Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Hari Ini Minggu 7 September 2025, Mendengarkan dan Melihat Tuhan
Mari simak renungan hari ini Minggu 7 September 2025. Tema renungan hari ini mendengarkan dan melihat Tuhan.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/Gereja-Katolik-Aeramo-Nagekeo.jpg)
Bacaan Injil: Lukas 14:25-33
Barangsiapa tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Sekolah favorit biasanya menetapkan syarat bagi calon murid untuk dapat mendaftarkan diri. Dengan mempunyai murid yang pintar dan cerdas, para guru tidak akan kesulitan untuk mengajar mereka. Sekolah pun akan mendapatkan prestasi dan akreditasi yang baik. Sebaliknya, jika sekolah mendapatkan murid yang rendah dalam kepintaran dan kecerdasannya, maka para guru akan kesulitan untuk mengajar mereka, dan sekolah berjuang sekuat tenaga untuk meningkatkan mutu pendidikannya.
Dalam tradisi Yahudi, muridlah yang biasanya mencari guru. Semakin pintar murid, ia akan mencari seorang guru yang bagus dan terkenal. Seleksi untuk menjadi murid itu ketat dan berat karena menjadi murid berarti tinggal bersama dengan gurunya, hidup seperti gurunya, dan belajar dari gurunya. Dengan cara demikian, para murid akan semakin mengenal dan meneladan bagaimana gurunya mempraktikkan apa yang diajarkannya.
Demikian juga halnya menjadi murid Yesus. Menjadi murid tidak cukup hanya "mendengarkan dan melihat Yesus" dan setelah itu pulang. Menjadi murid Yesus berarti tinggal bersama Yesus. Dan bukan hanya untuk menikmati dan mendompleng ketenaran Sang Guru. Yesus mengajukan tuntutan kepada mereka, "Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Tuntutan ini tidaklah mudah, tetapi penting bagi pertumbuhan hidup para murid. Maka, Tuhan pun meminta mereka untuk mengukur kesungguhan diri. Melalui dua perumpamaan tentang orang yang mendirikan menara dan seorang raja yang hendak berperang, Yesus mengingatkan kepada orang yang mengikuti-Nya untuk menimbang kesungguhan dan kemampuan mereka.
Sebagai orang Kristen, kita dipanggil bukan hanya untuk "mendengarkan dan melihat Tuhan", melainkan untuk menjadi murid-Nya. Tuntutan yang sama juga diberikan kepada kita. Tuhan membutuhkan totalitas dan kesungguhan kita untuk menjadi murid sejak awal, bukan di pertengahan atau bahkan akhir. Semua itu bukan demi Tuhan Yesus, tetapi demi kebaikan dalam mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. (Sumber the katolik.com/adiutami.com/kgg).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News