
Dalam tahbisannya, Mgr. Hans Monteiro memilih satu moto yang disebut tiga kali dalam bahasa Latin: Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan).
Mgr. Kleden membedah makna "Satu" ini sebagai komitmen yang menyentuh seluruh dimensi manusia: tubuh, roh, dan pengharapan.
"Moto ini menyadarkan kita bahwa kita semua, apa pun perbedaan yang ada di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu," tegas Mgr. Kleden. Namun, ia mengingatkan bahwa kesatuan ini harus membuka mata terhadap ketimpangan sosial yang nyata.