Renunga Katolik Hari Ini
Renungan Katolik Hari Ini Sabtu 25 Oktober 2025, Bertobat dan Berharap
Mari simak renungan Katolik hari ini Sabtu 25 Oktober 2025. Tema renungan Katolik hari ini bertobat dan berharap.
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-LEWAR-SVD-Sosok-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Maka berkatalah ia kepada pengurus kebun anggur itu,’Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara itu namun tidak pernah menemukannya. Sebab itu tebanglah pohon ini. Untuk apa pohon itu hidup di tanah ini dengan percuma?’
Pengurus kebun anggur itu menjawab, ‘Tuan, biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah’!”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
Menguak tragedi masa lalu bisa menginspirasi manusia masa kini bagaimana ia
telah hidup. Selain itu, menguak tragedi masa lalu juga bisa menginspirasi
manusia masa kini bagaimana seharusnya ia hidup. Intinya, sebuah tragedi bisa
menjadi bahan refleksi diri.
Seperti dalam Injil hari ini, Yesus menguak tragedi orang-orang Galilea yang
dibunuh Pilatus, sehingga darah mereka tercampur dengan darah kurban yang
mereka persembahkan. Kata Yesus, Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih
besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka
mengalami nasib ini? Tidak, kata-Ku kepadamu (Luk 13:2-3a). Yesus menguak
tragedi lain, Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara
dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada semua orang lain yang tinggal
di Yerusalem? Tidak, kata-Ku kepadamu (ay. 4-5a).
Saya mau menambahkan satu lagi, Atau sangkamu, keseratus tiga puluh tiga
orang yang mati dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur,
pada 1 Oktober 2022 lalu, lebih besar kesalahannya daripada semua orang
Malang yang lain, karena mereka mengalami nasib ini? Orang-orang Yahudi
berpendapat bahwa orang-orang Galilea yang mati di tangan Pilatus atau 18
orang yang mati ditimpa menara Siloam, di pinggiran wilayah Yerusalem, adalah
akibat dosa mereka yang mati ini, bukan karena dosa mereka yang masih hidup.
Itulah sebabnya, Yesus mengingatkan mereka, Tetapi jikalau kalian tidak
bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian (ay. 3b dan 5b).
Saya berharap tidak ada pikiran orang-orang Yahudi yang merasuk dalam diri
orang-orang di Malang atau di kota lain yang berpendapat bahwa kematian 133
orang di Malang, dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, karena dosa mereka.
Sama sekali tidak. Dosa memang bisa membawa kematian. Sengat dosa adalah
maut, kata Rasul Paulus dalam 1Kor 15:56. Namun, tidak ada hubungan antara
malapetaka atau tragedi kematian dan dosa manusia. Malapetaka atau tragedi
yang berakibat orang mati bisa menimpa siapa saja, baik yang sedang dalam
keadaan dosa berat atau dosa ringan. Tragedi bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Inti dari dua tragedi yang disebut Yesus dan satu tragedi yang saya tambahkan
mau mengatakan bahwa setiap bentuk malapetaka atau tragedi yang dapat dan
memang dialami oleh manusia, siapa saja, di mana saja dan kapan saja,
merupakan suatu peringatan abadi akan perlunya bahkan bukan hanya perlu
tetapi pentingnya bertobat. Sebab kematian bisa terjadi tiba-tiba tanpa orang
punya waktu untuk mempersiapkan diri.
Saudara-saudari, umat beriman, Yesus menekankan pentingnya bertobat.
Sebab, Ia yakin, bahwa setiap orang, tanpa kecuali, berdosa. Sehingga, setiap
orang, tanpa kecuali, harus terus-menerus berobat sebelum mati. Kematian bisa
menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja.
Pertobatan yang Yesus serukan kepada orang-orang Yahudi pada waktu itu
adalah menerima Yesus dan percaya kepada-Nya dan justru inilah yang tidak
dilakukan oleh orang-orang Yahudi waktu itu. Namun, karena Allah itu kasih
(1Yoh 4:8.16b) dan kasih itu sabar (1Kor 13:4), maka orang-orang Yahudi
masih diberi kesempatan untuk bertumbuh dan menghasilkan buah pertobatan,
lewat perumpamaan pohon ara (ay. 6-9).
Lantas bagaimana relevansinya bagi kita yang sudah menerima Yesus dan
percaya kepada-Nya? Kita pun adalah orang-orang berdosa yang juga perlu
bertobat. Bertobat juga berarti mau menerima Yesus serta percaya kepada-Nya
sepenuhnya dan seutuhnya dalam seluruh hidup kita. Kita mau hidup tetap di
dalam Dia. Kita mau berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (Kol 2:6-7).
Oleh karena itu, jika kita bertobat dalam semangat ini, maka kita boleh berharap
bahwa hidup kita akan berbuah; buah dari bertobat adalah beroleh keselamatan.
Mari kita bertobat dan berharap agar hidup kita berubah dan berbuah.
Mari kita hidup dalam semangat pertobatan, sebab kita tidak tahu kapan kita mati dan
bagaimana kita akan mati. Semangat pertobatan akan mengondisikan hati kita
untuk senantiasa siap-sedia menyambut Tuhan yang datang dalam kemuliaan Nya.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bagaimana semangat pertobatan
menemukan sumbernya.
Pertobatan dan penebusan dosa setiap hari menemukan sumber dan makanannya di dalam Ekaristi, karena di dalamnya kurban Kristus yang mendamaikan kita dengan Allah dihadirkan. Oleh Ekaristi
dikenyangkanlah dan dikuatkanlah orang yang hidup dari kehidupan Kristus.
Ialah “nurbisa, yang olehnya kita dibebaskan dari kesalahan sehari-hari dan
dilindungi dari dosa berat” (Konsili Trente: DS 1638) [Katekismus Gereja Katolik,
No. 1436]. Oleh sebab itu, dijiwai oleh Ekaristi, mari kita bertobat dan berharap
agar hidup kita berubah dan berbuah keselamatan, bukan kebinasaan. [RP. A.
Ari Pawarta, O.Carm.]
Doa Penutup: Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau sabar menantikan kami
yang sering lambat untuk berubah. Ampunilah kami atas kekerasan hati dan
kelalaian kami dalam berbuat baik. Seperti penggarap yang memelihara pohon
ara, rawatlah hati kami agar subur oleh kasih dan berbuah dalam perbuatan
nyata. Berilah kami keberanian untuk bertobat setiap hari dan kesetiaan untuk
hidup menurut kehendak-Mu. Jadikanlah kami pohon yang menghasilkan buah
kasih, kedamaian, dan keadilan di dunia ini. Kami serahkan hidup kami ke dalam
tangan-Mu, kini dan selamanya. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Sabtu. Selamat berakhir pesan.... Salam
doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama
Bapa dan Putera dan Roh Kudus....Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).
Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News