Renungan Katolik Hari Ini
Renungan Katolik Rabu 22 April 2026, Bukan Hanya Soal Urusan Perut
Mari simak renungan Katolik Rabu 22 April 2026. Tema renungan katolik "bukan hanya soal urusan perut".
Penulis: Gordy | Editor: Gordy Donovan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/PATER-JOHN-Pater-John-Lewar-SVD.jpg)
Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia:
Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia,
yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri.
Injil Katolik: Yohanes 6:35–40
“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku sendiri, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
Renungan Harian Katolik
"Bukan Hanya Soal Urusan Perut"
Sabda Tuhan hari ini membawa kita pada dua kenyataan hidup yang sangat kontras: penderitaan dan harapan. Dalam Kisah Rasul (8:1b-8) dikisahkan bahwa Gereja perdana mengalami penganiayaan.
Ada ketakutan, kehilangan, bahkan kematian seperti yang dialami Stefanus. Saulus menjadi simbol dari kebencian yang membabi buta. Secara manusiawi, ini situasi yang membuat orang ingin mundur, diam, atau bahkan menyerah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang tercerai-berai tidak berhenti percaya. Mereka tidak menyimpan iman hanya untuk diri sendiri.
Dalam ketakutan, mereka tetap mewartakan Injil. Artinya, iman mereka bukan sekadar kenyamanan, tetapi kekuatan yang hidup. Dan hasilnya nyata: kehadiran Filipus membawa kesembuhan, pembebasan, dan sukacita besar di Samaria.
Di sinilah kita mulai melihat makna yang sangat relevan bagi hidup kita sekarang. Tidak semua penderitaan menghancurkan. Ada penderitaan yang justru memurnikan dan menggerakkan.
Kadang hidup kita juga seperti tersebar: rencana gagal, relasi retak, pekerjaan tidak sesuai harapan. Tetapi justru di situlah Tuhan membuka jalan baru, jika kita tetap berjalan bersama-Nya.
Dalam Injil Yohanes 6:35, Yesus Kristus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi...” Pernyataan ini muncul setelah orang banyak mengikuti-Nya karena mujizat roti. Mereka datang karena perut mereka kenyang, bukan karena hati mereka haus akan kebenaran.
Sering kali kita juga demikian. Kita datang kepada Tuhan hanya saat butuh: butuh rezeki, butuh pertolongan, butuh jalan keluar. Fokus kita berhenti pada urusan perut‖, hal-hal jasmani dan sementara.