Selasa, 5 Mei 2026

Renungan Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Sabtu 30 Agustus 2025, Baik dan Setia 

Mari simak renungan Katolik Sabtu 30 Agustus 2025. Tema renungan Katolik baik dan setia. Baca renungan katolik hari ini.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Sabtu 30 Agustus 2025, Baik dan Setia 
TRIBUNFLORES.COM / GG
PATER JOHN LEWAR SVD - Sosok Pater John Lewar, SVD.Mari simak renungan Katolik Sabtu 30 Agustus 2025. Tema renungan Katolik baik dan setia. Baca renungan katolik hari ini. 

Kini datang juga hamba yang menerima satu talenta dan berkata, ‘Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan memungut di tempat Tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!’

Maka tuannya menjawab, ‘Hai engkau, hamba yang jahat dan malas! Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur, dan memungut di tempat aku tidak menanam. Seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerima uang itu serta dengan bunganya. 

Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya, dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, akan diberi sampai ia berkelimpahan, tetapi siapa yang tidak punya, apa pun yang ada padanya akan diambil. Dan buanglah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan ada ratap dan kertak gigi’.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ada banyak suami yang baik, tetapi tidak 
semua setia terhadap pasangan hidupnya. Ada banyak istri yang baik, tetapi 
tidak semua setia terhadap pasangan hidupnya. Ada banyak kaum religius dan 
rohaniwan yang baik tetapi tidak semua dari mereka setia. Singkat kata, 
menjadi orang baik saja tidak cukup. Setiap orang dibentuk oleh Tuhan dan 
dikehendaki untuk menjadi orang yang baik dan setia dalam panggilan masing
masing. 

Hari ini Rasul Paulus menasihati kita agar hidup tenang (1Tes 4:11). Dia minta 
supaya hidup tenang itu dipahami sebagai sebuah kehormatan. Mengapa? 
Karena tidak gampang hidup tenang, apalagi di “zaman banyak kata-kata” 
seperti sekarang ini. Setiap lidah ingin berbicara dan didengarkan oleh yang lain. 
Padahal, untuk menjadi orang baik tidak harus banyak omong, baik omong 
tentang diri sendiri maupun tentang orang lain. 

Rasul Paulus juga memberi nasihat agar kita bisa mengurus persoalan-persoalan 
sendiri dan bekerja dengan tangan (ay. 11). Kedua hal ini, jika dilakukan 
dengan kasih, akan membentuk diri sebagai orang yang baik dan setia; menjadi 
orang baik karena mampu mengurus persoalan-persoalan sendiri, juga dalam 
urusan keluarga, dan menjadi orang yang setia dalam menggunakan kedua 
tangannya untuk bekerja. Dengan begitu, hidupnya tidak menjadi beban bagi 
orang lain, malahan dengan kedua tangannya dia bisa meringankan beban orang 
lain. Ia menjadi orang yang baik dan setia. 

Orang yang baik dan setia bisa menyenangkan hati Allah, sebab ia mau 
melakukan bahkan hal-hal yang sepele, kecil dan sederhana namun dilandasi 
oleh cinta yang besar. Seperti dikatakan oleh Santa Faustina, “Cinta yang murni 
mampu melakukan perbuatan-perbuatan besar, dan ia tidak dipatahkan oleh 
kesulitan ataupun penderitaan. Sebagaimana cinta tetap kuat di tengah-tengah 
kesulitan besar, demikian juga ia bertahan dalam menghadapi kehidupan sehari
hari yang rutin dan membosankan. Ia tahu bahwa hanya satu hal yang 
diperlukan untuk menyenangkan hati Allah: Melakukan bahkan hal-hal yang 
paling kecil karena cinta yang besar – cinta, dan hanya cinta” (Buku Harian 
Santa Faustina, No. 140). 

Kekuatan cinta sungguh luar biasa: Membentuk seseorang menjadi baik dan 
setia dalam melakukan hal-hal yang paling kecil sekalipun, tetapi dijiwai oleh 
cinta yang murni dan besar. Tanpa cinta yang murni dan besar sulitlah menjadi 
orang yang baik dan setia. 

Injil Matius (25:14-30) hari ini menunjukkan buktinya. Seorang hamba diberi 
satu talenta karena memang kemampuannya segitu (Mat 25:15). Namun, 
karena pada dasarnya dia tidak memiliki cinta yang murni dan besar, sekalipun 
nilainya satu talenta, dia tidak bisa mengembangkannya. Karena tidak memiliki 
cinta yang murni dan besar, maka dia tidak bisa menjadi hamba yang baik dan 
setia. Perhatikan kata-kata yang diproduksi dari hatinya, “Tuan, aku tahu Tuan 
adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan 
memungut di tempat Tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi 
menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!” (ay. 
24-24). Dari kata-katanya yang terkesan kasar itu tampak bahwa dia bukanlah 
seorang hamba yang baik. Perhatikan respons Sang Tuan, “Hai engkau, hamba 
yang jahat dan malas!” (ay. 26). 

Seorang hamba yang mendapat kepercayaan untuk mengembangkan satu 
talenta namun malah menyembunyikannya dalam tanah adalah gambaran 
tentang orang yang tidak setia. Apa konsekuensinya? Santa Faustina menulis 
dalam Buku Harian-nya, “Orang yang tidak mau mempergunakan rahmat
rahmat yang kecil tidak akan diberi rahmat yang besar” (Ibid., No. 165). 
Lain halnya dengan hamba yang menerima dua dan lima talenta dan mampu 
mengembangkannya menjadi dua dan lima talenta lagi. Mereka disebut oleh 
Tuan mereka sebagai hamba yang baik dan setia. Kata-Nya, “Baik sekali 
perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia; engkau telah setia dalam 
perkara kecil! Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara 
yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (ay. 20-21 dan 
23-23). 

Saudara-saudari seiman dalam Tuhan Yesus, menjadi hamba yang baik dan 
setia adalah soal pilihan dan komitmen. Jika orang memilih menjadi orang yang 
baik dan setia, maka apa pun yang dilakukan akan dijiwai dengan kasih yang 
murni dan besar. Itulah kunci untuk bisa masuk dan turut serta dalam 
kebahagiaan Tuan atas hidup kita, yakni Tuhan. Maka, mari kita berjalan dan 
berjuang bersama untuk menjadi orang yang baik dan setia dalam melakukan 
tanggung jawab kita masing-masing sesuai dengan panggilan dan kesanggupan 
kita namun dijiwai oleh kasih yang murni dan besar (diolah dari RP. Agustinus 
Ari Pawarto, O.Carm,https://mkk.or.id/renungan-detail.php?r=2057224089) 

Doa:  

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved