Sabtu, 25 April 2026

Renunga Katolik Hari Ini

Renungan Katolik Hari Ini Sabtu 25 Oktober 2025, Bertobat dan Berharap

Mari simak renungan Katolik hari ini Sabtu 25 Oktober 2025. Tema renungan Katolik hari ini bertobat dan berharap.

Tayang:
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
zoom-inlihat foto Renungan Katolik Hari Ini Sabtu 25 Oktober 2025, Bertobat dan Berharap
TRIBUNFLORES.COM / GG
PATER JOHN LEWAR SVD - Sosok Pater John Lewar, SVD.Mari simak renungan Katolik hari ini Sabtu 25 Oktober 2025. Tema renungan Katolik hari ini bertobat dan berharap. 

Maka berkatalah ia kepada pengurus kebun anggur itu,’Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara itu namun tidak pernah menemukannya. Sebab itu tebanglah pohon ini. Untuk apa pohon itu hidup di tanah ini dengan percuma?’

Pengurus kebun anggur itu menjawab, ‘Tuan, biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah’!”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik 

Menguak tragedi masa lalu bisa menginspirasi manusia masa kini bagaimana ia 
telah hidup. Selain itu, menguak tragedi masa lalu juga bisa menginspirasi 
manusia masa kini bagaimana seharusnya ia hidup. Intinya, sebuah tragedi bisa 
menjadi bahan refleksi diri.

Seperti dalam Injil hari ini, Yesus menguak tragedi orang-orang Galilea yang 
dibunuh Pilatus, sehingga darah mereka tercampur dengan darah kurban yang 
mereka persembahkan. Kata Yesus, Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih 
besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka 
mengalami nasib ini? Tidak, kata-Ku kepadamu (Luk 13:2-3a). Yesus menguak 
tragedi lain, Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara 
dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada semua orang lain yang tinggal 
di Yerusalem? Tidak, kata-Ku kepadamu (ay. 4-5a).

Saya mau menambahkan satu lagi, Atau sangkamu, keseratus tiga puluh tiga 
orang yang mati dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, 
pada 1 Oktober 2022 lalu, lebih besar kesalahannya daripada semua orang 
Malang yang lain, karena mereka mengalami nasib ini? Orang-orang Yahudi 
berpendapat bahwa orang-orang Galilea yang mati di tangan Pilatus atau 18 
orang yang mati ditimpa menara Siloam, di pinggiran wilayah Yerusalem, adalah 
akibat dosa mereka yang mati ini, bukan karena dosa mereka yang masih hidup. 
Itulah sebabnya, Yesus mengingatkan mereka, Tetapi jikalau kalian tidak 
bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian (ay. 3b dan 5b).
Saya berharap tidak ada pikiran orang-orang Yahudi yang merasuk dalam diri 
orang-orang di Malang atau di kota lain yang berpendapat bahwa kematian 133 
orang di Malang, dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, karena dosa mereka. 

Sama sekali tidak. Dosa memang bisa membawa kematian. Sengat dosa adalah 
maut, kata Rasul Paulus dalam 1Kor 15:56. Namun, tidak ada hubungan antara 
malapetaka atau tragedi kematian dan dosa manusia. Malapetaka atau tragedi 
yang berakibat orang mati bisa menimpa siapa saja, baik yang sedang dalam 
keadaan dosa berat atau dosa ringan. Tragedi bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Inti dari dua tragedi yang disebut Yesus dan satu tragedi yang saya tambahkan 
mau mengatakan bahwa setiap bentuk malapetaka atau tragedi yang dapat dan 
memang dialami oleh manusia, siapa saja, di mana saja dan kapan saja, 
merupakan suatu peringatan abadi akan perlunya bahkan bukan hanya perlu 
tetapi pentingnya bertobat. Sebab kematian bisa terjadi tiba-tiba tanpa orang 
punya waktu untuk mempersiapkan diri.

Saudara-saudari, umat beriman, Yesus menekankan pentingnya bertobat. 
Sebab, Ia yakin, bahwa setiap orang, tanpa kecuali, berdosa. Sehingga, setiap 
orang, tanpa kecuali, harus terus-menerus berobat sebelum mati. Kematian bisa 
menimpa siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Pertobatan yang Yesus serukan kepada orang-orang Yahudi pada waktu itu 
adalah menerima Yesus dan percaya kepada-Nya dan justru inilah yang tidak 
dilakukan oleh orang-orang Yahudi waktu itu. Namun, karena Allah itu kasih 
(1Yoh 4:8.16b) dan kasih itu sabar (1Kor 13:4), maka orang-orang Yahudi 
masih diberi kesempatan untuk bertumbuh dan menghasilkan buah pertobatan, 
lewat perumpamaan pohon ara (ay. 6-9).

Lantas bagaimana relevansinya bagi kita yang sudah menerima Yesus dan 
percaya kepada-Nya? Kita pun adalah orang-orang berdosa yang juga perlu 
bertobat. Bertobat juga berarti mau menerima Yesus serta percaya kepada-Nya 
sepenuhnya dan seutuhnya dalam seluruh hidup kita. Kita mau hidup tetap di 
dalam Dia. Kita mau berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (Kol 2:6-7). 
Oleh karena itu, jika kita bertobat dalam semangat ini, maka kita boleh berharap 
bahwa hidup kita akan berbuah; buah dari bertobat adalah beroleh keselamatan.
Mari kita bertobat dan berharap agar hidup kita berubah dan berbuah.

Mari kita hidup dalam semangat pertobatan, sebab kita tidak tahu kapan kita mati dan 
bagaimana kita akan mati. Semangat pertobatan akan mengondisikan hati kita 
untuk senantiasa siap-sedia menyambut Tuhan yang datang dalam kemuliaan Nya.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bagaimana semangat pertobatan 
menemukan sumbernya.

Pertobatan dan penebusan dosa setiap hari menemukan sumber dan makanannya di dalam Ekaristi, karena di dalamnya kurban Kristus yang mendamaikan kita dengan Allah dihadirkan. Oleh Ekaristi 
dikenyangkanlah dan dikuatkanlah orang yang hidup dari kehidupan Kristus. 
Ialah “nurbisa, yang olehnya kita dibebaskan dari kesalahan sehari-hari dan 
dilindungi dari dosa berat” (Konsili Trente: DS 1638) [Katekismus Gereja Katolik, 
No. 1436]. Oleh sebab itu, dijiwai oleh Ekaristi, mari kita bertobat dan berharap 
agar hidup kita berubah dan berbuah keselamatan, bukan kebinasaan. [RP. A. 
Ari Pawarta, O.Carm.]

Doa Penutup: Tuhan Yesus yang penuh kasih, Engkau sabar menantikan kami 
yang sering lambat untuk berubah. Ampunilah kami atas kekerasan hati dan 
kelalaian kami dalam berbuat baik. Seperti penggarap yang memelihara pohon 
ara, rawatlah hati kami agar subur oleh kasih dan berbuah dalam perbuatan 
nyata. Berilah kami keberanian untuk bertobat setiap hari dan kesetiaan untuk 
hidup menurut kehendak-Mu. Jadikanlah kami pohon yang menghasilkan buah 
kasih, kedamaian, dan keadilan di dunia ini. Kami serahkan hidup kami ke dalam 
tangan-Mu, kini dan selamanya. Amin.

Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Sabtu. Selamat berakhir pesan.... Salam 
doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama 
Bapa dan Putera dan Roh Kudus....Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved