Kamis, 16 April 2026

Sejarah Gereja Katolik

Sejarah Singkat Berdirinya Gereja Katedral Keuskupan Atambua

Gereja ini menjadi jantung Keuskupan Atambua sekaligus saksi sejarah panjang kehadiran Gereja Katolik di Timor bagian barat sejak masa kolonial

Tayang:
Penulis: Nofri Fuka | Editor: Nofri Fuka
zoom-inlihat foto Sejarah Singkat Berdirinya Gereja Katedral Keuskupan Atambua
Tribunnews.com/TRIBUNFLORES.COM/NOFRI FUKA
Gereja Katedral Atambua di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. 

TRIBUNFLORES.COM, ATAMBUA – Gereja Katedral Santa Maria Bunda Allah Atambua di Kabupaten Belu merupakan pusat kehidupan rohani umat Katolik di wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur. 

Gereja ini menjadi jantung Keuskupan Atambua sekaligus saksi sejarah panjang kehadiran Gereja Katolik di Timor bagian barat sejak masa kolonial Belanda hingga era modern.

Melansir berbagai sumber, sejarah Gereja Katedral Atambua tidak dapat dilepaskan dari perkembangan misi Katolik di Pulau Timor. 

Penyebaran iman Katolik di wilayah ini telah berlangsung jauh sebelum Atambua ditetapkan sebagai keuskupan, ketika masih berada di bawah administrasi Vikariat Apostolik Timor dan Sunda Kecil. Seiring bertambahnya jumlah umat dan berkembangnya pelayanan pastoral, wilayah ini kemudian mengalami peningkatan status gerejawi.

 

Baca juga: Profil Gereja Katolik Santa Theresia Kefamenanu TTU, Saksi Sejarah Iman di Jantung Kota

 

 

Keuskupan Atambua resmi berdiri pada tahun 1937. Sejak saat itu, Gereja Santa Maria Bunda Allah ditetapkan sebagai gereja katedral, yakni gereja yang menjadi tempat kedudukan uskup dengan simbol kursi uskup atau cathedra. Penetapan ini menjadikan Katedral Atambua sebagai gereja induk dan pusat administrasi serta spiritual Keuskupan Atambua.

Sebagai kota dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, Atambua dikenal sebagai salah satu basis Katolik terkuat di Indonesia. Sekitar 95 persen penduduknya menganut agama Katolik. Wilayah Keuskupan Atambua sendiri meliputi Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dengan luas wilayah sekitar 5.200 kilometer persegi dan jumlah penduduk sekitar 650 ribu jiwa berdasarkan data tahun 2008.

Selain sebagai pusat keuskupan, Kota Atambua juga memiliki peran penting dalam sejarah sosial Indonesia. Pada tahun 1999, kota ini menjadi salah satu pusat penampungan pengungsi dari Timor Timur pascareferendum. Hingga kini, Atambua tetap berkembang sebagai kota perbatasan yang strategis, baik secara sosial, budaya, maupun keagamaan.

Secara geografis, Kota Atambua terletak di wilayah Timor Barat pada ketinggian sekitar 350 meter di atas permukaan laut, dengan suhu berkisar antara 27 hingga 37 derajat Celsius. Kota ini dikelilingi perbukitan yang membuatnya relatif terlindungi dari bencana alam besar seperti banjir, tsunami, maupun tanah longsor. Luas wilayah Kota Atambua mencapai sekitar 56,18 kilometer persegi, terbagi dalam tiga kecamatan dan 12 kelurahan.

Nama Atambua sendiri memiliki makna historis. Kata “Ata” berarti hamba, sedangkan “Buan” berarti suanggi. Dalam sejarah lisan masyarakat setempat, Atambua diartikan sebagai tempat pembuangan para suanggi pada masa kerajaan dahulu. Dalam perkembangan bahasa, kata Atabuan kemudian mengalami perubahan fonem menjadi Atambua seperti yang dikenal saat ini.

Keberadaan Gereja Katedral Santa Maria Bunda Allah Atambua tidak hanya menjadi simbol iman, tetapi juga identitas budaya dan sejarah umat Katolik di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste. 

Meski demikian, data spesifik mengenai tahun pembangunan fisik bangunan katedral masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip resmi Keuskupan Atambua.

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved