Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Hari Ini Sabtu 6 September 2025, Menjadi Sahabat Perjalanan
Mari simak renungan hari ini Sabtu 6 September 2025. Tema renungan hari ini Sabtu menjadi sahabat perjalanan.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Bacaan-Injil-Katolik-Hari-Ini-Sabtu-5-November-2022.jpg)
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:6
Akulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan, sabda Tuhan.hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.
Bacaan Injil: Luk 6:1-5
Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Perbedaan penafsiran antara Yesus dengan orang Farisi mengenai hari Sabat berawal dari tindakan para murid yang memetik gandum, menggosok, dan memakannya. Orang Farisi melihat apa yang dilakukan para murid Yesus sebagai pelanggaran atas hari Sabat yang mereka pahami dan hayati. Semangat hari Sabat adalah "jangan melakukan suatu pekerjaan" (Kel. 20:9). Yesus memberikan empat jawaban penting. Pertama, sama seperti dialami Daud, pelanggaran hari Sabat untuk kebutuhan fisik. Kedua, iman bekerja pada hari Sabat. Ketiga, Allah lebih memilih kasih setia daripada kurban. Keempat, Yesus sebagai Anak Manusia mempunyai kewenangan khusus atas hari Sabat.
Namun, di atas argumentasi ini ada suatu mentalitas: mengukur nilai, pertimbangan dan situasi orang lain dengan nilai, pertimbangan dan situasi sendiri. Menerapkan penghayatan agama pribadi ke penghayatan orang lain inilah yang menjadi kecenderungan tidak sehat dalam hidup beriman. Memang selalu ada standar, tetapi standar itu juga dikuti berdasarkan kemampuan dan situasi orang yang bersangkutan. Inilah yang disebut dengan memaksakan penghayatan agama pribadi kepada orang lain.
Hal serupa kadang kita lakukan secara tidak sengaja kepada saudara-saudara kita yang tidak bisa mengambil bagian dalam kegiatan lingkungan, Misa atau kegiatan gereja lainnya. Dengan segera kita mengatakan bahwa "dia kurang beriman", tanpa kita tahu situasi dan kondisi yang sesungguhnya. Alangkah baiknya kita mendekati, mendengarkan, dan membantunya untuk bertumbuh dalam pengetahuan, pemahaman, dan praktik iman. Proses ini tentunva tidak sekali jadi, tetapi terkadang mernbutuhkan waktu yang lebih panjang. Yang paling utama adalah menjadi sahabat perjalanan mereka dalam iman.
Ya Bapa, semoga kami tidak mengukur penghayatan iman orang lain dengan penghayatan iman kami sendiri. Ajarilah kanti untuk dapat menjadi teman seperjalanan sesama kami dalam iman. Amin.. (Sumber the katolik.com/adiutami.com/kgg).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News