Rabu, 27 Mei 2026

Injil Katolik Hari Ini

Injil Misa Hari Minggu 7 September 2025 dan Mazmur Tanggapan

Simak Injil Katolik misa hari ini Minggu 7 September 2025. Injil katolik misa hari lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Injil Misa Hari Minggu 7 September 2025 dan Mazmur Tanggapan
TRIBUNFLORES.COM / GG
GEREJA MALAWONA - Sebuah gereja di Malawona, Kecamatan Aesesa Selatan, Nagekeo.Mari simak Injil Katolik misa hari ini Minggu 7 September 2025. Injil katolik misa hari lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik. 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak Injil Katolik misa hari ini Minggu 7 September 2025.

Injil katolik misa hari lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Minggu 7 September 2025 merupakan, hari Minggu Biasa XXIII, hari Minggu Kitab Suci Nasional, Santa Regina Perawan dan Martir, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Minggu 7 September 2025 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Teks Misa Sore Minggu 7 September 2025 Pekan Biasa XXIII Tahun C

 

Bacaan Pertama: Kebijaksanaan 9:13-18

Siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?

Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan? Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap. Sebab jiwa dibebani oleh badan yang fana, dan kemah dari tanah memberatkaan budi yang banyak berpikir.

Sukar kami menerka apa yang ada di bumi, dan dengan susah payah kami menemukan apa yang ada di tangan, tapi siapa gerangan telah menyelami apa yang ada di surga? Siapa gerangan dapat mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus?

Demikianlah diluruskan lorong orang yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan pada-Mu; maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17

Ref. Tuhan penjaga dan benteng perkasa dalam lindungan-Nya aman sentosa.

Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.

Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.

Ajarilah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat. Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas kami! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami teguhkanlah!

Bacaan Kedua: Filemon 9b-10.12-17

Terimalah dia, bukan sebagai hamba, melainkan sebagai saudara terkasih.

Saudaraku yang terkasih, aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, dan kini dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anak yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus, Dia, buah hatiku ini, kusuruh kembali kepadamu.

Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan demi Injil. Tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu supaya yang baik itu kaulakukan bukan karena terpaksa, melainkan dengan sukarela.

Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari itu, yaitu sebagai saudara terkasih.

Bagiku ia sudah saudara, apalagi bagimu, baik secara manusiawi maupun di dalam Tuhan. Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil: Mzm 119:135

Ref. Alleluya, alleluya.

Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Bacaan Injil: Lukas 14:25-33

Barangsiapa tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?

Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik: Mengikut Yesus dengan Totalitas

Setiap orang tentu ingin mengikuti Yesus. Tetapi Injil Minggu ini, Lukas 14:25-33, mengingatkan bahwa menjadi murid Kristus bukanlah perkara ringan. Yesus dengan tegas menyampaikan bahwa syarat untuk mengikut Dia adalah meninggalkan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang paling dekat dengan hidup kita.

Bagi sebagian orang, perkataan Yesus terasa keras: “Barangsiapa tidak membenci ayahnya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:26). Apa maksud Yesus? Mari kita renungkan lebih dalam.

1. Makna “Membenci” dalam Konteks Injil

Yesus tentu tidak mengajarkan kebencian. Dalam bahasa Semit, kata “membenci” di sini lebih berarti “meletakkan di posisi kedua”. Artinya, kasih kepada Yesus haruslah yang utama, bahkan lebih tinggi dari kasih kita kepada keluarga atau diri sendiri.

Mengikut Yesus berarti menjadikan Dia pusat hidup. Segala relasi, pekerjaan, cita-cita, bahkan keluarga haruslah dilihat dalam terang Kristus.

2. Memikul Salib dan Mengikuti Kristus

Yesus menambahkan: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Salib adalah simbol penderitaan, pengorbanan, dan kesetiaan.

Mengikut Yesus bukan hanya soal berkat, tetapi juga keberanian menanggung konsekuensi iman. Apakah kita siap memikul salib kesetiaan dalam keluarga, pekerjaan, bahkan ketika dicemooh karena iman kita?

3. Perumpamaan: Menghitung Biaya

Yesus lalu memberi dua perumpamaan: seorang yang ingin membangun menara dan seorang raja yang hendak berperang. Semuanya butuh perhitungan.

Artinya, mengikut Kristus bukanlah keputusan setengah-setengah. Kita harus siap dengan segala konsekuensi dan berani menyerahkan hidup sepenuhnya. Iman Katolik bukan hanya rutinitas, tetapi pilihan hidup yang menyeluruh.

4. Menjadi Murid Kristus di Era Digital

Di zaman digital ini, mengikut Yesus juga berarti berani menjadi saksi iman di dunia maya.

Apakah kita berani menolak konten yang menyesatkan?

Apakah kita menggunakan media sosial untuk menebarkan kasih, bukan kebencian?
Apakah kita mengutamakan doa di tengah hiruk pikuk notifikasi?

Mengikut Yesus menuntut totalitas, bahkan dalam cara kita hadir di dunia digital.

5. Kesimpulan

Yesus tidak mencari pengikut yang setengah hati. Ia menghendaki murid yang berani mengutamakan-Nya di atas segalanya.

Hari ini, kita diajak untuk bertanya: Apakah Yesus sungguh menjadi pusat hidupku? Apakah aku berani memikul salib dan mengikuti-Nya dengan totalitas?

Marilah kita berdoa agar Roh Kudus memampukan kita menjadi murid yang setia, yang mengasihi Yesus di atas segalanya, dan yang berani memberikan hidup bagi-Nya.

Doa Penutup

“Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk mengasihi-Mu di atas segala sesuatu. Berikanlah aku keberanian untuk memikul salib dan mengikut Engkau dengan setia, tanpa hitung-hitungan. Semoga hidupku menjadi saksi kasih-Mu di dunia nyata maupun dunia digital. Amin.” (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved